ENERGI KALIMANTAN

PHE-Medco Akuisisi PI ENI, Strategi Minimalkan Risiko atau Jalan Pintas Eksplorasi?

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto (kedua kanan) bersama Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia (tengah) dalam acara peresmian Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026). Foto: ANTARA
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto (kedua kanan) bersama Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia (tengah) dalam acara peresmian Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026). Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Akuisisi hak partisipasi perusahaan migas asal Italia, ENI, oleh PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan PT Medco Energi Internasional Tbk di tujuh wilayah kerja Kalimantan Timur memperlihatkan strategi perusahaan untuk masuk ke proyek yang prospek ekonominya telah terlihat.

Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto menilai langkah tersebut dapat membuka peluang ekonomi sekaligus menekan risiko eksplorasi yang belum tentu menghasilkan temuan komersial.

"Iya, itu cerdas namanya. Sudah ada proyek yang kelihatan ekonomis, langsung masuk. Daripada eksplorasi belum tentu dapat, lama lagi, ini tinggal ngambil duit aja," ujar Djoko ketika ditemui setelah acara Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10).

Pernyataan itu merujuk pada keputusan PHE dan MedcoEnergi mengambil alih masing-masing 10 persen hak partisipasi (participating interest/PI) milik ENI di sejumlah wilayah kerja migas Kalimantan Timur.

PHE, selaku Subholding Upstream Pertamina, mengakuisisi hak partisipasi ENI di tiga wilayah kerja, yakni North Ganal, Rapak, dan East Sepinggan. Melalui transaksi tersebut, PHE memiliki 10 persen PI di North Ganal dan Rapak, serta meningkatkan kepemilikannya di East Sepinggan dari 15 persen menjadi 25 persen.

Sementara itu, MedcoEnergi menandatangani kesepakatan untuk mengakuisisi 10 persen hak partisipasi nonoperator di empat kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur. Keempat wilayah tersebut adalah Muara Bakau, Ganal, West Ganal, dan East Ganal.

Wilayah kerja itu mencakup aset produksi, pengembangan, dan eksplorasi, termasuk penemuan gas berskala besar Geliga.

Peluang Ekonomi dan Risiko Eksplorasi

Akuisisi hak partisipasi memberi PHE dan MedcoEnergi akses ke portofolio proyek yang mencakup tahapan produksi hingga eksplorasi. Strategi ini berbeda dari memulai kegiatan pencarian minyak dan gas dari tahap awal, ketika hasil pengeboran dan kelayakan ekonominya belum dapat dipastikan.

Djoko menilai keterlibatan pada proyek yang prospek ekonominya sudah terlihat dapat memperkecil risiko kegagalan investasi.

"Jadi, risikonya itu kecil untuk itu rugi atau untuk itu tidak berhasil," kata Djoko.

Meski demikian, penilaian tersebut merupakan pandangan Djoko mengenai strategi akuisisi. Besarnya risiko dan potensi keuntungan setiap wilayah kerja tetap bergantung pada karakteristik aset, tahapan pengembangan, serta hasil kegiatan operasionalnya.

Akuisisi hak partisipasi juga tidak dengan sendirinya menghapus kebutuhan eksplorasi. Sebagian aset yang diambil alih masih mencakup kegiatan pengembangan dan eksplorasi, sehingga pencarian serta pembuktian cadangan tetap menjadi bagian dari pekerjaan hulu migas.

Akuisisi Bukan Pengganti Eksplorasi

Di tengah penilaiannya terhadap strategi PHE dan MedcoEnergi, Djoko tetap mendorong kedua perusahaan lebih agresif melakukan eksplorasi di dalam negeri.

Menurut dia, pencarian minyak dan gas baru merupakan bagian dari strategi untuk mencapai swasembada dan memperkuat ketahanan energi nasional.

"Harus eksplorasi juga dong. Belajar cari minyak," ucapnya. (ant)