Plengsengan Pacet-Cangar Ambrol, Dinas PU Binamarga Jatim Ngaku Salah

05 Dec 2017
208 times
Pelngsengan yang ambrol di jalur Pacet-Cangar Pelngsengan yang ambrol di jalur Pacet-Cangar Foto : Mahendra

Kadis PU Binamarga Jatim Selayaknya Menindak Tegas Kontraktor    

Surabaya (Apakabar.co.id) – Mengutip pesan tegas Gubernur Jawa Timur Soekarwo saat melantik 1.444 pejabat eselon II dan III di lingkungan Pemprov Jatim yang menegaskan, jika pejabat baru nantinya tidak memiliki kinerja baik, maka akan langsung dicopot dari jabatannya.

"Para pejabat eselon ini harus memperhatikan soal kepedulian terhadap masyarakat lapisan bawah. Kepedulian ini harus menjadi program penting di masing-masing SKPD (satuan kerja perangkat daerah)," kata Gubernur Jatim di sela acara pengukuhan, pelantikan, dan serah terima jabatan pejabat pimpinan tinggi pratama administrator dan pengawas lingkungan Pemprov Jatim di Gedung Negara Grahadi, Selasa (27/12/2016).

Pakde Karwo juga tidak akan main-main dalam melakukan pengawasan kinerja jajarannya. "Saya akan cek dan awasi terus kinerjanya. Saya akan evaluasi setiap tahun. Apabila tidak baik, harus siap-siap diganti," tegasnya.

Terkait ambrolnya bangunan plensengan (pasangan batu) yang diselenggarakan oleh Dinas PU Binamarga Provinsi Jawa Timur (Jatim) di Link 160 (Pacet – Cangar), jelas mencoreng kinerja instansi ini. Bukan saja dana pemerintah yang musproh, namun kerugian atas waktu masa pengerjaan juga terjadi.

Meskipun masih tanggung jawab kontraktor pelaksana, dikhawatirkan upaya perbaikan terhadap kerusakan hasil pekerjaan tersebut, akan semakin menurunkan kwalitas/mutu yang diperbaiki, dan item pekerjaan lainnya. Bagaimana tidak, dimungkinkan kontraktor pelaksana akan melakukan pengerjaan dengan 'grusa grusu' dan tanpa perhitungan yang matang.

Dinas PU Binamarga Provinsi Jatim mengakui adanya kesalahan dalam pelaksanaannya. Ir. Gatot Sulistyo Hadi, MM, Kadis PU Binamarga Jatim melalui Ervan, Kasi Peningkatan Jalan Surabaya II sekaligus Pejabat Pembuat Komitmen (PPKom) kegiatan pekerjaan "Rekontruksi dan Pelebaran Jalan Batas Kota Batu (Jembatan Cangar II) – Pacet (Link 160)” tahun 2017 mengakui jika telah terjadi kesalahan dalam proses pelaksanaan pengerjaannya.

"Kami menyesalkan peristiwa ambrolnya plengsengan tersebut. Memang ada kesalahan dalam pelaksanaannya," kata Ervan kepada Apakabar.co.id saat ditemui, Rabu (29/11/2017).

Ervan menjelaskan, jika bangunan pasangan batu tersebut adalah plensengan bukanlah bangunan penahan maupun penguat tebing seperti yang ditulis Apakabar.co.id. "Itu plengsengan, mas. Bukan penahan maupun penguat tebing. Namun, walaupun plensengan tapi di desain sebagai penahan dinding tanah saja," jelasnya.

Menurut Ervan, terlambatnya penyediaan "U" Dicth Precast alias "U" Gutter oleh kontraktor pelaksana juga menjadi salah satu penyebab ambrolnya bangunan plengsengan yang baru rampung pada awal November lalu. "Mengapa ambrol ? Ya, karena "U" Gutter-nya sejauh ini belum terpasang. Ini karena pihak kontraktor pelaksana terlambat menyediakan dan memasang "U' Gutter-nya, mas," kata Ervan.

Secara teknis Ervan memaparkan, "U" Gutter yang boleh dikatakan box culvert mini ini, selain berfungsi untuk saluran air (drainase) juga sebagai penahan (penghimpit) pondasi bangunan pasangan batu bagian bawah dengan jalan. "Jika "U" Gutter terpasang, dimungkinkan tidak terjadi ambrol. Karena perangkat dari beton precast ini, selain sebagai saluran air (drainase) juga sebagai penahan atau penjepit anatara plengsengan pada bagian bawah dan jalan," paparnya.

Coba, sambung dia, mas lihat, bangunan plensengan dibagian lainnya yang sudah terpasang 'U' Gutter, masih dalam kondisi baik. "Lha, yang tidak ada 'U" Gutter-nya, ya ambrol," kata Ervan sembari tersenyum.

Penelusuran Apakabar.co.id sejak Agustus hingga Oktober lalu, sebagian bangunan plensengan dengan pasangan batu sudah rampung dikerjakan. Ketika itu, bangunan plensengan yang sudah berdiri terlihat di lokasi dari arah hutan Cangar (Batu) jalan turunan yang sering disebut turunan (tanjakan) gajah mungkur ke arah tikungan curam dan tajam dekat pertigaan desa Sendi, Pacet.

Selanjutnya hingga ke arah jalan turunan (tanjakan) menuju ke pertigaan Wisata Coban Waru dan Wisata Outbond & Rafting "Obech" serta tikungan tajam menuju ke Jembatan Utama Kali Kromong serta Jembatan (kecil) kedua Kali Kromong dekat Yayasan Bintang Kejora dan Wisata Pemancingan "Meru". Namun, ketika itu tidak ada terlihat bakal adanya pembangunan saluran air dengan "U" Gutter mendampingi plengsengan.

