Redaksi

Redaksi

Curabitur ultrices commodo magna, ac semper risus molestie vestibulum. Aenean commodo nibh non dui adipiscing rhoncus.

Apakabar.co.id (Bondowoso) - Posisi pelaksana tugas (Plt) Ketua DPRD Bondowoso yang masih kosong menyebabkan sejumlah anggota DPRD meradang. Mereka mengaku tidak bisa melaksanakan tugas yang berkaitan dengan tupoksi mereka sebagai anggota DPRD.

"Kekosongan Plt Ketua DPRD ini dampaknya ke masyarakat. Harusnya, pada saat rapat pimpinan pada Senin kemarin itu, sudah disepakati siapa PLT ketua DPRD. Tetapi faktanya, rapat itu deadlock,"Ujar Andi Hermanto, Ketua fraksi PDIP.

Menurut Andi, jika mengacu pada tradisi yang selama ini sudah berjalan, seharusnya, PLT ketua DPRD itu berasal dari partai dengan perolehan suara terbanyak. PPP menempati urutan ketiga Suara terbanyak setelah PKB dan PDIP.

"Ketika beberapa tahun lalu ada peristiwa yang sama, Pak Dhafir sebagai ketua DPRD dari PKNU dan mengalami proses Penghentian Antar Waktu (PAW) maka kemudian partai pemenang kedua yang mengganti posisi ketua DPRD yakni PKB dan Pak Samsul Hadi sebagai Ketua DPRD," katanya.

Andi mendesak agar PLT ketua DPRD segera ditentukan demi pelayanan dan agar DPRD Bondowoso bisa bekerja. PLT ketua DPRD, kata Andi tidak akan lama menjabat, sebab salah satu tugasnya adalah memfasilitasi terbentuknya ketua DPRD definitif yang diajukan oleh PKB dan juga PDIP sebagai wakil pimpinan DPRD. "Kalau dalam masa kekosongan ini tidak ada ketua sementara atau PLT, kan tidak bisa melakukan apapun sebab muaranya dari ketua dalam hal misalnya menandatangani surat surat keluar dan sebagainya,"tegasnya.

Untuk itu, Andi meminta segera dilakukan musyawarah lagi demi terbentuknya PLT ketua DPRD. "Jadi semua harus menahan diri dan tahu diri, PKS harus tahu diri dan PPP harus bisa menerima amanah sebagai PLT ketua DPRD" katanya.

Sementara itu, ketua DPD Jaka Jatim, Jamharir, S.Sos sepakat bahwa PLT ketua DPRD segera ditentukan agar tidak mengorbankan kemaslahatan banyak orang. Namun ia menggarisbawahi bahwa hal itu juga harus tetap dalam posisi taat aturan. Tidak boleh PLT ketua DPRD dibentuk berdasarkan tradisi.

Kata dia, pembentukan PLT ketua DPRD dan ketua DPRD definitif diatur dalam pasal berbeda sebagaimana tertuang dalam

Peraturan DPRD nomor 1 tahun 2017 tentang perubahan kedua atas peraturan DPRD Bondowoso tahun 2014 tentang tata tertib DPRD.

"Jadi pembentukan ketua DPRD definitif dan PLT ketua DPRD itu diatur dalam pasal berbeda. Ini bukan soal tradisi. Ini juga yang harus disadari oleh teman teman di DPRD. Kalau pembentukan ketua DPRD definitif itu berdasarkan perolehan suara terbanyak, sementara kalau PLT ketua DPRD itu dihasilkan dari kesepakatan rapat pimpinan. Masalahnya adalah rapat pimpinan kemarin deadlock," katanya.

Wajar, lanjut Jamharir, jika PKB mengusulkan Budi Hartono dari PKS untuk menjadi PLT ketua DPRD sebagaimana pula wajar ketika PDIP mengusulkan Buhari dari PPP, sebab mereka berkoalisi di pilkada 2018.

"Di aturannya kan PLT ketua itu dihasilkan dari keputusan rapat pimpinan. Nah.. kemarin itu tidak menemukan keputusan apapun karena silang pendapat. Untuk itu, sebagai jalan keluar adalah konsultasi ke biro hukum atau diserahkan ke badan musyawarahkata Jamharir.

