1446
1446

350.org Kecewa, Elite Muhammadiyah Pilih Batu Bara ketimbang Energi Surya

Alat berat digunakan untuk memindahkan batu bara ke dump truck di tambang batubara yang dioperasikan oleh PT Khotai Makmur Insan Abadi di Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu (13/10/2021). Foto: Bloomberg/ Dimas Ardian

apakabar.co.id, JAKARTA – Indonesia Team Lead Interim 350.org Firdaus Cahyadi mengungkapkan, seharusnya Muhammadiyah lebih memilih memanfaatkan energi surya, seperti simbol organisasinya, ketimbang ikut-ikutan dalam mengelola izin tambang.

Padahal sebelumnya, generasi muda Muhammadiyah telah mengingatkan para elite di organisasi itu untuk membuka mata dan hatinya terkait dampak buruk batu bara. Pasalnya, keberadaan batu bara berdampak nyata terhadap kerusakan lingkungan hidup di tingkat lokal maupun di tingkat global, hingga mengakibatkan krisis iklim.

“Sangat pantas, bila umat Islam dan seluruh masyarakat Indonesia yang memiliki kesadaran ekologi kecewa terhadap elite Muhammadiyah karena telah memilih menjerumuskan organisasi itu untuk terlibat mengelola industri kotor batu bara,” ujarnya kepada apakabar.co.id, Kamis (25/7).

Kabar mengejutkan itu hadir pada Kamis, 25 Juli 2024, ketika Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas secara terang-terangan mengungkapkan keikutsertaannya dalam mengelola izin tambang. Langkah organisasi massa Islam terbesar kedua setelah Nahdlatul Ulama (NU) itu mengikuti jejak NU yang telah terlebih dahulu memutuskan menerima izin tambang.

Muhammadiyah, menurut Firdaus, memiliki kader-kader yang cerdas. “Mereka pasti mengetahui bahwa industri batu bara bukan hanya membuat kerusakan di muka bumi, namun juga tidak memiliki masa depan secara ekonomi,” ujarnya,

Saat ini, sejumlah bank internasional, telah memastikan berhenti untuk tidak lagi mendanai bisnis batu bara. Bahkan hal serupa mulai diterapkan oleh perbankan di Indonesia dengan membatasi pendanaan ke sektor energi kotor, batu bara.

Seharusnya, kata Firdaus Cahyadi, Muhammadiyah menunjukan kepemimpinannya untuk mengelola energi terbarukan di semua unit amal usahanya. Jika merujuk penelitian Celios dan 350.org Indonesia, energi terbarukan berbasis komunitas ternyata mampu menurunkan angka kemiskinan hingga lebih dari 16 juta orang,.

“Dari sisi ketenagakerjaan, terdapat peluang kesempatan kerja sebesar 96 juta orang di berbagai sektor tidak sebatas pada energi, namun industri pengolahan dan perdagangan juga ikut terungkit,” terangnya.

Namun ironis, kata Firdaus Cahyadi, para elite Muhammadiyah justru lebih memilih bisnis energi kotor batu bara. “Elite organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah harusnya lebih arif dan bijaksana dalam mengambil keputusan berdasarkan nurani dan akal sehat, bukan kepentingan jangka pendek,” jelasnya.

Elite organisasi keagamaan merupakan tempat mengadu umat. Karena itu perannya sebagai cahaya di tengah kegelapan harus memancar, bukan sebaliknya.

“Mematikan cahayanya sendiri dengan menjerumuskan organisasi dalam kubangan batu bara,” ujarnya.

Lebih jauh, Firdaus Cahyadi mengingatkan, apabila elite Muhammadiyah ingin berbisnis energi kotor batu bara, seharusnya tidak mengatasnamakan organisasi.

“Muhammadiyah terlalu besar bila harus tenggelam hanya karena batu bara,” tegasnya,

Firdaus Cahyadi khawatir, “Kekecewaan umat kepada elite Muhammadiyah bisa jadi akan merugikan seluruh amal usaha Muhammadiyah yang sudah besar itu.”

1,147 kali dilihat, 1 kunjungan hari ini
Editor: Jekson Simanjuntak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *