OPINI
Koding Kecerdasan Artifisial dalam Pembelajaran Mendalam
Oleh: Ali Saukah*
Siapa yang masuk ke sebuah rumah yang terkunci? Pertanyaan sederhana ini pernah menjadi teka-teki dalam sebuah keluarga besar. Tidak ada yang melihat langsung siapa yang masuk. Petunjuknya adalah daftar anggota keluarga yang sudah hadir dan yang belum. Dengan membandingkan keduanya, kemungkinan jawaban dapat dieliminasi hingga ditemukan orang yang dicari.
Seorang anak berusia enam tahun yang masih duduk di taman kanak-kanak (TK) mampu menjawab teka-teki itu dengan benar. Ia, bahkan dapat menjelaskan alasannya: menghitung siapa yang sudah hadir dan siapa yang belum. Anak itu belum belajar bahasa pemrograman, tetapi telah menunjukkan kemampuan mengumpulkan informasi, membandingkan fakta, mengeliminasi kemungkinan, dan menarik kesimpulan secara sistematis.
Pengalaman tersebut menggambarkan titik temu dua kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen): pembelajaran mendalam (PM) serta koding dan kecerdasan artifisial (KKA). Keduanya berbeda fungsi, tetapi dapat saling menguatkan dalam mengembangkan kemampuan berpikir, memecahkan masalah, dan memanfaatkan teknologi secara bertanggung jawab.
Mengutamakan Mutu
Pembelajaran mendalam atau deep learning bukan kurikulum baru, melainkan pendekatan yang menekankan proses belajar berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan melalui olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga secara holistik dan terpadu.
Murid tidak cukup mengingat informasi atau meniru contoh. Mereka perlu mengalami proses memahami pengetahuan, mengaplikasikannya dalam konteks yang relevan, dan merefleksikan proses serta hasilnya. Guru bukan sekadar penyampai materi, melainkan perancang pengalaman yang membantu murid membangun pemahaman, menguji gagasan, dan menjelaskan alasan di balik kesimpulannya.
Menggembirakan pun tidak sekadar berarti belajar sambil bermain. Kegembiraan muncul pula ketika murid berhasil memahami sesuatu yang semula sulit dan merasakan kepuasan atas pencapaiannya. Dengan demikian, mutu pembelajaran tidak ditentukan oleh banyaknya materi yang selesai atau canggihnya perangkat yang digunakan.
KKA: Belajar Berpikir
Koding tidak seharusnya dipersempit menjadi kegiatan mengetik kode di komputer. Di balik program terdapat algoritma, yakni urutan langkah sistematis untuk menyelesaikan masalah. Anak dapat mulai mengenali pola, mengurutkan langkah, mengelompokkan benda, dan menemukan kesalahan melalui permainan tanpa perangkat digital (unplugged).
Pada teka-teki tadi, guru dapat melanjutkan pertanyaan: "Bagaimana kamu tahu?", "Mengapa memilih jawaban itu?", atau "Apa yang berubah jika ada informasi baru?" Anak tidak hanya memberikan jawaban, tetapi juga belajar menjelaskan dan mengevaluasi proses berpikirnya. Pengalaman ini memperlihatkan bagaimana kegiatan yang sesuai dengan perkembangan anak dapat menjadi fondasi berpikir komputasional.
Kecerdasan artifisial (AI) memperluas peluang belajar, sekaligus menghadirkan tantangan baru. AI dapat menghasilkan jawaban dengan cepat, tetapi jawaban yang meyakinkan belum tentu benar. Murid perlu belajar memeriksa informasi, membandingkan sumber, mengenali kesalahan, dan mempertimbangkan etika penggunaan teknologi. Mereka tidak boleh sekadar menerima keluaran AI sebagai kebenaran atau menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.
Lintas Mata Pelajaran
KKA dapat dipelajari sebagai mata pelajaran pilihan sesuai ketentuan dan kesiapan satuan pendidikan, sekaligus menjadi konteks pembelajaran lintas muatan (learning across the curriculum).
Integrasi ini bukan berarti semua mata pelajaran berubah menjadi pelajaran pemrograman, melainkan menggunakan cara berpikir komputasional dan teknologi ketika relevan dengan tujuan belajar. Sebagai contoh, murid dapat mengerjakan proyek "Mengurangi Sampah Plastik di Sekolah".
Dalam Sains, mereka mengamati jenis dan jumlah sampah. Dalam Matematika, mereka mengolah data dan membandingkan hasil pengukuran. Dalam Bahasa Indonesia, mereka menyusun laporan dan memeriksa ketepatan informasi, termasuk informasi yang diperoleh dari AI.
Dalam KKA, mereka merancang algoritma sederhana untuk mengelompokkan sampah atau membuat simulasi pengurangan sampah. Dalam Seni, mereka membuat poster kampanye berdasarkan temuan proyek. Murid kemudian mempresentasikan hasilnya, menjelaskan dasar kesimpulan, dan merefleksikan apakah solusi yang diusulkan dapat diterapkan.
AI boleh membantu mengolah gagasan, tetapi data lapangan, pemeriksaan fakta, dan pertanggungjawaban hasil tetap menjadi tugas murid. Proyek seperti ini menghubungkan memahami, mengaplikasi, dan merefleksi dengan persoalan nyata. Namun, penggunaan KKA tidak otomatis menghasilkan pembelajaran mendalam. Kualitasnya tetap bergantung pada rancangan guru, pertanyaan yang diajukan, umpan balik, dan kesempatan murid untuk berpikir mandiri.
Memastikan Kesiapan
Tantangan utama bukan sekadar memperkenalkan dua kebijakan, melainkan memastikan keduanya terlaksana secara bermutu dan merata. Kemdikdasmen telah menetapkan pedoman implementasi KKA melalui Keputusan Menteri Nomor 127/P/2025.
Pada Maret 2026, tujuh kementerian/lembaga juga menetapkan keputusan bersama tentang pemanfaatan dan pembelajaran teknologi digital serta AI yang menekankan penggunaan secara etis, aman, bijak, dan bertanggung jawab.
Kerangka kebijakan tersebut perlu diikuti langkah implementasi yang terukur. Pemerintah perlu memastikan pelatihan guru tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi membekali mereka dengan kemampuan merancang pembelajaran PM-KKA, menilai proses berpikir murid, serta membimbing penggunaan AI secara kritis dan etis.
Pemerintah pusat dan daerah juga perlu menyediakan bahan ajar, contoh proyek lintas mata pelajaran, pendampingan berkelanjutan, dan dukungan yang memadai bagi sekolah dengan keterbatasan perangkat maupun akses internet.
Pemerintah perlu menetapkan indikator evaluasi yang tidak hanya menghitung jumlah guru terlatih, perangkat tersedia, atau murid yang dapat menulis program. Evaluasi harus memeriksa apakah murid semakin mampu memahami masalah, menyusun langkah penyelesaian, menilai informasi, memperbaiki kesalahan, dan menjelaskan alasan keputusan mereka. Hasil evaluasi perlu digunakan untuk memperbaiki kebijakan dan mengurangi kesenjangan antarsekolah.
Tanggung Jawab Bersama
PM memberikan arah pedagogis, sedangkan KKA menyediakan kompetensi dan konteks yang relevan untuk mengembangkan cara berpikir serta memanfaatkan teknologi. Keduanya akan bermakna jika diterjemahkan menjadi pengalaman belajar yang nyata, didukung guru yang kompeten, dan dijalankan dengan memperhatikan keadilan akses serta tanggung jawab etis.
Teka-teki yang dapat dipecahkan anak berusia enam tahun mengingatkan kita bahwa kemampuan berpikir tidak bermula dari komputer. Teknologi hanyalah sarana untuk mengembangkan dan menerapkannya. Keberhasilan pendidikan di era AI bukanlah ketika murid semakin bergantung pada mesin, melainkan ketika mereka mampu berpikir mendalam, menggunakan teknologi secara bijaksana, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.
*) Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, anggota Dewan Pendidikan Nasional
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY


