Kinerja Kantor Imigrasi Klas 1 Tanjung Perak Dinilai Tidak Sesuai SOP

07 Dec 2017
213 times
Suasana kantor Imigrasi  Kelas I Tanjung Perak Suasana kantor Imigrasi Kelas I Tanjung Perak Foto : Wahyudiono

Apakabar.co.id (Surabaya) - Adalah Muhlisin (38), warga Blega Madura ini mengaku kecewa dengan oknum pejabat Kantor Imigrasi klas 1 Tanjung Perak. Pasalnya, ia dituduh oleh oknum pejabat imigrasi telah memalsukan dokumen.

Menurut Muhlisin, kasus ini terjadi ketika ia hendak pergi umroh. "Keberangkatan saya dikerjakan oleh biro jasa perjalanan PT Cahaya Arafah Nusantara, termasuk untuk pengurusan paspor. Ketika ada kasus OTT, paspor saya dipending oleh pihak imigrasi karena dianggap ada dokumen palsu yaitu rekomendasi dari Departemen Agama Bangkalan," tururnya.

Lisin mengaku, dengan adanya kasus ini dia dituduh macam-macam oleh oknum pejabat imigrasi dan terancam diblack-list tidak boleh mengurus paspor lagi selamanya.

"Saya warga negara yang baik, dalam masalah ini hanya sebagai korban, tidak tahu menahu soal pemalsuan dokumen. Mestinya biro jasa perjalanan umroh dan oknum calo paspor yang ditindak. Kenapa saya yang diblack-list? Ini namanya tidak profesional serta merampas hak saya sebagai warga negara Indonesia," tegas Muhlisin.

"Saya sudah tanya kesalahan saya, dan sudah saya perbaiki. Tetapi hingga kini belum ada kejelasan dari pihak kantor imigrasi," sesalnya.

Kepala Kantor Imigrasi klas 1 Tanjung Perak Surabaya, Romi Yudianto berulangkali hendak dikonfirmasi apakabar.co.id, selalu gagal, lantaran sering tidak ada di tempat.

Begitu pula dengan Anton Sihombing selaku Wasdakim Kantor Imigrasi klas 1 Tanjung Perak, juga sering tidak ada di tempat dengan alasan tidak jelas.

Sementara Moch Faujan, selaku bagian umum mengatakan kepada apakabar.co.id bahwa masalah Muhlisin hanya menunggu kabar via telepon dari Kantor Depag Bangkalan. "Untuk lebih jelasnya silahan ke wasdakim, saya takut salah memberi komentar," elaknya.

Pejabat Kantor Depag Bangkalan, Wafir mengatakan bahwa soal pemohon atas nama Muhlisin justru menunggu kabar dari Kantor Imigrasi Perak. "Tidak benar jika ada rekom tertulis dari depag, tetapi harus menunggu lagi rekom via telepon, itu tidak ada dalam SOP," jelas Wafir. (ono)

Rate this item
(0 votes)