Head to Head Dafir dan Salwa Berpotensi Lahirkan Konflik Sosial

13 Nov 2017
459 times
KH Salwa Arifin VS H Achmad Dafir KH Salwa Arifin VS H Achmad Dafir

Apakabar.co.id (Bondowoso) - Kontribusi politik calon wakil Bupati yang akan mendampingi KH Salwa Arifin maupun H Achmad Dafir S.Ap memiliki andil yang cukup besar terhadap perolehan suara. Jika Dafir salah memilih wakil, maka tidak menutup kemungkinan ia akan digilas oleh kekuatan politik Salwa. Demikian pula sebaliknya, jika Salwa salah memilih calon wakil, ia juga akan digilas oleh kekuatan politik Ahmad Dafir. Demikian hal itu sebagaimana dikemukakan oleh Direktur LSM Jaka Jatim, Mathur Khusairi dalam diskusi politik di salah satu cafe di Bondowoso, pagi kemarin.

Menurut Mathur, baik calon Bupati maupun calon wakil Bupati itu akan melahirkan kekuatan kolaboratif. Jika Salwa berkolaborasi dengan PDIP, maka akan lahir kolaborasi santri dan nasionalis. Sebaliknya, jika Dafir berkolaborasi dengan Golkar, maka akan melahirkan kolaborasi yang seimbang.

Mathur mengemukakan, secara personal, modal politik yang dibawa oleh Salwa Arifin dan Achmad Dafir yang dipastikan akan bertarung dalam perhelatan Pilkada sama sama kuat yakni berasal dari masyarakat berbasis santri. Dua kekuatan ini jika tidak mampu dikelola dengan baik dipastikan akan melahirkan konflik sosial berkepanjangan.

Oleh karena itu, peranan NU dalam menjaga kondisifitas dan menjadi mediator itu mutlak diperlukan. NU secara kolektif tidak boleh menjadi bagian dari politik praktis. NU harus mampu menjaga umat agar perbedaan politik tidak boleh dibawa ke dalam urusan keyakinan yang ujungnya akan melahirkan disintegerasi sosial.

“Kalau Pak Dafir itu basisnya ya alumni Sidogiri dan juga dari tokoh kharismatik Situbondo. Pak Dafir itu kan alumni Sidogiri, sedangkan KH. Salwa itu basisnya berasal dari alumni Sukorejo dan sebagian dari Nurul Jadid. Itu tercermin dari hadirnya lora Hamid dalam sebuah pertemuan yang jika dilihat dari kaca mata politik dapat diartikan sebagai dukungan tersirat,” jelas Mathur.

Menurut Mathur, pada masyarakat yang masih patrimonial, seperti Bondowoso, mereka masih sangat tunduk terhadap dawuh Kyai. Bahkan kepatuhan terhaadap kyai itu juga nyaris disamakan seperti kepatuhannya terhadap agama.
“Jika tidak patuh pada kyai itu diartikan sama dengan melanggar perintah agama, termasuk juga dalam dimensi politik. Maka masalahnya adalah ketika Pak Dafir dan Kyai Salwa ini berhadapan, atau head to head, maka ini berpotensi melahirkan konflik sosial,” katanya.

Alasannya, kata Mathur, bagi masyarakat yang sudah melek politik, maka perbedaan pilihan politik itu tidak akan mengubah kohesi sosial yang ada di masyarakat. Tetapi bagi masyarakat Bondowoso yang masih belum melek politik, maka mereka akan terbawa dalam arus konflik politik menjadi konflik sosial.

“Sudah banyak contoh, misalnya, dalam tataran pilkades saja, hanya beda pangan soal pilihan politik, karena calonnya kalah, maka kemudian ada orang yang menutup jalan umum,” katanya.

Untuk itu, apabila nanti antara Dafir dan Salwa bertarung head to head, maka ia mengharapkan agar para kyai menahan diri untuk tidak mengeluarkan fatwa politik terkait dengan pilihan politik. Sebab hal itu menurut Mathur akan melahirkan radikalisme agama, fatwa kyai itu seringkali disandarkan pada keyakinan agama oleh masyarakat.

“Para teroris itu tega membunuh karena adanya sebuah keyakinan. Nah kalau ditarik ke dalam politik lokal ini akan melahirkan masalah bar. Akan ada pihak tertentu yang membolehkan kecurangan terjadi karena atas dasar fatwa kyai itu tadi,” katanya. (Lis)

Rate this item
(0 votes)