apakabar.co.id, JAKARTA – Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal dan Hipertensi dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH, FINASIM menepis rumor mengenai pasien ginjal kronis (PGK) dilarang mengonsumsi buah-buahan.
“Pasien dengan PGK dilarang mengonsumsi jenis buah-buahan. Siapa yang setuju ini? Itu mitos ya,” ujar Tunggul di Jakarta, Kamis (13/3).
Pasien penyakit ginjal kronis tetap diperbolehkan mengonsumsi buah-buahan, namun, dengan memilih buah-buahan yang rendah kalium dan tidak mengonsumsi dalam jumlah yang berlebihan.
Baca juga: Cari Tahu Penyakit di Tubuh dengan Pantau Warna Urin
Baca juga: Kualitas BBM RI Rendah Jadi Biang Kerok Polusi Udara
Adapun buah rendah kalium yang dia rekomendasikan adalah apel, blueberry, raspberry, anggur, persik, nanas, pir dan cranberry. Sedangkan buah tinggi kalium yakni pisang, kelapa, kurma, belimbing, alpukat, kiwi dan jambu biji.
Mitos lain yang dia ungkap adalah mengonsumsi obat hipertensi seumur hidup dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Tunggul menjelaskan obat bagi penderita penyakit ginjal kronis adalah untuk meringankan penyakit.
Anggota Dewan Pertimbangan Pengurus Besar Perkumpulan Nefrologi Indonesia (Pernefri) itu pun merekomendasikan agar penderita penyakit ginjal agar senantiasa berkonsultasi kepada dokter yang merawat terkait obat yang harus dikonsumsi.
“Penyakit ginjal merupakan keadaan ginjal yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya yang dapat bersifat akut dan kronik,” katanya.
Baca juga: Waspada Pneumonia, Bisa Mengancam Nyawa karena Kurang Istirahat
Penyakit ginjal juga terjadi karena aliran darah ke ginjal berkurang sehingga ginjal kurang oksigen dan rusak. Jaringan ginjal rusak disebabkan infeksi, obat-obatan dan zat kimia.
Pada kondisi seperti itu, urine pun menjadi terhambat karena tumor atau batu saluran kemih. Komplikasi penyakit ginjal kronis yang terjadi meliputi hipertensi, anemia, retensi garam dan air, penyakit kardiovaskular, gangguan mineral dan tulang, sirosis metabolik dan gangguan elektrolit dan sindrom uremia, yakni kondisi kadar urea dalam darah sangat tinggi sehingga menjadi racun dalam tubuh.
Dokter itu juga mengingatkan bahwa sebanyak 80 persen kasus penyakit ginjal kronis dapat dicegah atau diperlambat ketika ada kesadaran deteksi dini kesehatan ginjal.