Dua opsi yang ditawarkan itu juga tidak akan menghasilkan keputusan apapun. Maka jalan satu satunya adalah melalui rapat paripurna.

"Masalahnya siapa yang akan bertindak dan berhak mengundang rapat.Siapa yang berhak mengundang rapat bamus atau paripurna jika plt Ketua DPRD nya tidak ada. perlu diketahui bahwa tidak ada tupoksi bamus membahas soal pimpinan diatib DPRD," kata Imam Thahir, ketua fraksi PPP. (lis)

Apakabar.co.id (Banjar) - Sat Binmas Polres Banjar, Kalsel melaksanakan giat. Kali ini adalah program Kabinaktar (Kami bina anak menjadi pintar), bertampat di halaman Kantor Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Banjar, Kalsel.

AKP Hj. Amalia Afifi selaku Kasat Binmas Polres Banjar menerangkan, "Kami gelar Kabinaktar dengan memberikan materi kepada anak-anak sekolah Madrasah Ibtidaiyah Darul Ma'arif, Kecamatan Astambul, Martapura, dihadiri murid kelas 4 hingga kelas 6 dan didampingi oleh guru sekolah," terangnya.

"Kami sampaikan terima kasih kepada Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Banjar, drg Yasna beserta staf serta para guru yang mendampingi anak-anak madrasah telah berkenan hadir juga dapat memberikan suport dan semangat," ujar Umi, sapaan akrab Amalia Afifi.

"Bahkan giat Kabinaktar tersebut diisi dengan membaca, menyanyi, menari dan sains oleh Brigadir Tuti beserta tim. Kami bina anak menjadi pintar juga tidak lupa kami memberikan hadiah kepada anak-anak baik dari satbinmas maupun perpustakaan," papar perwira tiga balok di pundak.

Terpisah, AKBP Takdir Matanette selaku Kapolres Banjar, mengaku bangga dan mengapresiasi giat Kabinaktar yang dipimpin Amalia Afifi. "Semoga giat Kabinaktar kelak akan bermanfaat bagi generasi anak bangsa, serta bisa memotivasi polres lainnya agar lebih semangat dalam melayani masyarakat," ulasnya. (lia)

Apakabar.co.id (Jombang) - Sejumlah warga Desa Tampingmojo Kecamatan Tembelang siang tadi ngeluruk Kejari dan Polres Jombang. Warga tidak sendirian,  melainkan didampingi Ali Sutomo selaku Ketua LSM Masyarakat Jombang Anti Korupsi (MAJASI) senin (12/2).

Kedatangan mereka hendak menanyakan soal tindak lanjut dugaan tindak pidana korupsi atau penyalahgunaan wewenang dalam kegiatan pengelolaan tanah kas desa dan pembangunan jalan rabat beton tahun 2015 di Desa Tampingmojo, yang kian lama tak kunjung ada kejelasan/kepastian.

Warga yang tiba di Kejaksaan Negeri (Kejari) Jombang, ditemui oleh Siswoyo dan Indra Subrata.

Sucipto, salah satu warga ketika bertemu dengan dua orang tersebut menanyakan, sudah sampai sejauh mana kelengkapan berkas perkara tersebut.

"Kejari terkesan mengulur waktu untuk menyempurnakan (P-21) kasus tersebut," ujarnya menduga.

Dugaan tersebut dengan jawaban Siswoyo dan Indra Subrata yakni mereka menjelaskan bahwa berkas masih dikembalikan ke penyidik polres, dan dijelaskan bahwa pihaknya masih menunggu penyidik polres untuk melengkapi berkas perkara itu.

Sementara ketika Ali menanyakan sudah berapa kali berkas dikembalikan ke penyidik polres? Siswoyo dan Indra Subrata pun enggan menjawab pertanyaan itu. Justru, mereka balik bertanya siapa penyidik dan jaksa yang menangani perkara tersebut. Hal inilah yang menyulut warga Desa Tampingmojo seakan-akan perkara ini diulur-ulur terus.

