Ini Rahasia Kantor DPRD dan Balai Kota Surabaya Tak Pernah Banjir

22 Mar 2018
60 times
Suprapto saat memberikan penjelasan pada warga Karangpilang Suprapto saat memberikan penjelasan pada warga Karangpilang Foto : Wahyudiono

Apakabar.co.id (Surabaya) - "Pengendalian banjir di daerah aliran sungai (DAS) Brantas dilakukan dengan prinsip pengendalian secara terpadu," terang Suprapto, Pengawas Kali Surabaya dari Perum Jasa Tirta (PJT) I. Menurutnya, pengendalian dimulai dari hulu dengan mengoperasikan waduk-waduk untuk pengendalian banjir.

"Waduk di DAS Brantas yang mempunyai kemampuan untuk menampung limpahan air (banjir) adalah waduk dengan operasi tahunan seperti bendungan Sutami, Lahor, Selorejo, Wonorejo dan Bendungan Bening," paparnya.

Air yang melimpas dari waduk, lanjutnya, dialirkan melalui pelimpah waduk, dengan mengatur distribusinya. Diterangkan Supraoto, pengaturan tinggi muka air dan debit yang mengalir di sungai, akibat pembendungan dilakukan di bagian tengah.

Dengan mengatur operasi pintu air di bendungan secara berantai atau berurutan, mulai bendungan Wlingi dan Ledoyo, trus ke hilir menuju bendungan Gerak Mrican, Karet Jatim Lerek, Karet Menturus hingga berakhir bendung Lengkong Baru.

"Apabila kapasitas aliran di bagian tengah tidak memungkinkan untuk melewatkan seluruh banjir, maka volume banjir akan tertahan sementara di daerah tampungan tertentu (retarding basin)," tandasnya.

Di hilir, masih Suprato, aliran banjir di sungai Brantas dilewatkan flood way (saluran yang berfungsi khusus untuk mengurangi beban volume banjir, sehingga suatu daerah tidak perlu menerima resiko luapan air) melalui Kali Porong. Ditambahkannya, Kali Porong menuju laut dengan pengoperasian bendung Lengkong Baru dan apabila debit kali Surabaya di stasiun Perning >100m3/detik, maka pintu air Mlirip yang mengarah ke Kali Surabaya ditutup.

"Sedangkan di Surabaya, banjir diupayakan untuk dialir ke laut melalui kali Wonokromo dengan pengoperasian pintu air Wonokromo untuk memisahkan aliran ke kali Mas dan pintu air Jagir untuk memisahkan aliran ke kali Wonokromo. Itulah mengapa kantor DPRD dan Pemkot Surabaya tidak pernah banjir," ucap Suprapto pada acara rembuk lingkungan beberapa hari lalu bersama anggota komisi C DPRD Surabaya dan warga Karangpilang. (ono)

Rate this item
(0 votes)