Jika rancangan dan skenario pembangunan plensengan tersebut sudah sesuai desain gambar yang disahkan, yakni terdapat bangunan pasangan batu sebagai plensengan dan saluran air (drainase) dengan menggunakan "U" Gutter, kenapa pengerjaannya tidak dilakukan secara bersamaan ? Hal inilah yang menjadi pertanyaan besar dan layak dipermasalahkan.

Melihat kondisi demikian, diduga kontraktor pelaksana yakni PT Linggar Jati terkesan memaksakan kehendak dan nekat melaksanakan pengerjaan pasangan batu untuk plensengan. Padahal, sesuai penjelasan Ervan, ketika itu bangunan plengsengan sudah rampung dikerjakan hingga bangunan yang digarapnya ambrol, pihak PT Linggar Jati belum bisa menyediakan dan memasang perangkat "U" Gutter.

Bukan hanya itu, muslihat keterlambatan pendatangan perangkat "U" Gutter yang dipersoalkan oleh PPKom juga sebagai bukti tidak profesionalnya PT Linggar Jati sebagai kontraktor pelaksana. Bagaimana tidak, sebelum terjadinya plengsengan ambrol secara besar-besaran, PT Linggar Jati telah menjajikan kepada PPKom untuk mendatangakan "U" Gutter dan segera memasangnya.

Namun, hingga waktu yang telah ditentukan, lagi-lagi janji PT Linggar Jati mbleset, dan "U" Gutter pun tak didatangkan. Padahal, menurut Ervan, pihak kontraktor sudah melakukan penggalian tanah sedalam kurang lebih 40 cm dengan lebar kurang lebih 40 cm dibeberapa titik lokasi bakal dipasang "U" Gutter.

Memang dapat dilihat setidaknya terdapat 4 titik lokasi yang mengalami kerusakan parah. Namun, jika dicermati sepanjang bangunan plengsengan, sudah banyak terdapat keretakan disetiap bagian ruas bangunannya yang berpotensi terjadinya ambrol susulan.

Sayangnya, meskipun mengakui adanya potensi itu, Ervan tetap mengelak jika keretakan yang terjadi pada bangunan dianggap sebagai jeleknya kwalitas bangunan dan akan jadi penyebab ambrolnya bangunan tersebut. "Ya, jika ada keretakan pada ruas bangunan pasangan batu bisa jadi potensi ambrolnya bangunan. Tapi itu hanya retak rambut, masih bisa dibenahi, mas. Meskipun bangunan baru atau lama, tidak ada bangunan tidak memiliki keretakan pada permukaannya, ya itu namanya retak rambut," kata Ervan dengan enteng.

Sejak ambrol pada tanggal 15 November lalu, dinas PU Binamarga Jatim telah konsentrasi mengatasi satu persatu perbaikan. Mulai dari titik lokasi ambrol di lahan Yayasan Bintang Kejora diutamakan oleh PPKom, hingga berlanjut ke lokasi depan wisata Coban Waru dan wisata Outbond & Rafting.

"Kami utamakan dulu dititik lokasi lahan Yayasan Bintang Kejora. Selain memang letaknya dekat sungai dan saluran air serta jembatan, perbaikan diprioritaskan karena apresiasi tinggi telah diberikan oleh pihak yayasan kepada kami (pemprov. jatim) untuk mendukung pembangunan yang dikerjakan, dengan menghibahkan sebagian lahannya untuk pelebaran jalan. Selanjutnya, kami akan melakukan perbaikan yang didepan jalan masuk wisata Coban Waru dan wisata Rafting," jlentrehnya.

Ervan menjelaskan, perbaikan ini harus segera dilakukan agar tidak bertambah parah. Dan, selain itu, kata Ervan, ini masih tanggung jawab kontraktor pelaksana. "Apalagi ini masih dalam masa pelaksanaan pekerjaan, kontaknya kan berakhir tanggal 20 desember mendatang. Jadi ya tanggung jawab mereka untuk memperbaiki," pungkasnya.

Melihat kondisi ambrolnya bangunan yang dikarenakan hanya hujan dengan intensitas tinggi, disinyalir bukan menjadi penyebab utama. Dengan tidak terpasangnya "U" Gutter juga bukan faktor utama penyebab ambrolnya bangunan plengsengan.

Tidak terdapatnya pondasi cor dengan slup tulangan besi pada bagian dasarnya dan tiap ruas dinding pasangan batu (turap) juga tidak diperkuat oleh cor slup (vertikal) atau dengan slup cakar ayam, diduga jadi penyebab. Selain itu, dugaan adanya pengurangan bahan PC dan material batu dan volume kedalaman galian untuk dasar pondasi bawah untuk dinding pasangan batu, bisa saja terjadi. Karena dengan terguyur hujan deras secara terus menerus saja, bangunan yang nampak kokoh tersebut, baru seumur jagung sudah hancur.

Sekian banyak penjelasan dari PPKom kegiatan pekerjaan ini, Apakabar.co.id mencium adanya permasalahan yang lain dari PT Linggar Jati. Tidak profesionalnya kinerja PT Linggar Jati dalam mengerjakan proyek pemprov Jatim ini, disinyalir ada masalah didalam tubuh perusahaan tersebut.

Apapun itu, terkait ambrolnya bangunan plensengan di Pacet-Cangar (Link 160), dan karena ini juga terkait keuangan negara seharusnya Dinas PU Binamarga Jatim memberi tindakan tegas dan "tanda hitam" kepada kontraktor pelaksana. Sayangnya, terkait hal itu, Ir. Gatot Sulistyo Hadi, MM selaku Kepala Dinas PU Binamarga Jatim belum bisa dikonfirmasi. (dra) -Bersambung-

Rate this item
(0 votes)