Jatim Tepat Untuk Kembangkan Industri Jasa Keuangan

26 Feb 2016
165 times
Gubernur Jatim Soekarwo membuka pertemuan tahunan 2016 pelaku industri jasa keuangan Gubernur Jatim Soekarwo membuka pertemuan tahunan 2016 pelaku industri jasa keuangan Foto : Ayis

Apakabar.co.id - Jatim merupakan provinsi yang tepat untuk mengembangkan industri jasa keuangan. Hal tersebut bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi dan kondisi makro ekonomi Jatim yang setiap tahunnya mengalami peningkatan. Bahkan, pertumbuhan ekonomi Jatim selalu diatas rata-rata nasional.

Gubernur Jatim, Soekarwo mengatakan, tahun 2015 pertumbuhan ekonomi Jatim sebesar 5,44 persen, sedangkan nasional 4,79 persen. Hal yang tidak kalah hebatnya adalah share Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim terhadap nasional pada tahun 2015 sebesar 14,64 persen. PDRB Jatim sebesar 1.689,88 triliun, sedangkan nasional Rp. 11.540,80 triliun.

Kinerja perdagangan Jatim juga sangat bagus. Nilai ekspor luar negeri (non migas) tanpa jasa pada tahun 2015 surplus sebesar US$ 846,461 Juta. “Dengan capaian yang bagus seperti itu Jatim layak untuk menjadi destinasi dalam mengembangkan industri jasa keuangan. Pada tahun 2016 saat yang tepat untuk berinvestasi di Jatim,” jelas Pakde Karwo.

Salah satu sektor yang bisa menjadi pengembang industri jasa keuangan adalah industri pengolahan yang memberikan sumbangan terbesar bagi PDRB Jatim yakni sebesar 29,27 persen. Namun industri pengolahan masih memerlukan sentuhan dan dukungan dari industri jasa keuangan.

”Pada tahun 2016, Jatim juga mendeklarasikan sebagai provinsi industri. Hal itu, menjadi saat yang baik bagi industri jasa keuangan untuk berperan dalam industri pengolahan. Syarat utamanya adalah memiliki suku bunga yang murah pasti bisa menjadi pemenang. Apabila tetap dengan bunga yang tinggi maka hal itu disebut deindustrialisasi. Semoga industri jasa keuangan bisa memperkuat konsep Jatim tersebut,” ujarnya.

Industri jasa keuangan juga bisa masuk di kalangan petani dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan). Pemprov Jatim telah mengumpulkan Gapoktan se-Jatim mengenai kerjasama antara Bulog dan Gapoktan untuk memberikan kredit. Dengan demikian maka pembeli akan jelas yakni bulog sedangkan produsennya adalah Gapoktan.

“Industri jasa keuangan bisa menjadi tempat yang bagus dalam memberikan insurance bagi Gapoktan. Ini memerlukan keberanian karena memiliki potensi high risk akan tetapi juga bisa memberikan high return. Apabila dilewatkan akan membuang peluang yang besar,” ucapnya.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan, Nelson Tampubolon menuturkan, perlambatan ekonomi domestik dan global berimbas pada penurunan kinerja industri keuangan. Akan tetapi, pada tahun 2015 telah mampu dilewati dengan tingkat ketahanan ekonomi dan industri jasa keuangan yang baik. “Keberhasilan yang dicapai pada tahun 2015 tidak lepas dari berbagai upaya dan sinergi yang dilakukan pemerintah, otoritas, dan industri dalam memitigasi berbagai resiko yang dihadapi,” ucapnya.

Pada tahun 2016, OJK telah mengeluarkan rangkaian paket kebijakan yang fokus pada peningkatan pendanaan lembaga jasa keuangan (LJK) untuk UMKM dan pembiayaan perumaha. Selain itu, OJK juga mengeluarkan beberapa kebijakan guna merespon gejolak yang terjadi di pasar keuangan terutama untuk mengembalikan kepercayaan pelaku pasar.

Kepala Regional 3 OJK, Sukamto menyampaikan selama tahun 2015, perekonomian dan industri keuangan di Jatim mencatatkan kinerja positif. Ekonomi Jatim mampu tumbuh sebesar 5,44 persen melebihi pertumbuhan ekonomi nasional yang tercatat sebesar 4,79 persen dengan kontribusi output ekonomi Jatim terhadap output ekonomi nasional mencapai 14,83 persen. “Perkembangan kinerja perbankan di Jatim dinilai masih mampu tumbuh ditengah perlambatan ekonomi global,” jelasnya. (yis)

Rate this item
(0 votes)