OTOTEKNO

4 Jurus VinFast Mengubah Cara Melihat Motor Listrik, dari Berangkat Kerja hingga Mengejar Mimpi

VinFast bawa Evo, Feliz II dan Viper ke Indonesia. Harga mulai Rp17 jutaan, jarak tempuh hingga 150 km, plus teknologi battery swapping.
4 Jurus VinFast Mengubah Cara Melihat Motor Listrik, dari Berangkat Kerja hingga Mengejar Mimpi. Foto: dok. Vinfast
4 Jurus VinFast Mengubah Cara Melihat Motor Listrik, dari Berangkat Kerja hingga Mengejar Mimpi. Foto: dok. Vinfast
apakabar.co.id, JAKARTA - Bagi sebagian orang, sepeda motor listrik masih sebatas kendaraan tanpa suara mesin dan tanpa bensin. Namun bagi VinFast, pertarungannya di Indonesia jauh lebih besar dari sekadar mengganti sumber tenaga.

Vinfast ingin membuktikan bahwa motor listrik bisa masuk ke rutinitas masyarakat Indonesia, menemani perjalanan sejak pagi, menembus padatnya lalu lintas, menjalankan berbagai aktivitas hingga kembali ke rumah pada malam hari.

Gagasan tersebut menjadi semakin jelas ketika Pabrikan asal Vietnam itu memperkenalkan tiga motor listrik sekaligus untuk pasar Indonesia, yakni Evo, Feliz II dan Viper pada 18 Juli 2026.

Ketiga sepeda motor listrik tersebut memang berbeda karakter, tetapi memiliki satu tujuan yang sama, yakni menjadikan kendaraan listrik sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Menariknya, VinFast tidak hanya mengandalkan spesifikasi dan harga untuk merebut perhatian konsumen dan para pencinta otomotif roda dua di Tanah Air.

4 Tema Andalan Vinfast

Terdapat empat cerita yang dibangun untuk mendekatkan motor listriknya dengan kehidupan pengguna, yaitu “One Day with VinFast E-Motorcycle”, “My VinFast E-Motorcycle, My Everyday Partner”, “If I Could Save More Every Month with VinFast E-Motorcycle”, serta “The First Place I’d Go with My VinFast E-Motorcycle”.

Empat tema besar tersebut sebenarnya menyentuh empat pertanyaan sederhana yang kemungkinan muncul di benak calon konsumen.

Sepraktis apa motor listrik untuk digunakan seharian? Benarkah bisa menjadi partner mobilitas? Seberapa besar penghematan yang bisa diperoleh? Dan yang paling personal, kalau punya motor listrik, akan dibawa ke mana untuk pertama kalinya?

Di sinilah strategi VinFast menjadi menarik. Menurut Managing Director VinFast E-Motorcycle Overseas Market, Vo Thi Cam Tu, Indonesia merupakan salah satu pasar roda dua terbesar dan paling dinamis di dunia.

“Indonesia merupakan salah satu pasar roda dua terbesar dan paling dinamis di dunia,” ujar Vo Thi Cam Tu saat peluncuran di Jakarta pada pertengahan Juli 2026 lalu.
Pernyataan tersebut sekaligus menggambarkan mengapa Indonesia menjadi arena penting bagi VinFast. Dan bagi mereka, motor bukan sekadar alat transportasi bagi masyarakat.

Motor digunakan untuk berangkat bekerja, mengantar anak, kuliah, berbelanja, bertemu teman, menjalankan usaha, hingga sekadar mencari udara segar pada akhir pekan.

Artinya, kendaraan yang ingin memenangkan hati konsumen harus mampu mengikuti ritme kehidupan tersebut.

Di sinilah VinFast Evo mengambil peran pertama. Evo dirancang sebagai motor listrik untuk mobilitas perkotaan dengan jarak tempuh yang diklaim mencapai 150 km.

Motor ini menggunakan baterai lithium iron phosphate atau LFP 1,5 kWh yang dapat digunakan satu maupun dua unit. Jika menggunakan dua baterai, kapasitas totalnya menjadi 3 kWh.

Konfigurasi tersebut membuat Evo diklaim mampu melaju hingga 150 km dalam sekali pengisian, dengan tenaga maksimum 5.200 watt dan kecepatan puncak 80 km/jam.

Di atas kertas, angka tersebut cukup menggambarkan bagaimana Evo diarahkan untuk menghadapi rutinitas perkotaan.

Dimensinya juga relatif kompak dengan panjang 1.850 mm, lebar 675 mm, tinggi 1.130 mm dan wheelbase 1.295 mm.

Pengguna yang memakai dua baterai membutuhkan waktu pengisian sekitar sembilan jam dari kondisi kosong hingga penuh.

