1446
1446

Flu Singapura Masuk Indonesia, PB IDI Imbau Hidup Bersih dan Sehat

Kasus flu Singapura di Indonesia makin tinggi. Hidup bersih dan sehat jadi solusi.

Ilustrasi
Flu Singapura masuk ke Indonesia

apakabar.co.id, JAKARTA -Menurut Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons Kemenkes RI hingga minggu ke-11 2024, telah tercatat 5461 orang terjangkit Flu Singapura, dan terus bertambah hingga Maret 2024 di Banten dan Depok.

Flu Singapura memiliki nama lain Hand, Foot and Mouth Disease (HFMD), menjadi satu penyakit menular diakibatkan oleh virus melalui sistem saluran pernapasan dan pencernaan, virus ini kerap menyerang anak-anak hingga orang dewasa.

“Penyakit ini lebih umum terinfeksi pada anak-anak usia 10 tahun, namun tidak menutup kemungkinan pada dewasa,” tutur Prof DR Dr Erlina Burhan, SpP(K), Anggota Bidang Kajian Penanggulangan Penyakit Menular PB IDI, Rabu (27/3).

Flu Singapura disebabkan oleh Coxsackievirus yang masuk ke dalam tubuh melalui benda-benda di sekitar kita, droplet ketika bersin, batuk dan berbicara, bahkan ditemukan dalam feses. Virus ini juga ditemukan pada pada permukaan air seperti limbah, tanah bahkan pada sayuran mentah hingga kerang.

“Virus dapat bertahan selama beberapa minggu dalam feses dan menjadi sumber utama dalam jangka waktu yang lama. Jadi biasakan mencuci tangan secara higienis sebelum memegang makanan untuk menghindari penularan,” ucapnya.

Diketahui, virus ini dapat masuk melalui kelenjar getah bening dan menyebar ke seluruh tubuh. Kemudian terjadi gejala di awal berupa demam tinggi, sakit tenggorokan hingga batuk.

Virus ini memiliki ciri khas seperti cacar, terdapat ruam lenting kemerahan pada telapak tangan, kaki hingga mulut, bahkan tak jarang terdapat pada tenggorokan dan langit-langit mulut.

“Ruam ini biasanya berdiameter 2-6 mm dan berbentuk kemerahan dan berair yang terasa tidak nyaman karena adanya gatal hingga demam, tidak jarang penderita akan terganggu saat makan sehingga sulit makan,” tutur Prof. Erlina Burhan.

Lenting pada Flu Singapura juga dapat pecah dan menyebabkan luka, bahkan menimbulkan sariawan pada bagian mulut, dengan masa inkubasi virus sekitar 10 hingga 14 hari.

Flu Singapura berkaitan erat dengan sanitasi, maka diperlukan kembali menjalankan gaya hidup higienis seperti mencuci tangan pakai sabun dan hand sanitizer.

Kebersihan sanitasi dan toilet sangat berpengaruh, gunakan septic tank yang memenuhi kriteria sehat. Serta hindari melakukan Mandi Cuci Kakus (MCK) di sungai, kolam dan pantai.

Lebih lanjut, pengobatan yang dilakukan saat terkena virus tersebut dengan mengobati sesuai gejala yang dirasakan. Seperti meminum Parasetamol saat terdapat gejala demam untuk menurunkan panas tubuh.

“Penanganan lain juga bisa melakukan kebersihan anak dengan mandi setiap hari, pastikan anak cukup nutrisi, cairan yang mencegah dehidrasi hingga istirahat yang baik,” ucapnya.

Saat anak tidak kunjung sembuh dan terlihat memburuh, segera membawa anak ke dokter atau layanan kesehatan untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat.

“Meski saat ini masih belum tersedia dan masih diteliti, mudah-mudahan jika hasilnya bagus akan segera ditemukan di layanan kesehatan lainnya,” tutup Prof. Erlina Burhan.

25 kali dilihat, 1 kunjungan hari ini
Editor: Endah Lismartini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *