LINGKUNGAN HIDUP
Lukisan Purba Tertua di Dunia Terancam Karhutla
Jika suhu tubuh manusia saja dianggap berpengaruh terhadap kerusakan lukisan, bagaimana dengan kebakaran.
apakabar.co.id, JAKARTA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan karst Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan, bukan hanya mengancam hutan dan habitat satwa. Warisan manusia purba berupa lukisan cadas di dalam gua juga menghadapi risiko kerusakan permanen.
Arkeolog Griffith University, Australia, Basran Burhan, memperingatkan kebakaran yang meluas di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) dapat merusak situs prasejarah, terutama gua yang menyimpan gambar cadas.
"Kebakaran yang terjadi di kawasan situs arkeologi terutama yang menyimpan gambar cadas terancam rusak bila kebakaran tidak dipadamkan," kata Basran merespons karhutla di Pangkep, ditulis Sabtu (17/10).
Basran yang bertahun-tahun meneliti situs prasejarah di kawasan tersebut menjelaskan kerusakan dapat terjadi meskipun api tidak menyentuh lukisan secara langsung. Panas ekstrem dan jelaga dari asap kebakaran menjadi dua ancaman utama bagi peninggalan yang telah bertahan selama puluhan ribu tahun itu.
"Tanpa ada api langsung yang menyentuh lukisan, itu bisa merusak lukisan. Karena dia mengubah temperatur di sekitar gambar yang bisa mempercepat proses pelapukan. Apalagi kalau sampai api itu menyentuh lukisannya," tutur Basran.
Perubahan suhu secara drastis dapat memicu pemuaian pada batuan gamping yang menjadi media lukisan. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan retakan mikro pada batuan, yang kemudian dapat merambat hingga lapisan pigmen dan menyebabkan pengelupasan.
Kerusakan pada lapisan gambar itu dikhawatirkan bersifat permanen dan sulit dipulihkan. Artinya, ancaman kebakaran tidak hanya menyangkut hilangnya vegetasi, tetapi juga kemungkinan rusaknya jejak seni dan kehidupan manusia purba.
Jelaga Bisa Menutupi Lukisan
Ancaman kedua datang dari asap kebakaran. Partikel karbon yang terbawa asap dapat menempel pada permukaan dinding gua dan membentuk lapisan jelaga yang menutupi detail gambar.
"Itu dapat membuatnya kabur dan sulit diidentifikasi. Lukisannya juga akan tertutup dengan jelaga itu. Kita sulit melihat bentuk gambarnya seperti apa, dan sulit melihat warna asli dari pigmennya," paparnya.
Jelaga dapat mengaburkan bentuk gambar sekaligus menyulitkan identifikasi warna asli pigmen. Sementara itu, perubahan suhu di sekitar gua berpotensi mempercepat pelapukan batuan dan merusak lapisan lukisan.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena kawasan Maros-Pangkep menyimpan gambar cadas berusia lebih dari 45.000 tahun. Pada dinding gua-gua kapur, manusia purba meninggalkan gambar babi rusa dan cap tangan yang menjadi bagian penting dari sejarah awal seni manusia.
Konservasi Ketat, Karhutla Jadi Ancaman
Selama ini, upaya pelestarian lukisan gua dilakukan dengan pembatasan ketat terhadap aktivitas pengunjung. Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan menerapkan batas maksimal lima orang dalam satu gua.
Pembatasan tersebut bertujuan mencegah kerusakan fisik sekaligus menjaga suhu dan kelembapan lingkungan gua. Bahkan, perubahan akibat suhu tubuh manusia diperhitungkan dapat memengaruhi kelestarian lukisan dalam jangka panjang.
Basran menilai kebakaran menghadirkan ancaman yang jauh lebih besar terhadap kondisi lingkungan tersebut.
"Jika suhu tubuh manusia saja dianggap berpengaruh terhadap kerusakan lukisan, apalagi kebakaran. Ini bukan hanya persoalan karhutla, tetapi juga perubahan iklim mikro di dalam lingkungan gua," kata Basran.
Perubahan iklim mikro di dalam gua menjadi persoalan penting karena kondisi suhu dan kelembapan turut memengaruhi pelestarian gambar cadas. Ketika kebakaran meluas di kawasan karst, panas dan asap berpotensi mengganggu kondisi lingkungan yang selama ini dijaga.
Lahan Terbakar Meluas hingga 93,43 Hektare
Kepala Balai Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Abdul Rajab, menyebut luas lahan yang terbakar pada Senin (12/10/2026) mencapai 34,74 hektare. Angka itu meningkat menjadi 93,43 hektare pada Kamis (15/10/2026).
Informasi awal kebakaran diterima dari Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, pada Minggu (11/10/2026) sekitar pukul 21.00 WITA.
Selain menghanguskan vegetasi di kawasan karst hingga bagian puncaknya, kebakaran juga mengancam habitat satwa endemik yang dilindungi dan keanekaragaman hayati di kawasan taman nasional tersebut.
Ancaman terhadap lukisan cadas menambah panjang dampak karhutla di Bantimurung-Bulusaraung. Peninggalan yang bertahan selama puluhan ribu tahun itu kini menghadapi risiko kerusakan akibat perubahan suhu dan jelaga, bahkan tanpa harus tersentuh api secara langsung. (ant)
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR
