BP Batam Belajar Olah Eceng Gondok Pada PJT I dan LSM KLH

02 Feb 2018
204 times
Perwakilan BP Brantas bersama Tim dari PJT I, LSM KLH, garda Lingkungan dan ibu PKK Kelurahan Karah Surabaya saat di Omah Sampah Surabaya.  Perwakilan BP Brantas bersama Tim dari PJT I, LSM KLH, garda Lingkungan dan ibu PKK Kelurahan Karah Surabaya saat di Omah Sampah Surabaya. Foto : MAA

Apakabar.co.id (Surabaya) – Salah satu persoalan sungai dan waduk yang kerap dihadapi oleh institusi pengelola Sumber Daya Air, yakni eceng gondok. Tanaman yang dapat tumbuh subur di air dengan kualitas rendah itu kerap dianggap gulma. Namun hal bagi Perum Jasa Tirta (PJT) I dan LSM Konsorsium Lingkungan Hidup (KLH), eceng gondok dapat menjadi berkah.

Hal itu melatarbelakangi Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam) untuk belajar cara mengolah eceng gondok. Perwakilan BP Batam yang dipimpin Kepala Kantor Pengelolaan Air dan Limbah BP Batam, Binsar Tambunan berkunjung ke Surabaya di kantor DJA II PJT I di Surabaya dan Omah Sampah Surabaya yang dikelola LSM KLH.

“Persoalan eceng gondok ini masih belum terselesaikan di wilayah kami (Batam). Dari luas 1.000 hektare dari tujuh waduk kami, hampir 200 hektare ditumbuhi eceng gondok. Kami membutuhkan solusinya. Untuk itu kami belajar pada PJT I dan KLH tentang cara pengolahan eceng gondok agar bisa bermanfaat,” jelas Binsar saat dikonfirmasi, Jumat (2/2).

Ia mengaku kagum dan mendapatkan banyak pengetahuan terkait tanaman eceng gondok usai berkunjung ke Surabaya. “Ternyata eceng gondok di sini (Surabaya) bisa diolah jadi pupuk cair, pupuk padat, dan juga untuk pakan ternak. Kami ingin belajar dan tahun ini juga kami akan coba terapkan di Batam,” tuturnya.

Untuk mengawali penerapan pengolahan eceng gondok di Batam, pihaknya berencana mengundang perwakilan dari KLH untuk bisa mendampingi proses pengolahan di Batam. Untuk kerjasama selanjutnya, Binsar mengaku akan coba melibatkan LSM di wilayah Batam dan juga masyarakat untuk bisa terlibat mengolah eceng gondok menjadi pupuk ataupun pakan ternak.

Kepala Divisi Jasa ASA II WS Brantas PJT I, Viari Djajasinga mengatakan, pengolahan eceng gondok dilakukan PJT I di wilayah hulu hingga hilir Sungai Brantas. Namun ia menekankan , pengolahan harus menyesuaikan dengan demand atau permintaan dari warga sekitar.

“Kalau di wilayah hulu Brantas seperti di Selorejo Malang, eceng gondok diolah jadi pakan ternak. Kalau jadi pupuk, warga tidak berminat. Di wilayah hilir seperti di Surabaya, demand warga butuh pupuk untuk tanaman, karena di wilayah Kecamatan Jambangan jadi kampung hijau,” jelasnya.

Direktur KLH, Imam Rochani menjelaskan, eceng gondok merupakan emas yang tersembunyi. “Banyak orang menganggap eceng gondok itu gulma tapi sebenarnya eceng gondok banyak manfaatnya. Bisa menjadi obat sakit kulit, pakan ternak, dan juga pupuk kompos. Kami sudah melakukan pengolahan itu dengan melibatkan Garda Lingkungan,” kata Imam.

Untuk pengolahan pupuk eceng gondok dalam bentuk padat atau granul membutuhkan waktu sekitar 15 hari. Namun untuk membuat pupuk cair, kata dia butuh waktu lebih lama sekitar 23 hari. Setalah pupuk eceng gondok selesai diproduksi, pihaknya meilbatkan ibu PKK dalam hal pengemasan dan melibatkan kader lingkungan untuk pemasaran.

Namun untuk saat itu, pupuk eceng gondok hasil produksi kerjasama PJT I dan KLH itu dibagikan pada warga secara cuma-cuma. “Kami tidak menjual tapi membagikan gratis pupuk eceng gondok pada warga,” tukasnya. (maa)

Rate this item
(0 votes)