Merampas Motor Nasabah Secara Halus Ala FIF Grup

08 May 2017
327 times
Kantor FIF Grup Kantor FIF Grup Foto : Wahyudiono

Apakabar.co.id (Surabaya) - Gufron, pemuda lajang yang tinggal di kawasan Gadel Kelurahan Karangpoh bernasib sial. Pasalnya, ia dibujuk rayu oleh debt kolektor FIF grup cabang Ngesong untuk menyerahkan sepeda motor matic honda beat miliknya di tengah jalan.

 

Kepada Apakabar.co.id Gufron mengaku, ia telah meminjam dana sebesar Rp. 7 juta kepada FIF grup cabang Ngesong.

"Angsuran pertama sudah saya bayar. Angsuran kedua, ketiga dan keempat belum saya bayar. Tetapi saya dengan bagian penagihan yang berinisial Jo sudah sepakat segera dilunasi tanggal 1 mei kemarin," akunya.

"Namun, karena tanggal 1 adalah tanggal merah, maka saya tunda pelunasan pada esok harinya yakni tanggal 2 mei. Ketika hendak mengambil uang di ATM itulah di tengah jalan ada debt kolektor yang diduga bernama M Shaleh membujuk saya agar menyerahkan sepeda motor di kantor dengan alasan untuk pemeriksaan nomor rangka," lanjut Gufron.

Gufron setelah itu baru sadar jika motornya telah dirampas secara halus oleh pihak FIF grup Ngesong. "Saya harus melunasi terlebih dahulu sebesar Rp. 11.600.655,- jika ingin sepda motor saya keluar," ungkapnya.

Joko selaku karyawan FIF grup Ngesong ketika dikonfirmasi Apakabar.co.id membenarkan bahwa Gufron harus melunasi sebanyak itu dengan rincian, Rp. 9.843.000,- angsuran, Rp. 257.655,- adalah denda dan biaya ramedial sebesar Rp. 1.500.000,-, jadi total Rp. 11.600.655,-.

"Biaya ramedial adalah biaya tembus unit. Ini sudah kebijakan pusat dan saya tidak bisa menolong, kecuali harus membayar semua. Semua di perjanjian sudah ada dan sudah ditandatangani Gufron," beber Joko.

Pria berkumis ini tetap tidak menyanggupi permintaan Gufron yang akan melunasi 3 bulan angsuran, tetapi hanya mampu memberikan keringanan pembayaran.

"Saya tidak berani memberikan keputusan pengajuan keringanan itu. Semua menunggu apakah disetujui oleh pusat," tandasnya, beberapa hari lalu.

Sementara itu Fredy Hartono, seorang anggota Advokat Peradi yang juga tergabung salahsatu LBH ini mengatakan siap membantu Gufron jika memang dibutuhkan.

"Mestinya pengambilan unit ini harus melalui kurator yang ditunjuk oleh pengadilan, bukan debt kolektor. Hal ini sering terjadi pada masyarakat awam dan tidak boleh dibiarkan. Jika ini dipermasalahkan, maka FIF akan fatal," tegasnya. (Ono)

Rate this item
(0 votes)