apakabar.co.id, JAKARTA – Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) memastikan sedang fokus mengembangkan perusahaan rintisan (startup) di empat sektor.
Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki menerangkan keempat sektor tersebut di antaranya agribisnis, akuakultur, bisnis ramah lingkungan dan teknologi.
“Target pengembangan ‘startup’ pada keempat sektor ini menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan dampak positif sosial dan ekonomi nasional,” kata dia dalam sebuah diskusi kewirausahaan di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Rabu (27/3).
Saat ini terdapat 2.605 startup di tanah air, menjadikan Indonesia sebagai negara keenam dengan startup terbanyak di dunia. Dari sisi valuasi, terdapat 15 startup Indonesia yang tumbuh menjadi unicorn dan decacorn.
Sayangnya, ekonomi startup Indonesia selama ini dianggap Teten tidak terarah dan lebih berfokus pada jasa perdagangan dan pembiayaan yang menyebabkan kontribusi startup terhadap produk domestik bruto (PDB) masih rendah jika dibandingkan negara lain seperti China.
Karena itu, ekonomi digital Indonesia perlu mengubah arah dan fokus pada industri serta pemanfaatan teknologi seperti internet of things (IoT), kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), dan smart factory.
Teten mencontohkan China, di mana 41 persen ekonomi digital mereka memberi kontribusi terhadap PDB karena penggunaan IoT di sisi produksi dan industri. Sementara di Indonesia, fokusnya masih pada e-commerce.
Meskipun ada beberapa startup Indonesia yang sudah tumbuh menjadi unicorn, seperti eFishery untuk produk perikanan, Chickin untuk peternakan ayam, Jala untuk udang, Elevarm untuk hortikultura, Teten mengatakan bahwa ini belum cukup.
Terbuka Potensi Pengembangan
Teten menambahkan bahwa potensi pengembangan startup pada sektor agribisnis, akuakultur, bisnis ramah lingkungan, dan teknologi masih terbuka lebar. Untuk itu, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan harus memastikan empat tahapan pengembangan startup bisa dijalankan secara bersama-sama.
Keempat fase tersebut adalah kesesuaian dalam memberikan solusi suatu masalah, kesesuaian pasar produk, kesesuaian model bisnis, dan keberlanjutan bisnis.
Teten juga menyoroti salah satu permasalahan klasik yang dihadapi para startup adalah persoalan finansial. Dengan dana terbatas, startup sangat bergantung pada model pendanaan dari angel investor dan modal ventura, untuk mendorong pertumbuhan dan inovasi mereka.
Dia mengajak seluruh lembaga keuangan termasuk perusahaan modal ventura, bank, perusahaan fintech, aplikasi pendukung keuangan, dan lembaga donor untuk bersama-sama membantu start up dalam mengakses pembiayaan sesuai kebutuhan dan kemampuan mereka.
“Kami juga ingin melahirkan ekonomi baru, produk baru, karena kalau produk lama hanya akan menambah persaingan dan ini sudah terlalu ramai,” pungkasnya.