Sementara dengan satu baterai, waktu pengisian sekitar 4,5 jam. Namun, VinFast menawarkan jawaban untuk persoalan klasik motor listrik: waktu tunggu pengisian baterai.
Melalui konsep battery swapping, pengguna tidak harus selalu menunggu baterai terisi ketika energi mulai habis.

Baterai kosong dapat ditukar dengan baterai yang telah terisi di fasilitas penukaran. Inilah bagian yang membuat tema “One Day with VinFast E-Motorcycle” menjadi lebih relevan.

Bayangkan sebuah motor digunakan untuk berangkat kerja pada pagi hari, menjalankan aktivitas sepanjang siang, lalu digunakan kembali pada sore hingga malam.

Dalam skenario seperti itu, waktu menjadi sama pentingnya dengan jarak tempuh. Maka, motor listrik bukan hanya dituntut irit, tetapi juga harus praktis. Evo sendiri dipasarkan dengan harga mulai Rp17,5 juta OTR Jakarta.

Lalu bagaimana jika kebutuhan pengguna sedikit lebih tinggi? VinFast memiliki Feliz II dengan dimensi panjang 1.913 mm, lebar 693 mm, tinggi 1.130 mm dan wheelbase 1.320 mm.

Skutik listrik ini menawarkan kecepatan maksimum 90 km/jam, dengan karakter yang lebih mengarah pada kebutuhan mobilitas harian sekaligus performa.

Baterainya juga menggunakan teknologi LFP dengan kapasitas 1,5 kWh per baterai dan dapat menggunakan dua baterai. Dengan dua baterai, jarak tempuh yang diklaim mencapai 145 km.

Tenaga maksimumnya mencapai 5.200 watt, sementara akselerasi 0-50 km/jam diklaim sekitar enam detik dengan pengendara berbobot 65 kg.

Untuk pengisian dua baterai dari kosong hingga penuh, waktunya sekitar sembilan jam. Jika hanya menggunakan satu baterai, sekitar 4,5 jam.

Feliz II juga membawa lampu LED projector, panel instrumen LED berwarna, hydraulic damper dan perlindungan IP67. Harga yang ditawarkan mulai Rp18,5 juta OTR Jakarta.

Namun, angka spesifikasi tersebut baru menjawab sebagian kebutuhan konsumen. Sebab motor yang dipakai setiap hari pada akhirnya bukan hanya dinilai dari berapa kilometer jarak tempuhnya.

Hal itu juga dinilai dari seberapa nyaman digunakan, seberapa mudah dioperasikan, seberapa praktis dirawat dan seberapa masuk akal biaya yang dikeluarkan setiap bulan.

Di sinilah tema kedua VinFast, “My VinFast E-Motorcycle, My Everyday Partner”, menemukan konteksnya.

VinFast ingin motor listrik tidak berhenti sebagai produk yang menarik ketika dipajang di showroom.

Kendaraan tersebut harus mampu menjadi partner yang benar-benar hadir dalam rutinitas pemiliknya.
Sementara bagi konsumen yang ingin tampil berbeda, ada Viper yang menjadi model dengan karakter paling sporty di antara ketiganya.

Motor listrik ini memiliki panjang 1.950 mm, lebar 712 mm, tinggi 1.122 mm dan wheelbase 1.320 mm. Harga Viper dipatok mulai Rp22 juta OTR Jakarta.

Sama seperti Evo dan Feliz II, Viper menggunakan baterai LFP berkapasitas 1,5 kWh per unit. Dengan dua baterai, jarak tempuhnya diklaim mencapai 145 km.

Tenaga maksimum mencapai 5.200 watt, sedangkan kecepatan puncaknya 90 km/jam. Untuk akselerasi 0-50 km/jam diklaim sekitar enam detik dengan pengendara berbobot 65 kg.

Yang membedakan Viper bukan hanya desain. VinFast membekalinya dengan Smart TFT Display, Smart Key dengan fungsi penguncian dan pembukaan dari jarak jauh, fitur antimaling, pencarian kendaraan melalui Bluetooth dan GPS, LED projector serta perlindungan IP67.

Dengan demikian, VinFast tidak menempatkan tiga motor tersebut untuk bertarung di arena yang sama.

Evo menjadi pilihan untuk konsumen yang mengutamakan mobilitas perkotaan. Feliz II bermain di area kebutuhan harian dengan tambahan performa dan kenyamanan.

Sementara Viper mencoba menggoda konsumen yang ingin motor listrik dengan karakter lebih sporty dan fitur lebih lengkap.

Tetapi ada satu benang merah yang mengikat ketiganya: baterai LFP dan battery swapping. Dan justru di sinilah salah satu pertarungan terbesar VinFast di Indonesia berada.

Sebab konsumen Indonesia mungkin bisa menerima bahwa motor listrik tidak menggunakan bensin.

Namun, mereka belum tentu mau menerima kendaraan yang membuat aktivitas terhenti terlalu lama hanya karena harus menunggu baterai terisi.

Battery swapping mencoba menghapus kekhawatiran tersebut. Bagi pengguna yang menjadikan motor sebagai kendaraan utama untuk bekerja atau menjalankan aktivitas harian, waktu berhenti bisa menjadi persoalan besar.

Ketika baterai dapat ditukar, kendaraan berpotensi kembali digunakan tanpa harus menunggu proses pengisian berjam-jam.

Konsep tersebut kemudian bertemu dengan tema ketiga VinFast, “If I Could Save More Every Month with VinFast E-Motorcycle”.

Pertanyaannya sederhana: berapa banyak uang yang bisa diselamatkan jika motor tidak lagi bergantung pada bensin?

Motor listrik menawarkan biaya energi yang berbeda dibandingkan motor bermesin pembakaran internal.

Selain tidak membutuhkan bensin, konstruksi sistem penggeraknya juga lebih sederhana. Artinya, perhitungan keuntungan kepemilikan tidak semata-mata berhenti pada harga beli.

Konsumen juga bisa melihat biaya penggunaan sehari-hari, kebutuhan perawatan dan kepraktisan dalam jangka panjang.

VinFast bahkan sebelumnya menawarkan pilihan skema kepemilikan baterai dalam program early booking, yakni berlangganan baterai atau membeli kendaraan sekaligus baterainya.

Dengan model seperti ini, pembelian motor listrik perlahan mulai bergeser dari sekadar “berapa harga motornya?” menjadi “berapa biaya yang harus saya keluarkan untuk menggunakannya setiap bulan?”

Ini merupakan perubahan cara berpikir yang penting dalam pasar kendaraan listrik.

Sebab kendaraan yang murah ketika dibeli belum tentu murah ketika digunakan.

Sebaliknya, kendaraan dengan harga awal lebih tinggi bisa menjadi menarik jika biaya operasionalnya jauh lebih rendah. Tetapi VinFast rupanya tidak ingin semua cerita berhenti di kalkulator.

Tema keempat, “The First Place I’d Go with My VinFast E-Motorcycle”, membawa pendekatan yang lebih emosional.

Motor bukan hanya benda yang membawa seseorang dari titik A ke titik B. Tapi juga membawa pengalaman.

Ada perjalanan pertama ke kantor. Ada perjalanan pertama bersama pasangan. Ada rute favorit menuju tempat nongkrong.

Dan ada pula perjalanan spontan ke sebuah tempat yang selama ini hanya ada dalam daftar keinginan.

Dengan pendekatan tersebut, VinFast mencoba mengubah pembicaraan tentang motor listrik dari sekadar jarak tempuh, watt, kapasitas baterai dan kecepatan menjadi cerita mengenai apa yang bisa dilakukan konsumen bersama kendaraannya.

Dan pendekatan itu penting karena adopsi kendaraan listrik pada akhirnya bukan hanya persoalan teknologi, tapi juga persoalan kebiasaan.

Konsumen harus merasa bahwa kendaraan listrik tidak membuat kehidupannya menjadi lebih rumit.

Sebaliknya, kendaraan tersebut harus mampu membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih mudah.

VinFast tampaknya memahami bahwa menjual motor listrik di Indonesia bukan sekadar menjual motor.

Perusahaan juga harus membangun ekosistem. Sebab secanggih apa pun motor listriknya, konsumen tetap akan bertanya, bagaimana kalau baterai habis, di mana menukarnya, bagaimana layanan purnajualnya dan apakah produknya akan terus tersedia dalam jangka panjang?

Karena itu, langkah VinFast menuju produksi lokal menjadi bagian penting dari cerita tersebut.

“otor listrik VinFast yang dipasarkan di Indonesia saat ini masih berstatus completely built-up (CBU),” ungkap CEO VinFast Indonesia E-Motorcycle, Yordan Satriadi.

Namun perusahaan menyiapkan langkah menuju produksi lokal melalui fasilitas perakitan di Subang, Jawa Barat, dengan skema completely knocked-down (CKD) yang ditargetkan mulai berjalan pada 2027.

Jika terealisasi, langkah tersebut bukan hanya soal meningkatkan kapasitas bisnis. Produksi lokal juga akan menjadi sinyal bahwa VinFast ingin bermain lebih panjang di pasar Indonesia. 

Di titik inilah empat tema yang dibawa VinFast mulai saling terhubung. Dan dari sinilah perjalanan pertama VinFast bersama konsumen Indonesia sebenarnya baru dimulai.