Dikatakan Ali, warga Desa sebenarnya meminta agar dalam penegakan supremasi hukum, posisi kepolisian yang berwenang melakukan penyidikan dan kejaksaan yang melakukan penuntutan adalah sangat penting dalam mewujudkan hukum "in concreto", agar dalam perkara ini warga Tampingmojo merasa terjamin rasa keadilannya.

Tak puas dengan jawaban dari Kejaksaan Negeri Jombang, warga dan Ali beranjak ke Polres Jombang. Kasat Reskrim Polres Jombang, AKP Gatot Setyo Budi yang meluangkan waktu untuk menemui warga Desa Tampingmojo dan Ali menjelaskan, “Kelengkapan berkas perkara sudah tiga kali ini dikembalikan oleh kejari dan masih diperbaiki serta menunggu hasil audit fisik di lapangan, karena dari kejari meminta untuk diaudit fisik," tandasnya.(Har/Is)

Apakabar.co.id (Surabaya) - Kepolisian sektor Simokerto terus tingkatkan antisipasi sejak dini. Seperti ancaman tindak pidana 3 C (curammor, curat, curas) baik sajam mau pun narkoba di jalan raya, tepatnya di Jalan Gembong.

Hal ini pun disampaikan Kompol Masdawati Saragih Kapolsek Simokerto, "kami sebagai anggota Polri berusaha memberikan pelayanan prima kepada masyarakat tidak mengenal waktu dan lelah," ujarnya.

"Salah satu giat pelayanan masyarakat adalah melaksanakan giat operasi ofensif di jalan raya tepatnya di Jalan Gembong sekitar pukul 23.00 -00.00 wib dengan sasaran 3C," tandas perwira satu melati di pundaknya.

"Dalam giat operasi cipta kondisi diperkuat sekitar 20 personil anggota Polsek Simokerto serta berhasil melakukan tindakan 26 tilang masing-masing SIM 6 dan STNK 20," terangnya.

"Setelah melaksanakan giat operasi cipta kondisi hingga menjelang dini hari, kami bersama anggota unit reserse kriminal, intel, sabhara, dan unit lalu lintas melanjutkan giat patroli keliling wilayah hingga menjelang pagi demi menjaga serta menciptakan rasa aman juga nyaman bagi masyarakat," imbuhnya. (wie/lia)

Apakabar.co.id (Jombang) - Puluhan warga Desa Kedungturi Kecamatan Gudo menghadiri undangan sosialisasi yang diadakan BPD (11/2). Undangan itu untuk menyikapi surat pengunduran diri Kades Kedungturi atas nama Sucipto.

Seperti diketahui, warga resah terhadap Sucipto yang sudah melayangkan surat pengunduruan diri tertanggal 17/1, namun dirinya masih bertindak seakan-akan masih sebagai kades. Budi selaku Ketua BPD pun menuturkan bahwa sebagian warga melihat Sucipto masih melakukan kegiatannya seperti kades dengan melakukan tata administrasi di rumahnya. Padahal yang bersangkutan seharusnya sudah tak terlekati dengan hak dan kewajiban atas munculnya surat pengunduran dirinya.

"Saya sudah menindaklanjuti surat pengunduran diri ini ke Pemerintah Kabupaten Jombang. Namun tidak ada tanggapan yang pasti mengenai siapa penggantinya sementara," ungkapnya. Subagyo salah watu warga menyarankan kepada BPD, terkait dengan hak dan kewajiban yang masih melekat pada Sucipto agar segera diminta, terutama stempel dan fasilitas yang selama ini telah dibawa dan dipergunakannya.

Sementara warga lainnya, Sungkono, "Kami pun menyayangkan atas tidak hadirnya muspika, sebagian BPD (Khusaini, Yakhudi, Drs. H. Muhaimin, Asir, Sugiarto) dan perangkat desa yang diundang. Padahal mereka diangkat untuk melayani, dan mengayomi masyarakat. Tentunya, warga sangat heran kenapa selama ini sebagian BPD dan perangkat desa tidak mau hadir ketika diundang ?" sesalnya.

