apakabar.co.id, JAKARTA – Dokter spesialis gizi klinik Raissa Edwina Djuanda mengingatkan bahwa dodol Betawi sebaiknya tak dikonsumsi berlebihan. Konsumsi dodol saat Lebaran, sebaiknya tak lebih dari 100 gram per hari mengingat kalorinya yang tinggi.
“Sebaiknya dodol Betawi dikonsumsi dalam jumlah secukupnya dan sewajarnya,” ungkap dokter yang tergabung dalam Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI) Cabang DKI Jakarta di Jakarta, Kamis (11/4).
Raissa menjelaskan konsumsi dodol akan lebih baik jika dikombinasikan dengan makanan lain yang kaya serat seperti buah dan sayur.
“Batasi konsumsi makanan dan minuman manis lainnya jika sudah mengonsumsi dodol Betawi,” kata dia yang berpraktik di RS Pondok Indah-Puri Indah itu.

Dodol Betawi diketahui mengandung sejumlah zat gizi, salah satunya sumber karbohidrat baik yang dapat memberikan energi bagi tubuh. Makanan ini juga mengandung sejumlah makronurien serta mikronutrien lainnya yang dibutuhkan tubuh.
Raissa mengungkapkan dalam 100 gram dodol Betawi terkandung energi (391 kkal), karbohidrat (76,1 gram), protein (3,8 gram) dan lemak (3,8 gram).
Selain itu, imbuh dia, ada juga kalsium (34 mg), fosfor (124 miligram), zat besi (2,8 miligram), natrium (54 miligram), kalium (244 miligram), vitamin B1 (0,1 miligram), vitamin B2 ( 0,06 miligram) dan vitamin C (2 miligram).
Raissa mengingatkan, kendati mengandung berbagai zat gizi lainnya seperti protein dan lemak, masyarakat perlu ingat dodol Betawi ini memiliki kandungan gula yang tinggi.
“Jika dikonsumsi berlebihan dapat berisiko menyebabkan obesitas dan masalah kesehatan lainnya,” papar Raissa.
Dodol Betawi yang merupakan makanan tradisional khas suku Betawi merujuk Kementerian Kebudayaan merupakan salah satu penganan khusus saat momen Idulfitri atau Iduladha.
Penganan ini berwarna hitam kecoklatan dengan variasi rasa yang lebih sedikit daripada dodol dari daerah lain.