DLH Jatim Ajak Lima Bakorwil Bina dan Awasi Sekolah Adiwiyata

08 Nov 2017
72 times
Apakabar.co.id (Malang) - Program Adiwiyata atau sekolah peduli dan berbudaya lingkungan yang dilaksanakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jatim kini terus dilaksanakan. Dalam proses evaluasi program dari Bidang Penaatan Lingkungan tersebut, DLH Jatim kini mulai menggandeng lima bakorwil atau baperwil (Badan Perwakilan Wilayah) Provinsi Jatim untuk ikut membantu membina dan mengawasi sekolah Adiwiyata.
 
"Bakorwil (Baperwil, red) bisa ikut membantu mengembangkan program Adiwiyata lebih luas lagi. Segala aspek masuk di sana dan lintas sektor dalam ranah pendidikan sekolah. Keterlibatan ini dalam hal pembinaan dan pengawasan. Ada lima bakorwil yang membawahi beberapa kab/kota dan sekolah," kata Kepala DLH Jatim, Dyah Susilowati di Malang, Rabu (8/11) siang.
 
Ia menjelaskan, bentuk kerjasama dengan baperwil tersebut dalam bentuk pembinaan dan kontrol pengawasan. "Dengan bantuan baperwil ini maka tiap kab/kota bisa berlomba memotivasi meningkatkan warga sekolah menciptakan gerakan di sekolah dalam mengendalikan pencemaran serta kerusakan lingkungan," jelas wanita berjilbab tersebut.
 
Diharapkannya program Adiwiyata ini bisa terus sustainable atau berkelanjutan. Untuk itu, pihaknya menghadirkan narasumber dari pemerintah pusat untuk bisa berbagi ilmu pada pihak Baperwil di Jatim untuk bersama-sama mencari celah dan strategi agar sekolah lebih berkembang lagi.
 
Pasalnya, kata dia, saat ini Sekolah Adiwiyata Mandiri baru dua persen saja. "Yang status Mandiri baru 2 persen. Dari 40 ribu lebih sekolah yang dapat adiwiyata Mandiri 157 sekolah dari 365 sekolah Adiwiyata," tuturnya.
 
Dyah menuturkan, program Adiwiyata telah diatur dalam Permen LH No 5 Tahun 2013 terkait pedoman pelaksanaannya. Menurutnya, Jatim sudah mendapatkan penghargaan cukup besar dan ia berharap ada dampak perubahan perilaku ramah lingkungan dari anak didik di sekolah.
 
Bagi sekolah Adiiyata yang belum mandiri, lanjutnya, kini diimbaunya untuk bisa meraih dan mengejar penghargaan tertinggi yakni Adiwiyata Mandiri. "Yang mandiri ini sudah mampu menerapkan program. Banyak aspek peniliannnya dari tim juri independen termasuk kurikulum, guru, dan murid. Juga termasuk gerakan dan inovasi sekolah," ujarnya.
 

Ia memisalkan pengembangan program 3R (reuse, reduce, recycle) hingga penghematan energi dan air. "Kuncinya adalah mengubah perilaku dan hati nurani para murid dan guru," tukasnya. (maa)

Rate this item
(0 votes)