Dalam sosialisasi tersebut warga menyatakan sikap yakni berharap dan meminta agar pengganti Sucipto dari Pemkab Jombang serta nantinya bisa melayani dan mengayomi masyarakat serta bersifat netral agar ke depan Desa Kedungturi dapat terjamin pelayanan, kesejahteraan dan keadilannya. (Irs)

Apakabar.co.id (Sidoarjo) - Peringatan Hari Air sedunia jatuh pada 22 Maret. Untuk itu, Konsorsium Lingkungan Hidup (KLH), Garda Lingkungan dan mahasiswa Universitas Maarif Hasyim Latif (Umaha) Sidoarjo melakukan persiapan peringatan Hari Air sedunia, agar kejadian memalukan di tahun 2017 lalu tidak terulang lagi.

Seperti diketahui, tahun lalu KLH, Garda Lingkungan bersama mahasiswa Umaha dan pelajar yang peduli terhadap lingkungan menggelar serangkaian acara memperingati Hari Air sedunia. Acara tersebut di antaranya adalah lomba mewarnai dan menggambar untuk tingkat PAUD, TK dan SD.

Selain itu ada penanaman bibit pohon di pinggiran sungai, bersih-bersih sampah di sungai pelayaran, tebar benih ikan serta serangkaian acara seremonial. Mungkin muncul pertanyaan, mengapa harus membersihkan sampah di sungai pelayaran? Karena sampah di Sungai Surabaya di antaranya banyak berasal dari sungai Pelayaran.

Menurut Dinda Mayanti, mahasiswi Umaha bahwa teman-teman dari universitas lain serta pelajar SLTA dan SLTP juga ikut mencebur ke sungai untuk membersihkan sampah. "Saya salut, karena mereka tidak merasa jijik sedikitpun. Padahal ada sampah seperti bangkai, bekas pembalut dan lainnya," tuturnya.

"Sebagian sampah itu terpaksa kami taruh di belakang kampus. Karena kami tidak mampu membayar biaya seperti yang diminta oleh oknum sopir Dinas Kebersihan Sidoadjo," urainya.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jatim, Diah Susilowati merasa kagum sekaligus terharu dengan kepedulian pelajar ini terhadap kebersihan lingkungan. "Nanti kami akan meminta bantuan DLH Sidoarjo serta dinas kebersihan. Nanti akan kami upayakan kantong sampah dan juga truk pengangkut sampah," tegas Diah, diamini bagian penanganan sampah DLH Jatim.

Menurut Diah, pihaknya juga mempersiapkan diri untuk peringatan Hari Sampah sedunia tepat pada 21 Februari nanti. (ono)

Apakabar.co.id (Jombang) - Sidang keempat sengketa informasi di Komisi Informasi (KI) Provinsi Jawa Timur kembali digelar, Rabu (7/2). Dalam proses sidang sengketa informasi antara Petani Sariloyo melawan Pemerintah Kabupaten Jombang ini, Pemkab Jombang terkesan mengulur-ulur waktu.

Pasalnya, sebelumnya pada sidang ketiga Pemkab Jombang tidak hadir tanpa alasan yang jelas, namun sidang keempat dihadiri kedua belah pihak. Sidang dengan agenda pembuktian untuk membuka dokumen-dokumen soal pembangunan perumahan Bahrul Ulum Menara Asri yang berdiri di atas lahan pertanian produktif di Dusun Sariloyo yang diminta pemohon yakni Choirul Safik telah menyerahkan bukti-bukti kepada Majelis KI Jatim.

Yang menjadi masalah adalah dari pihak termohon Pemkab Jombang, ketika Majelis Komisioner menanyakan, apakah termohon membawa berkas untuk pembuktian? Namun ternyata termohon sengaja tidak membawa dan menyerahkan bukti kepada Majelis Komisioner KI Prov Jatim.

Termohon yang sebelumnya dalam persidangan kedua menyatakan bahwa informasi dan dokumen terkait pembangunan perumahan di Dusun Sariloyo bersifat rahasia atau dikecualikan. Dan sidang keempat ini, termohon menyatakan sendiri bahwa informasi dan dokumen tersebut akan diberikan kepada pemohon. Namun tidak semuanya dibawa atau dipegang oleh termohon pada persidangan tersebut.

Safik selaku Pemohon beranggapan, secara tidak langsung termohon sudah inkonsisten dalam berargumentasi di persidangan untuk memperkuat dalil-dalilnya sendiri. “Jika memang benar informasi dan dokumen yang dimaksud dirahasiakan/dikecualikan, sudah sepatutnya termohon mengajukan bukti-bukti atas argumentasi awalnya,” katanya.

“Jika melihat fakta dalam persidangan tadi agendanya adalah pembuktian. Maka ketika termohon mencoba menerangkan atau melenceng dari agenda pembuktian dengan alasan akan memberikan sebagian dokumen. Ini artinya terjadi pembiasan yang tidak pada inti agenda sidang tadi,” ujarnya.

“Walaupun termohon punya itikad baik pada sidang tadi untuk menyerahkan sebagian dokumen yang dibawanya. Prinsip saya tetap pada awal, bahwa ke 15 item dokumen yang saya minta kepada termohon agar dipenuhi atau diberikan terutama terkain izin lingkungannya. Jika tidak begitu, sidang akan berlanjut pada agenda kesimpulan hingga muncul keputusan yang tetap,” tegas Safik. (irs)

Apakabar.co.id (Lamongan) - Satreskrim Polres Lamongan tak akan sedikit pun beri ruang gerak pelaku tindak pidana kejahatan beraksi di wilayah hukum Polres Lamongan.

Salah satunya berhasil mengamankan Nur  Habibah Cholis alias Lilis (32) warga Desa Sidodadi RT-01, RW 05, Kelurahan Sidoharjo, Kabupaten Lamongan.

AKBP Feby D.P Hutagalung Kapolres Lamongan mengaku bangga akan kinerja anggota Satreskrim Polres Lamongan telah berhasil ungkap pelaku tindak pidana penipuan dan penggelapan mengaku paranormal dengan  berhasil amankan tersangka Nur Habibah Cholis alias Lilis. Barang bukti yang diamankan yakni dua set kartu remi sebanyak 21 lembar kartu remi, satu buah keris kecil terbuat dari tembaga, satu buah batu akik warna merah, satu unit handphone sebagai alat komunikasi.

Lanjut Feby sapaan akrab AKBP Feby D.P Hutagalung, awalnya banyak masyarakat datang melapor ke SPKT Polres Lamongan bila menjadi korban penipuan dan penggelapan mengaku paranormal. "Maka anggota kami pun memeriksa satu per satu korban tersebut untuk mengetahui modus yang dilakukan oleh tersangka," tuturnya.

Modus yang dilakukan oleh tersangka adalah berkenalan dengan korban dan tersangka mengaku sebagai orang pintar atau peramal yang bisa membaca hati seseorang dapat menyelesaikan berbagai macam masalah seseorang. Lalu korban tergiur rayuan manis tersangka untuk menyelesaikan masalah tersebut, agar pacar korban tidak meninggalkan pelapor juga mudah mendapatkan pacar.

Selanjutnya tersangka berpura pura melakukan kegiatan dengan cara meramal korban menggunakan kartu remi, dan tersangka beralasan untuk melakukan ritual. Setiap tersangka beralasan melakukan ritual, tersangka berkali kali meminta uang korban untuk digunakan membeli peralatan ritual hingga total keselurhan uang  berjumlah Rp 30 juta. Setelah korban mengeluarkan sejumlah uang ternyata apa yang dijanjikan tersangka kepada korban tidak ada yang menjadi kenyataan. "Karena merasa ditipu, korban melaporkan ke polisi," papar perwira dua melati di pundak. (wie/lia)

Apakabar.co.id (Bondowoso) - Pagi itu, Minggu (4/2) cuaca begitu cerah. Para relawan, pendukung, simpatisan dan seluruh partai pengusung dan pendukung calon Bupati dan Calon wakil Bupati Bondowoso, Dafir-Dayat bersolek dan bersiap untuk menghadiri sebuah deklarasi Akbar Dafir-Dayat di alun - alun Bondowoso.

Mereka datang ke alun alun Bondowoso dari desa desa yang jauh dengan mengendari sepeda motor maupun mobil angkutan dan juga ada yang membawa mobil pribadi. Mereka datang tanpa dibayar, bahkan ada yang urunan dengan menyewa angkutan umum.

Ada pula salah satu simpatisan yang memberangkatkan mereka secara cuma cuma. Ada juga yang menyiapkan bekal nasi bungkus, ada juga yang menyiapkan makanan bagi mereka yang tidak membawa bekal. Mereka pun berangkat dalam kegembiraan yang memuncak.

Sebagian dari mereka yang sempat berfoto bersama dengan Dafir-Dayat merasa sangat bahagia. Mereka kirimkan foto foto itu ke teman teman mereka. Dafir-Dayat pun tak merasa keberatan meski harus berlama lama melayani mereka untuk hanya sekedar berfoto bersama.

Ketika mereka tiba di alun alun sekitar pukul 13.30 WIB langit mulai gelap sebagai pertanda hujan akan turun. Senyum mereka tetap merekah. Mereka kemudian mulai memasuki tenda lalu duduk bersama teman mereka dalam canda tawa menunggu hadirnya ulama dan juga Dafir-Dayat.

Langit kemudian memuntahkan air hujan. Alun alun Bondowoso mulai berlumpur. Tetapi hujan yang turun itu tak menyebabkan mereka meninggalkan arena deklarasi. Mereka bahkan semakin teguh pendirian mereka untuk tetap menunggu ulama utamanya RKH Kholil selesai mengakhiri acara.

Tak ada keluh kesah karena kecewa. Bahkan tersirat rasa bahagia karena di tengah mereka ada banyak ulama dan pemimpin Bondowoso. Bahkan ketika menyanyikan lagu cinta tanah air, semangat mereka semakin berkobar. Mereka juga dengan setia mendengarkan ceramah demi ceramah dalam rangkaian deklarasi itu.

"Hujan sore hari, adalah sebagai tanda doa kami terkabul. Doa yang terpanjat dan terucap dari seorang ulama dan dalam sebuah majelis tentu saja lebih banyak diijabah. Terima kasih ya Allah karena hujan itu semakin meneguhkan semangat kami untuk memenangkan Dafir-Dayat," begitu seloroh orang orang yang berbisik diantara mereka dalam guyuran hujan yang kian membuncah. (lis)

Apakabar.co.id (Bondowoso) - Calon Bupati dan Calon Wakil Bupati Dafir-Dayat Disambut Puluhan ribu masyarakat Bondowoso saat hendak memasuki panggung deklarasi Dafir-Dayat. Mereka saling berebut hanya untuk sekedar berjabat tangan, Minggu (4/2) siang.

Untuk itu, Dafir-Dayat kemudian menyambutnya dengan senyum kegembiraan. Dafir-Dayat yang didampingi oleh seluruh pengurus partai pengusung dan pendukung itu kemudian memasuki panggung yang memang sudah disediakan oleh panitia.

Puluhan ribu warga dari berbagai pelosok desa itu menyemut di depan panggung, sementara kaum muslimat yang juga hadir dalam kesempatan itu duduk tertib di depan panggung dan disudut sudut alun alun. Mereka juga ingin menyaksikan deklarasi yang dihadiri oleh ulama baik dari Bondowoso maupun dari luar Bondowoso.

Semangat mereka terlihat jelas dari wajah mereka. Di dada mereka tersimpan sebuah keinginan akan lahirnya sosok pemimpin yang mampu membawa perubahan menuju Bondowoso beriman, berdaya dan bermartabat. "Saya datang dari desa Penang, Kecamatan Botolimggo bersama warga yang lain," ujar Ahmadi Amari.

Selain itu, para relawan dan simpatisan Dafir-Dayat juga memenuhi arena deklarasi. Mereka terlihat bahagia dengan lagi lagi timur tengah yang disuguhi oleh panitia pelaksana deklarasi. Ketua Panitia pelaksana, H.Tohari mengemukakan bahwa pihaknya sangat berterima kasih terhadap masyarakat Bondowoso yang dengan sukarela hadir di acara deklarasi itu.

"Terima kasih, kami sungguh merasa tersanjung, kami tidak menyangka kehadiran mereka saat ini melebihi estimasi. Tentu ini bukan hanya sekedar karena cinta melainkan melebihinya. Mereka datang selain karena rasa cinta dan harapan akan hadirnya sosok pemimpin seperti Dafir-Dayat," katanya. (lis)