Tragedi Muara Kate: Saksi Jadi Tersangka, Pajaji Belum Tersentuh -
News  

Tragedi Muara Kate: Saksi Jadi Tersangka, Pajaji Belum Tersentuh

Sejumlah warga Muara Kate berkumpul menyampaikan pernyataan sikap atas penetapan tersangka terhadap Misrantoni, sepupu tokoh adat Russell yang tewas dalam penyerangan posko warga. Foto: istimewa

apakabar.co.id, JAKARTA – Sembilan bulan setelah penyerangan posko warga di Muara Kate yang menewaskan tokoh adat, Russell (60), warga masih bertanya-tanya: mengapa Panglima Pajaji belum juga diperiksa?

Padahal, nama Agustinus Luki alias Pajaji muncul dalam dokumen Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), bersama seorang bernama Bonar. Keduanya disebut punya peran penting di balik kegiatan hauling batu bara PT Mantimin Coal Mining (MCM), yang ditentang Russell dan warga Muara Kate.

Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Yulianto mengatakan, penyidik dapat memeriksa siapa pun yang disebut dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP), selama pemeriksaan itu dianggap bisa membuat terang perkara.

“Kalau memang dalam BAP saksi menyebutkan seseorang, maka orang yang disebut dalam BAP tersebut bisa dilakukan pemeriksaan sepanjang pemeriksaan tersebut akan membuat terang peristiwa pidananya,” kata Yulianto, Kamis (31/7).

Namun saat diminta konfirmasi lebih jauh, Direktur Reskrimum Polda Kaltim Kombes Jamaluddin Farti hanya menjawab singkat, “Terima kasih informasinya.”

Nama Pajaji dan Bonar tercantum dalam dokumen klarifikasi polisi kepada Kompolnas ketika lembaga pengawas ini turun langsung ke TKP pembunuhan Russell awal 2025. Pajaji disebut sebagai tokoh adat Dayak yang bertindak sebagai penanggung jawab hauling batu bara PT MCM. Sementara Bonar, anggota Pemuda Pancasila, diduga ikut melancarkan operasi hauling di jalan negara penghubung Kaltim-Kalsel.

Jalan nasional ini sempat diblokade warga Batu Kajang pada akhir 2023 karena dianggap rusak dan membahayakan akibat aktivitas truk hauling. Protes tak digubris. Truk-truk berpelat DA dari Kalimantan Selatan tetap melintas. Seiring waktu, korban mulai berjatuhan.

Seorang ustaz muda bernama Teddy tewas tertabrak truk di Songka, pertengahan 2024. Menyusul Veronika, pendeta yang tewas tergilas truk di tanjakan Marangit pada Oktober. Hingga akhirnya, 15 November 2024, posko warga diserang. Russell tewas dengan luka tusuk, Anson selamat dalam keadaan kritis.

Namun, sembilan bulan berselang, justru Misrantoni (60)—sepupu sekaligus rekan seperjuangan Russell—yang ditetapkan sebagai tersangka. “Kami tidak mungkin tahu apa motifnya kalau pelaku tidak ngomong,” kata Yulianto.

Keluarga dan warga menolak tuduhan itu. Mereka menyebut Misrantoni sedang tidur di rumah, hanya 200 meter dari lokasi kejadian.

Warga heran, justru nama-nama yang dicurigai tahu lebih banyak belum tersentuh. Bonar disebut sebagai pihak pertama yang menyebarkan informasi soal rencana penyerangan. Lima nama target disebut: Yusuf, Wartalinus, Anson, kepala desa, dan Misrantoni. Namun informasi ini hanya berhenti di satu warga.

“Dan semua ini setahu kami tidak didalami oleh polisi,” ujarnya di Muara Kate.

Bonar, yang rumahnya berada di perbatasan Kaltim-Kalsel, tak terlihat lagi sejak kejadian. Warga menyebut ormas tempat Bonar bernaung menerima dana CSR dari PT MCM.

Pajaji pun disebut hadir di RA Cafe dan Penginapan—sekitar 7 kilometer dari TKP—pada malam sebelum tragedi. Esok harinya, dia menjemput Misrantoni, Hendrik, dan Alison dari posko warga. Ketiganya dibawa ke RA Cafe untuk diinterogasi oleh Pajaji.

“Kalau bahasa Pajaji di media, dia menginterogasi. Memangnya dia punya kewenangan apa?” kata warga. Laporan penginapan tempat pertemuan itu belakangan dijadikan salah satu barang bukti oleh polisi.

Dalam pertemuan itu, Pajaji disebut menanyakan langkah warga pascapembunuhan. Setelahnya, ia berorasi mendesak polisi menangkap pelaku dalam 3×24 jam. Lalu, menghilang.

Warga membantah darah di baju Misrantoni dijadikan bukti keterlibatan. “Itu darah Russell. Pak Imis bantu mengangkat jenazah dan menjahit luka korban, tanpa sarung tangan,” ujarnya.

Anak Misrantoni, Andre, juga bersaksi bahwa ayahnya tidur di rumah saat kejadian. “Saya pulang dari kebun pukul empat pagi. Bapak masih tidur.”

Namun yang membuat warga makin curiga, Pajaji sempat membawa dua pemuda Muara Kate ke Balikpapan, termasuk seorang saksi kunci.

Katanya untuk bertemu pelaku yang menyerahkan diri di Polda Kalsel. Tapi selama tiga hari, mereka justru diajak keliling ke indekos, showroom mobil, toko oleh-oleh, dan kantor ormas.

Para saksi mengaku menyaksikan Pajaji bertemu dengan petinggi PT MCM dan seorang bakal calon kepala daerah. Dari situ, mereka tahu Pajaji menerima uang Rp500 juta. “Katanya buat pemenangan pilkada,” ujar warga.

Warga yang mengetahui keberadaan mereka lantas menjemput paksa. Pajaji sempat tersinggung dan mengancam lewat telepon, namun belakangan minta maaf. “Kami marah karena yang dibawa itu saksi kunci. Polisi saja belum sempat periksa,” lanjutnya.

Setelah kejadian, beredar pula ancaman akan ada serangan susulan ke posko. Dugaan ini muncul setelah video ormas adat yang mengkritik Pajaji viral. Namun serangan tak terjadi.

Warga makin kecewa. Penetapan tersangka baru diumumkan sembilan bulan kemudian, tanpa pemberitahuan resmi ke keluarga. Bahkan makam Russell dibongkar, rumah Misrantoni digeledah tanpa seizin warga.

“Katanya ada 35–37 petunjuk. Tapi kami yakin itu belum cukup kuat,” kata Andre. Kesaksian istri dan adiknya pun tidak dianggap sah.

 

36 kali dilihat, 2 kunjungan hari ini
Editor: Raikhul Amar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *