LIFESTYLE

Krista InterFood 2026 Siap Digelar di NICE PIK2, Perkuat Rantai Pasok dan Akselerasi Pasar Global

Krista InterFood 2026 Siap Digelar di NICE PIK2, Perkuat Rantai Pasok dan Akselerasi Pasar Global. Foto: apakabar.co.id/DF
Krista InterFood 2026 Siap Digelar di NICE PIK2, Perkuat Rantai Pasok dan Akselerasi Pasar Global. Foto: apakabar.co.id/DF
apakabar.co.id, JAKARTA -  Industri makanan dan minuman (mamin) nasional mendapat peluang baru untuk memperluas jaringan bisnis dan menembus pasar internasional melalui penyelenggaraan Krista InterFood 2026.

Pameran internasional yang memasuki edisi ke-25 ini dijadwalkan berlangsung pada 4–7 November 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang, Banten, dengan menghadirkan lebih dari 1.100 peserta pameran dari 16 negara.

Mengusung tema The Expo Connecting Food & Beverage Business, Krista InterFood 2026 menargetkan puluhan ribu pengunjung bisnis dari dalam dan luar negeri, sekaligus menjadi ruang pertemuan bagi pelaku industri makanan dan minuman untuk memperluas kemitraan serta menjajaki peluang investasi.

Perhelatan pameran ini diawali dengan konferensi pers di Ruang Garuda, Kementerian Perindustrian, Jakarta, Rabu (28/10/2026), yang dihadiri perwakilan pemerintah, pimpinan asosiasi industri, pelaku usaha, hingga praktisi kuliner nasional.

CEO Krista Exhibitions, Daud Salim, mengatakan Krista InterFood tidak hanya menjadi ajang untuk memperkenalkan produk, tetapi juga platform yang mempertemukan berbagai pelaku usaha dalam satu ekosistem industri makanan dan minuman.

“Krista InterFood bukan sekadar ajang pameran produk, melainkan platform konektivitas bisnis komprehensif yang menghubungkan produsen, distributor, teknologi pengolahan, hingga konsumen akhir,” ujar Daud membuka acara diskusi di Gedung Kemenperin Jakarta, Rabu (28/10).

Menurutnya, inovasi dan kolaborasi menjadi faktor penting untuk meningkatkan daya saing produk makanan dan minuman Indonesia di tengah tantangan ekonomi global.

Sementara itu, CMO Krista Exhibitions, Christina Sudjie, menyebut penyelenggaraan tahun ini menghadirkan berbagai program baru, mulai dari kompetisi internasional, seminar teknologi pangan, hingga kegiatan business matching.

“Melalui program tersebut, kami berharap para peserta dan pengunjung dapat memperoleh peluang kerja sama bisnis yang lebih konkret,” tuturnya.

Kemenperin Dorong IKM Mamin Naik Kelas


Dukungan pemerintah terhadap penyelenggaraan Krista InterFood 2026 turut menjadi bagian penting dalam penguatan industri makanan dan minuman nasional.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka Kementerian Perindustrian, Reni Yanita, menilai pameran internasional seperti Krista InterFood dapat menjadi sarana promosi sekaligus pembinaan bagi industri kecil dan menengah (IKM).

Menurutnya, kesempatan bertemu langsung dengan pelaku industri global dapat membuka wawasan IKM mengenai standar kualitas, teknologi produksi, hingga pengembangan kemasan yang lebih kompetitif.

“Krista InterFood menjadi sarana pembinaan dan promosi yang sangat efektif bagi para pelaku IKM kuliner nasional untuk naik kelas,” ungkap Reni.

Dari sisi industri pengolahan, Direktur Jenderal Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, menyoroti besarnya kontribusi sektor agro terhadap perekonomian nasional.

Ia menilai pameran internasional dapat menjadi stimulus bagi industri makanan dan minuman untuk memperluas penetrasi pasar ekspor sekaligus mempercepat modernisasi mesin dan teknologi pengolahan pangan di dalam negeri.

Rantai Pasok dan Teknologi Pangan Jadi Perhatian


Selain penguatan kapasitas produksi, integrasi rantai pasok juga menjadi salah satu isu penting dalam pengembangan industri makanan dan minuman.

Sekretaris Jenderal Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Stefanus Indrayana, menekankan pentingnya keterhubungan antara produsen bahan baku dan industri pengolahan agar produk lokal semakin kompetitif.

