LIFESTYLE
Hana, Bring K-pop Not Coal: Cara Fans Tolak PLTU Batu Bara di Pulau Obi
Sejak awal April 2026, lebih dari 1.000 fans menandatangani petisi bertajuk Hana, Bring K-pop Not Coal, bentuk tekanan publik atas Hana Bank yang membiayai PLTU batu bara.
apakabar.co.id, JAKARTA– Musik, fandom, dan aksi iklim mungkin terdengar seperti tiga dunia yang berbeda. Namun bagi ribuan penggemar K-pop di Indonesia, ketiganya kini bertemu dalam satu kegelisahan: keterlibatan Hana Bank dalam pendanaan proyek nikel berbasis PLTU batu bara di Pulau Obi, Maluku Utara.
Sejak awal April 2026, lebih dari 1.000 fans menandatangani petisi bertajuk Hana, Bring K-pop Not Coal. Gerakan ini bukan sekadar tren digital, tetapi bentuk tekanan publik yang semakin terorganisir, dipicu kekecewaan atas respons Hana Bank yang dinilai tidak tegas.
Di balik layar konser, album, dan idol yang mereka dukung, para fans mulai mempertanyakan: apakah brand yang berkolaborasi dengan idola mereka juga sejalan dengan nilai keberlanjutan?
Dari fanbase ke aksi iklim
Gerakan ini digaungkan dalam talkshow No K-pop on a Dead Planet pada acara PE5TA WARGI K-POP di Jakarta, 18 April 2026. Acara tersebut menjadi ruang temu antara fandom dan isu lingkungan, dua hal yang kini semakin sering bersinggungan.
Nurul Sarifah, juru kampanye Kpop4Planet Indonesia, menyebut respons Hana Bank terhadap kritik publik masih jauh dari memadai.
"Dampak proyek nikel di Pulau Obi sudah jelas merusak lingkungan dan merugikan masyarakat. Namun, jawaban Hana Bank terkesan normatif dan tidak menunjukkan niat untuk berubah," ujarnya di Jakarta, Senin (20/4).
Kekecewaan itu bukan tanpa alasan. Pada 2022, Hana Bank diketahui mendanai proyek nikel milik Grup Harita senilai USD 84 juta, proyek yang ditopang oleh PLTU batu bara baru.
Padahal, setahun sebelumnya, Hana Financial Group telah menyatakan komitmen untuk menghentikan pembiayaan proyek batu bara secara global.
Pulau Obi dan jejak emisi besar
Pulau Obi kini menjadi salah satu pusat industri nikel di Indonesia. Di balik perannya dalam rantai pasok kendaraan listrik global, ada ketergantungan besar pada energi fosil.
Grup Harita saat ini membangun dan mengoperasikan PLTU berkapasitas 1,6 gigawatt (GW), dengan rencana ekspansi hingga lebih dari 4 GW.
Data dari Market Forces menunjukkan lonjakan emisi karbon yang signifikan. Pada 2022, emisi tercatat sebesar 3,74 megaton. Dua tahun kemudian, angka itu melonjak menjadi 10,87 megaton.
Senior Asia Energy Finance Campaigner Market Forces, Binbin Mariana, menegaskan pendanaan bank di proyek nikel Harita di Pulau Obi telah berkontribusi pada peningkatan emisi karbon dan kerusakan lingkungan.
"Emisi karbon Harita meningkat hampir 3 kali lipat, dari 3,74 megaton emisi karbon pada 2022 menjadi 10,87 megaton pada 2024," Binbin menegaskan.
Kenaikan tersebut, kata Binbin, setara dengan hampir 1 persen total emisi Indonesia, atau sebanyak emisi 2,5 juta mobil berbahan bakar fosil dalam satu tahun.
Bagi para fans, angka-angka ini bukan sekadar statistik. Ini menjadi dasar moral untuk bersuara.
Ketika idol dan isu lingkungan bertabrakan
Selama ini, Hana Bank dikenal aktif berkolaborasi dengan idol K-pop seperti G-Dragon (BigBang) dan An Yujin (IVE). Kolaborasi tersebut turut memperkuat citra brand di kalangan anak muda.
Namun, bagi sebagian fans, citra tersebut kini terasa kontradiktif.
Nunik, pengurus komunitas My Day and Jars Social Project, mengungkapkan kekecewaan yang dirasakan banyak penggemar.
"Kami mendukung idol dan brand yang mereka wakili. Tapi ketika brand tersebut terlibat dalam pendanaan energi kotor, kami merasa perlu bersuara," jelasnya.
Ia menambahkan, penggunaan figur publik tidak boleh menjadi alat untuk menutupi praktik yang berpotensi merusak lingkungan.
Respons Hana Bank dan Harita
Sebelumnya, pada Februari 2026, Kpop4Planet bersama 12 fanbase K-pop Indonesia telah mengirimkan surat terbuka ke Hana Bank di Seoul. Mereka mendesak penghentian pendanaan terhadap proyek yang masih bergantung pada batu bara.
Dalam tanggapannya, Hana Bank menyatakan akan mengembangkan kebijakan untuk mendukung pengurangan emisi karbon melalui penguatan manajemen risiko terkait batu bara.
Namun, pernyataan tersebut tidak disertai rencana konkret atau target waktu untuk menghentikan pendanaan.
Sementara itu, hingga saat ini belum ada pernyataan resmi terbaru dari Grup Harita yang secara langsung menanggapi kampanye para penggemar K-pop ini. Secara umum, perusahaan sebelumnya menyatakan bahwa pengembangan industri nikel merupakan bagian dari hilirisasi dan dukungan terhadap transisi energi global.
Tak lagi bisa diabaikan
Fenomena ini mencerminkan perubahan lanskap advokasi publik. Fans K-pop yang selama ini identik dengan aktivitas hiburan, kini menjadi bagian dari gerakan sosial yang lebih luas.
Mereka tidak hanya mengonsumsi budaya pop, tetapi juga mulai mengkritisi ekosistem di sekitarnya.
Di sisi lain, kasus ini menyoroti dilema besar dalam transisi energi: ketika industri yang mendukung masa depan rendah karbon, seperti nikel untuk baterai, justru masih bergantung pada energi fosil.
Bagi Hana Bank, tekanan ini bisa menjadi ujian konsistensi antara komitmen dan praktik. Bagi para fans, ini adalah cara untuk memastikan bahwa dukungan mereka tidak berkontribusi pada krisis yang lebih besar.
Dan bagi Pulau Obi, pertarungan ini masih jauh dari selesai. Dan yang pasti, bentang alam telah berubah.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK