Pakar Geoteknik Pastikan Plengsengan Cangar-Pacet Ambrol Karena Salah Konstruksi

05 Dec 2017
132 times
Dr Ir Arif Rahmansyah dan lokasi plengsengan ambrol di jalur Cangar-Pacet Dr Ir Arif Rahmansyah dan lokasi plengsengan ambrol di jalur Cangar-Pacet Foto : Mahendra

Terkait Ambrolnya Bangunan Plensengan Pacet-Cangar (Link 160)    

Surabaya (Apakabar.co.id) – Terkait ambrolnya bangunan plensengan (pasangan batu) yang diselenggarakan oleh Dinas PU Binamarga Provinsi Jawa Timur (Jatim) di Link 160 (Pacet – Cangar), mendapat tanggapan keras dari pakar geotehnik Universitas Brawijaya (UB) Malang.

Dr.Ir.Arif Rahmansyah menyayangkan ambrolnya bangunan plensengan yang dikerjakan dari APBD Provinsi Jatim itu. Menurutnya, jelas selain mencoreng kinerja instansi ini, pemprov jatim telah mengalami berbagai macam kerugian.

Arif mengatakan, sebelum mengadakan kegiatan pekerjaan, sudah jelas ada perencanaan kajian dan teknis. "Jika bangunan tersebut sampai ambrol, lalu apa gunanya ada perencanaan dan kajian yang dilakukan sebelumnya," kata Arif, saat ditemui di Fakultas Tehnik Sipil, Universitas Brawijaya, Malang, Kamis (30/11/2017).

Yang menjadi pertanyaan Arif, kenapa hanya plensengan pasangan batu biasa, padahal jelas lokasi yang diberi bangunan adalah dinding bukit maupun tebing. "Jika melihat kondisi lokasi, lha wong itu tebing tanah yang tergolong curam, kenapa hanya di-plengseng dengan pasangan batu biasa," tanya Arif.

Seharusnya, sambung Arif, itu menggunakan beton untuk penahan tebingnya. "Karena jelas fungsinya untuk menahan tanah pada tebing mengalami penuruanan bahkan longsor," sergahnya.

Pernah dikatakan Ervan, PPKom Dinas PU Binamarga Jatim bersama konsultan kegiatan pekerjaan "Rekontruksi dan Pelebaran Jalan batas Kota Batu (Jembatan Cangar II) - Pacet (Link 160), jika lokasi dimana dibangun plensengan sekarang ini, tidak perlu bangunan penahan tebing dari beton karena bukan struktur tanah aktif. "Desain kami, tidak memerlukan bangunan penahan tebing dari beton, karena lokasi lahan bukan termasuk tanah aktif. Jadi cukup di plengseng saja," jelas Ervan diamini konsultan, Rabu (29/11/2017).

Namun, menurut Arif yang sudah malang melintang dalam dunia kajian dan pengujian geologi, jika counture tanah di kawasan tersebut adalah lunak dan unsur tanah lempung yang berlebih. "Saya tidak tahu apa itu istilah tanah aktif yang dipakai dinas. Tapi, yang jelas counture tanah dikawasan Pacet-Cangar adalah lunak walaupun masih ada kandungan pasir dan serpihan batu didalamnya. Dan, terbanyak unsur tanah lempung mendominasi," jlentrehnya.

Arif memaparkan, sifat tanah lempung lebih cenderung dapat menyimpan dan menampung air didalam tanah. "Nah, bayangkan jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi. Apa yang akan terjadi jika unsur tanah tersebut berlebihan dalam menyimpan dan menampung, pastinya ya akan terjadi luapan air didalam struktur bagian tanah," paparnya.

Diketahui, kawasan Pacet-Cangar merupakan kawasan rawan longsor. Jika dikaitkan dengan peristiwa bencana longsor yang sering terjadi di wilayah ini, dan merujuk penjelasan dari Dr. Arif Rahmansyah jelas nyata dan berdasarkan logika. Bukan hal yang khayal lagi, bila musim hujan, kawasan ini merupakan langganan tanah longsor.  

Seperti kata Ervan sebelumnya, secara teknis ambrolnya bangunan plensengan salah satunya dikarenakan belum terpasangnya perangkat saluran air yang akan dibangun. Belum terpasangnya "U" Gutter ini, selain berfungsi untuk saluran air (drainase) juga sebagai penahan (penghimpit) pondasi bangunan pasangan batu bagian bawah dengan jalan, juga menjadi penyebab ambrolnya bangunan plensengan.

"Jika "U" Gutter terpasang, dimungkinkan tidak terjadi ambrol. Karena perangkat dari beton precast ini, selain sebagai saluran air (drainase) juga sebagai penahan atau penjepit antara plengsengan pada bagian bawah dan jalan," jelas Ervan.

Dengan adanya penjelasan teknis dari PPKom dinas PU Binamarga Jatim tersebut, DR. Arif Rahmansyah meragukan hasilnya. "Kenapa harus berpikirnya untuk saat ini, kenapa tidak memikirkan jauh kedepan. Apakah "U" Gutter tersebut dapat menahan dinding plensengan jika terjadi longsoran untuk kurun waktu yang lama ? Kenapa tidak sekali membangun tapi fungsinya untuk jangka waktu yang lama, bahkan diharapkan bangunan tersebut awet," tanggapnya.

Mencermati beberapa bagian bangunan plensengan yang ambrol, Arif menegaskan jika itu akibat longsoran dengan tekanan cukup tinggi akibat hujan yang deras. "Jelas, itu karena longsor yang tinggi akibat hujan deras terus-menerus. Terlihat dari kondisi bangunan yang mungkin sudah ada keretakan, terbukti dari ruas dinding bangunan yang terbelah dan hancur," ungkapnya.

Menyikapi peristiwa ini, Arif menghimbau agar pembangunan dari rekontruksi dan pelebaran jalan Pacet-Cangar oleh Dinas PU Binamarga Jatim agar tidak dikerjakan secara seenaknya sendiri tanpa perhitungan yang matang. Bagian-bagian bangunan pendukung jalan yang dikerjakan, hendaknya dikerjakan dengan memahami kondisi alam dan lingkungan setempat.

"Meskipun tidak semua dibangun penahan tebing dengan beton, paling tidak Dinas PU Binamarga Jatim memprioritaskan pembangunan penahan tebing dengan beton dilokasi-lokasi tebing yang rawan longsor, dan titik-titik lokasi kritis atau termasuk jalur bahaya. Seperti turunan/tanjakan, tikungan tajam jalan, dan yang terpenting dekat dengan kawasan publik," ujarnya.

Jika, imbuhnya, memang dirasa anggaran tidak cukup, paling tidak walaupun dengan pasangan batu, plengsengan diperkuat dengan pondasi slup besi dan cor beton.

"Ya, paling tidak, tiap ruas bangunan pasangan batu sepanjang 3 meter terdapat slup cor beton yang terkait dengan pondasi cor bagian dasar bawah. Yang jelas, bangunan yang dibangun itu harus berfungsi dan mempunyai kekuatan sebagai penahan tebing," pungkasnya. * (dra)

Rate this item
(0 votes)