“Melalui Krista InterFood 2026, produsen dalam negeri memiliki kesempatan memperkenalkan kualitas produknya sekaligus menjajaki kerja sama dengan berbagai pelaku industri,” terang dia.

Aspek distribusi juga menjadi perhatian melalui keterlibatan Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI).

Ketua Umum ARPI, Hasanuddin Yasni, mengatakan teknologi rantai dingin atau cold chain memiliki peran penting dalam menjaga kualitas bahan pangan selama proses penyimpanan dan distribusi.

“Investasi pada infrastruktur rantai dingin dapat membantu mengurangi kehilangan pangan atau food loss, sekaligus menjaga ketersediaan produk segar di pasar,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Produsen Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia (AP5I), Saut P. Hutagalung, melihat peluang besar untuk meningkatkan nilai tambah komoditas perikanan nasional.

“Pengembangan produk olahan perikanan dapat memperluas pasar, terutama untuk memenuhi kebutuhan sektor ritel modern maupun Horeka yang mencakup hotel, restoran, dan kafe,” imbuhnya.

Peluang Bisnis Ritel, Waralaba, dan Horeka


Krista InterFood 2026 juga menjadi ruang pertemuan bagi pelaku usaha yang bergerak di sektor distribusi, ritel, waralaba, hingga industri jasa makanan.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), Solihin, menyampaikan bahwa jaringan ritel modern memiliki peluang besar untuk membantu memperluas pemasaran produk makanan dan minuman lokal.

“Kehadiran produk-produk inovatif dalam pameran tersebut juga dapat menjadi referensi bagi peritel untuk menemukan produk baru yang sesuai dengan kebutuhan konsumen,” ucap dia.

Dari sisi pengembangan bisnis, Ketua Umum Asosiasi Lisensi Indonesia (ASENSI), Susanty Widjaya, menyoroti potensi model bisnis waralaba dan lisensi untuk mempercepat ekspansi usaha F&B.

“Krista InterFood dapat mempertemukan pemilik merek lokal dengan calon investor maupun mitra bisnis yang ingin mengembangkan usaha melalui skema kemitraan,” ujarnya.

Sektor hotel, restoran, dan kafe juga menjadi bagian dari ekosistem yang mendapatkan manfaat dari penyelenggaraan pameran ini.

Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi B. S. Sukamdani, mengatakan kebutuhan terhadap bahan baku berkualitas dan teknologi dapur komersial menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi layanan industri Horeka.

Senada, Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (APKRINDO), Ferry Setiawan, melihat perkembangan bisnis kafe dan restoran membuka peluang bagi pelaku usaha untuk terus berinovasi melalui penggunaan bahan baku serta peralatan yang lebih modern.

Kompetisi Chef hingga Inovasi Pastry dan Bakery


Tidak hanya berorientasi pada transaksi bisnis, Krista InterFood 2026 juga menghadirkan program yang berkaitan dengan pengembangan kompetensi sumber daya manusia di industri kuliner.

Ketua Umum Ikatan Ahli Boga Indonesia (IKABOGA), Retno Multriarti, menekankan pentingnya menjaga warisan kuliner Nusantara agar tetap berkembang mengikuti kebutuhan pasar tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.

Sementara itu, President Association of Culinary Professionals (ACP), Chef Rafael Triloko Basanto, menyebut kompetisi memasak internasional yang digelar dalam rangkaian pameran menjadi kesempatan bagi para koki Indonesia untuk mengasah kemampuan dan kreativitas.

Dukungan terhadap perkembangan industri pastry dan bakery juga disampaikan President Indonesian Pastry & Bakery Society (IPBS), Chef Louis Tanuhadi.

“Perkembangan industri roti dan kue membutuhkan dukungan teknologi pemanggangan serta bahan baku berkualitas untuk mendorong inovasi produk,” pungkasnya.

Melalui berbagai program tersebut, Krista InterFood 2026 diharapkan tidak hanya menjadi tempat bertemunya pelaku bisnis, tetapi juga mendorong peningkatan kompetensi dan kualitas produk industri kuliner nasional.

Dengan melibatkan lebih dari 1.100 peserta pameran dari 16 negara, penyelenggaraan edisi ke-25 ini menjadi salah satu momentum bagi industri makanan dan minuman Indonesia untuk memperluas jejaring, meningkatkan kapasitas produksi, serta memperkuat daya saing di pasar internasional.