Rekayasa, Noda Darah, dan Sosok Tak Tersentuh di Balik Tragedi Muara Kate

Rekayasa, Noda Darah, dan Sosok Tak Tersentuh di Balik Tragedi Muara Kate

Tersangka Tragedi Muara Kate saat digiring polisi menuju sidang. Foto: istimewa

apakabar.co.id, PASER – Hampir sembilan bulan setelah pembunuhan Russell di Muara Kate, Paser, Kalimantan Timur, aparat menetapkan Misrantoni (60) sebagai tersangka.

Namun, bukannya melegakan publik, keputusan ini justru memantik gelombang protes dan keraguan: benarkah penyidikan mengarah ke pelaku sesungguhnya, atau justru tengah dikendalikan kekuatan di luar hukum?

Misrantoni adalah tokoh lokal, sahabat dekat korban, dan sama-sama aktif menolak aktivitas hauling batu bara oleh PT Mantimin Coal Mining (MCM) di jalan negara.

“Mustahil dia pelakunya. Ini seperti sandiwara. Kuat dugaan ada upaya pengalihan isu dan pengkambinghitaman,” kata Joshua, pemuda Muara Kate yang aktif di posko warga.

Joshua menyebut, saat insiden terjadi dini hari 15 November 2024, Misrantoni justru berada di penginapan bersama Panglima Pajaji—tokoh adat sekaligus penanggung jawab hauling PT MCM—dan dua warga lain. Mereka bertemu atas undangan langsung dari Pajaji, sebelum jenazah Russell dimakamkan.

“Dia yang menjemput. Kami semua tahu itu,” kata Joshua.

Pertemuan itu digelar di RA Cafe. Menurut warga, Pajaji menginterogasi para tokoh warga soal penyerangan di posko dan sikap mereka ke depan. Warga heran, sebab peran itu sejatinya bukan kewenangannya. “Kalau bilang interogasi, memang dia penyidik?” ujarnya.

Sementara polisi menjadikan noda darah di baju Misrantoni sebagai bukti, warga menyebut darah itu berasal saat ia membantu menjahit luka di tubuh Russell, sesaat setelah penyerangan.

“Dia evakuasi korban tanpa sarung tangan. Banyak yang lihat,” ungkap seorang warga.

Anak Misrantoni, Andre, membenarkan bahwa ayahnya ada di rumah saat malam kejadian. “Saya pulang jam empat pagi dari kebun, bapak masih tidur,” katanya.

Penetapan Misrantoni sebagai tersangka tak hanya dianggap janggal. Warga mulai menaruh curiga lebih dalam kepada sosok Panglima Pajaji, yang belakangan diketahui membawa dua pemuda Muara Kate ke Balikpapan.

Salah satunya adalah saksi kunci. Alasannya, menurut Pajaji, mereka akan dibawa ke Polda Kalsel karena ada pelaku yang menyerahkan diri.

Tapi selama tiga hari di Balikpapan, para pemuda itu malah dibawa ke tempat-tempat yang tak berkaitan dengan penyidikan: indekos, showroom mobil, kantor ormas, hingga bertemu direksi PT MCM dan seorang bakal calon kepala daerah.

“Dari situ kami tahu ada dana Rp500 juta yang katanya buat pemenangan pilkada,” kata warga.

Tak ada pembahasan kasus Muara Kate. Bahkan, saat keberadaan para saksi diketahui warga, mereka dijemput paksa. Pajaji sempat marah dan mengancam lewat telepon, tapi kemudian meminta maaf.

Bagi warga, ini bukan perkara sepele. “Saksi kunci belum sempat diperiksa penyidik, malah dibawa keliling. Apa maksudnya?”

Ancaman pun datang menyusul. Isu penyerangan kembali mencuat usai video seorang tokoh adat yang mengkritik Pajaji beredar. Namun hingga kini, serangan itu tak terjadi.

Warga juga menyoroti sikap aparat. Mereka menyebut penggeledahan rumah Misrantoni dan pembongkaran makam Russell dilakukan tanpa pemberitahuan resmi. Padahal selama ini, warga justru yang aktif mendesak pengusutan.

“Kami tak diberi kabar. Tahu-tahu diumumkan tersangka. Katanya ada puluhan petunjuk, tapi itu belum cukup meyakinkan,” ujar Andre.

Saksi-saksi dari pihak keluarga, seperti ibu dan adik Andre, yang menyatakan Misrantoni di rumah, tak diakui secara hukum. Warga juga mulai curiga pada Anson—satu-satunya korban selamat—yang kini disebut lebih dekat dengan aparat.

“Beliau dulu sempat berselisih soal dana posko. Sejak itu, lebih dekat dengan polisi. Bahkan dua polisi yang berjaga saat kejadian disebut jadi anak angkatnya,” tambah Andre.

Rumor bahwa keluarga Misrantoni tiba-tiba kaya juga ditepis. “Kami beli mobil dari uang ganti rugi sawit di Tamiang Layang. Ada bukti kuitansinya,” ujarnya.

Di tengah kecurigaan warga, nama Pajaji makin sering disebut tapi belum pernah tersentuh penyidikan. Ia adalah aktor kunci di lapangan, punya akses ke perusahaan, ormas, dan elite politik. Namun hingga kini, belum ada langkah konkret dari kepolisian.

“Kalau dia memang bersih, kenapa tak diperiksa terbuka saja?” tegas warga.

Konflik warga dengan PT MCM bermula sejak 2023. Truk-truk hauling batu bara melintasi jalan negara, menyebabkan kecelakaan dan kerusakan jalan. Korban jiwa mulai berjatuhan. Seorang ustaz, Teddy, tewas Mei 2024. Oktober, giliran Pendeta Veronika meninggal.

Tragedi Muara Kate, yang menewaskan Russell dan melukai Anson, adalah puncaknya. Aksi warga pun meluas hingga ke Kantor Gubernur Kaltim dan DPRD Kalsel, menuntut penutupan jalur hauling ilegal.

LBH Samarinda menyebut PT MCM tak hanya melanggar Perda Nomor 10 Tahun 2012 dan UU Minerba, tapi juga menggunakan taktik represif. “Mereka memanfaatkan ormas dan vendor untuk membungkam warga,” ujar Irfan dari LBH Samarinda.

Kompolnas mengaku telah memberi rekomendasi ke Polres Paser, tapi belum dibuka ke publik. “Yang penting, biar alat bukti diuji di pengadilan,” kata Komisioner Irjen (Purn) Ida Oetari.

Ketua Indonesia Police Watch (IPW), Sugeng Teguh Santoso, mendesak Kapolda Kaltim Irjen Endar Priantoro segera menuntaskan penyidikan. “Kasus ini sudah diatensi Mabes Polri, termasuk Propam,” ujarnya.

Upaya konfirmasi media ke kantor pusat PT MCM di Cityloft Apartment, Jakarta, gagal. Resepsionis menyebut kantor tersebut sudah lama tutup. Pihak perusahaan tak merespons pesan maupun panggilan.

Sementara itu, Panglima Pajaji juga belum menjawab konfirmasi resmi dari redaksi hingga berita ini diterbitkan.

 

35 kali dilihat, 4 kunjungan hari ini
Editor: Raikhul Amar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *