Viralnya Rumah Sakit Siti Khodijah, DPRD Jatim Bersuara

30 Jan 2018
148 times

Apakabar.co.id (Sidoarjo) - Viralnya video 'suster suntik mayat' yang dilakukan oleh Rumah Sakit Siti Khodijah, berujung pada masalah hukum. Pasalnya, keluarga pasien merasa dirugikan akhirnya buka suara serta menuntut rumah sakit bertanggung jawab karena tidak mengetahui pasien Supariyah (67) warga Sidoarjo telah meninggal tetapi tetap disuntik oleh susternya.

Hal ini diungkapkan Faisal Rizal (44) anak korban."Awalnya kejadian hari rabu (20/12/2017) ketika itu ibunda mengeluhkan sakit kepala dan oleh pihak keluarga dibawa ke Rumah Sakit Siti Khodijah, Taman, Sidoarjo pukul 05.30 Wib," terangnya.

"Lalu kemudian ibu saya ditangani di ruang IGD diberi suntikan saja 30 sampai 40 menit kemudian disuruh pulang," papar Faisal Rizal di rumahnya, Jalan Suningrat 19, Desa Ketegan Rt 9 Rw 2, Taman,Sidoarjo. "Ibunda mengeluarkan keringat dingin, sesampai di rumah muntah-muntah dan melihat kondisinya mengkhawatirkan, maka pihak keluarga memutuskan membawa kembali ke Rumah Sakit Siti Khodijah," lanjutnya.

"Saat tiba kembali di rumah sakit oleh pihak rumah sakit dinyatakan harus rawat inap dan ditangani oleh dokter Hamdan sama Zakaria ahli penyakit dalam. Kemudian disuntik dan diinfus mulai pukul 17.00 hingga 21.00 WIB, tidak satupun dokter yang memeriksa," terang Faisal.

Pagi harinya, Faisal berusaha menanyakan ke petugas piket mengenai jadual kedatangan dokter dan akhirnya pukul 12.30 Wib, dr Zakaria datang. Dari pemeriksaan saat itu, kata Faisal, kondisi kesehatan sang ibunda dikatakan normal, hanya terdapat masalah gangguan syaraf.

"Setelah dinyatakan ada gangguan syaraf, namun dari dokter ahli syaraf tidak kunjung memeriksa ibu kami, bahkan dokter Hamdan ahli syaraf juga tidak memeriksa. Diduga ibu kami ini diterlantarkan, padahal kondisinya sudah kritis," ucapnya.

Di tempat terpisah dr Benjamin Kristanto, MARS anggota DPRD Jawa Timur, sekaligus Ketua KESIRA Jatim, Sekjen FHI mengatakan ia turut prihatin atas pelayanan medis di rumah sakit yang diberitakan tersebut.

"Seharusnya dokter atau perawat yang ada di rumah sakit berkoordinasi kepada keluarga pasien untuk menyampaikan kondisi kesehatan pasien sesuai SOP. Karena kita ini sebagai tenaga medis memberikan pelayanan kepada manusia, layananilah mereka dengan Kasih. Perlakukan mereka sebagai human being, yang sudah semestinya mendapat pelayanan optimal, termasuk pemberian injeksi seharusnya ada penjelasan, atau inform consent untuk apa tujuan obat injeksi itu diberikan," tegas Anggota DPRD Jatim yang juga seorang dokter ini.

"Oleh karena itu, kita serahkan saja kepada pihak berwenang apakah yang disampaikan diberita itu benar adanya suatu kesalahan prosedural atau suatu hoax. Bila terjadi adanya malpraktik, kita serahkan kepada pihak kepolisian. Intinya layanilah pasien dengan kasih seperti kita melayani keluarga kita sendiri," pungkas dr Benjamin, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya. Sementara itu, pihak rumah sakit melalui kuasa hukumnya membantah semua pemberitaan tersebut dan menganggapnya sebagai hoax. (wie/lia)

Rate this item
(0 votes)