NEWS
Banjir Lumpur Teror Tapin, Tambang PT BMB Disorot
apakabar.co.id, TAPIN - Banjir disertai lumpur membuat sebagian masyarakat Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan (Kalsel) hidup tak tenang dan mengalami ketidakpastian. Masyarakat menuding banjir yang terjadi berulang tersebut berasal dari buangan industri pertambangan batu bara milik PT Binuang Mitra Bersama (BMB) yang dikerjakan oleh PT Cipta Kridatama (CK).
Dalam lumpur pekat yang terbawa banjir tersebut, masyarakat menemukan biji batu bara yang larut dari arah hulu sungai tepat berada aktivitas tambang di lahan PT BMB. Kerusakan lingkungan hidup yang dirasakan masyarakat berada dalam radius 1 sampai 5 kilometer dari aktivitas lahan PT BMB.
Dalam dua pekan terakhir, banjir sebanyak empat kali telah merendam sebagian wilayah Kelurahan Tambarang hingga Desa Sawang, Kecamatan Tapin Selatan. Masyarakat yang rumahnya terendam banjir menyampaikan protes kepada perusahaan hingga ke pemerintah daerah agar banjir berulang tersebut segera ditanggulangi. Sebab, bencana banjir telah terjadi dalam 5 tahun terakhir. Sedangkan kerusakan sungai sudah terlihat sejak 1 dekade lalu.
Sementara itu, apakabar.co.id belum mendapatkan jawaban dari PT BMB saat dihubungi Kamis, (16/4). Di sisi lain, banjir menahun tersebut terkesan luput dari pengawasan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tapin.
“Perlu pengamatan dulu, kami belum bisa memastikan,” singkat Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Tapin, Nordin kepada apakabar.co.id, Jum’at (17/4) saat ditanya mengenai tudingan masyarakat terhadap PT BMB.
Dampak Banjir Berlumpur
Hasil sementara observasi lapangan apakabar.co.id, sebagai gambaran sederhana dampak dari bencana ini. Misalnya, di wilayah Desa Sawang, kisaran radius 1-3 km dari aktivitas tambang, terdapat kerusakan lingkungan yang signifikan: permukaan jalan kabupaten hingga lahan perkebunan karet masyarakat tertutup lumpur.
Endapan hitam hingga bongkahan batu bara sangat mudah ditemukan di sana. Usut punya usut, beberapa tahun ke belakang. Masyarakat menemukan banyak bongkahan batu bara di dasar sungai. Batu bara itu dimanfaatkan masyarakat, diangkut dan dijual perkarung kisaran harga 4 ribu-7 ribu rupiah ke pengepul.

Sidementasi sungai terlihat meninggi-nyaris menyentuh permukaan. Air berlumpur meluber ke sisi sungai, sehingga menciptakan aliran baru pada sejumlah titik di sekitar Jalan Sragen Sawang itu.
Tak kurang sepanjang 500 meter saat ini jalan itu lumpuh total karena tergenang air serta lumpur. Situasi tersebut dirasakan masyarakat nyaris satu tahun. Kondisinya semakin hari semakin parah. Dampaknya, selain melumpuhkan aktivitas ekonomi, ada ratusan pelajar SMKN 1 Tapin Selatan harus memilih jalan alternatif yang menambah jarak termpuh sekitar 20-30 menit.
“Kalau jalan ini, sebelumnya beberapa bulan lalu sempat kering dan dilakukan pengikisan lumpur pakai alat berat. Sepertinya dilakukan perusahaan. Tak berselang lama, sekitar satu minggu kembali banjir dan tertutup lumpur lagi,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan nama karena takut diintimidasi.
Sementara itu, dalam radius yang lebih jauh dalam kisaran 5 km, sebagian wilayah Kelurahan Tambarangan. Pemukiman, perkebunan, pertanian hingga fasilitas umum juga terdampak.
Di antara banyaknya keluhan, salah satunya disuarakan oleh Arifin (63). Ia mengaku cukup terdampak atas bencana ini, lingkungan di sekitar rumahnya kini buruk rupa karena endapan lumpur yang hanyut terbawa banjir berulang itu. “Habis sudah kebun, tak tau lagi harus gimana,” ujar Camat Tapin Selatan (2005-2007) ini.

Lingkungan rumah hingga perkebunan karet dan tanaman buah-buahan warisan keluarga di lahan seluas 2 hektar kini nyaris tertutup lumpur semua. Ketinggiannya pun variatif, mulai semata kaki hingga lutut orang dewasa. “Sudah tak produktif lagi lahan kami ini,” ungkap Arifin.
Komentar tak kalah menohok juga disampaikan Kakak Arifin yakni Siti Aminah. Perempuan berusia 73 tahun tersebut justru membandingkan bencana di dua periode berbeda, "Zaman Belanda menjajah tidak ada yang seperti ini, baru di zaman Indonesia ini aja bencana seperti ini ada,” ucapnya bernada ketus.
Arifin dan Aminah, mengucapkan hal senada seperti masyarakat Kelurahan Tambarangan lainnya kepada apakabar.co.id. Mereka tak mengharapkan uang, namun perbaikan lingkungan yang layak untuk hidup dan berkehidupan.
Reaksi-Aksi Pemeritah
Menyikapi gaduhnya aduan masyarakat karena banjir, Bupati Tapin Yamani memberikan atensi cepat. Ratusan personil gabungan dikerahkan pada Kamis (16/4) untuk melakukan pembersihan aliran sungai di Kelurahan Tambarangan.
Dalam masa periodenya, Bupati Tapin menyatakan komitmen untuk melakukan perbaikan lingkungan atas permasalahan yang terjadi di Desa Sawang – Kelurahan Tambarangan ini. Ia menginstruksikan pejabat terkait untuk melakukan tindakan seperti melakukan normalisasi sungai.
“Pemerintah daerah tidak tinggal diam, dan terus melakukan langkah-langkah cepat. Terukur dan berkelanjutan dalam penanggulangan,” ucapnya saat tugas luar daerah di Yogyakarta, Rabu (15/4).

Terpisah, Kepala Bidang Sumberdaya Air (SDA) PUPR Tapin Mulkan mengatakan panjang sungai dari hulu area PT BMB sampai ke wilayah terdampak banjir itu sepanjang 8 km.
“Beberapa tahun ke belakang sudah kita anggarkan, tahun ini kita anggarkan lagi. Realisasi kemungkinan tahun depan,” ujarnya.
Terkait penyebab rusaknya daerah aliran sungai (DAS), Mulkan memilih tidak memberikan komentar. Ia tak bisa memastikan, kiriman lumpur dan batu bara itu akibat buangan dari area pertambangan.
“Kita kerja sesuai intruksi saja sebagai pelaksana. Apabila disuruh normalisasi, maka akan kita lakukan,” ucapnya.
Sebelumnya, beberapa bulan lalu, disebut pernah ada pengerjaan normalisasi sungai di daerah Jalan Sragen Desa Sawang oleh pihak perusahaan tambang. “Gak monitor saya,” singkat Mulkan.
Jejak Kelam PT BMB Lainnya
Tragedi yang mirip seperti likuifaksi pernah terjadi di Desa Sawang pada Kamis, (15/7/2021). Tepat berada di pinggir tanggul lubang tambang aktif milik PT BMB.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Selatan mencatat, peristiwa yang menghancurkan lahan pertanian produktif itu bukan bencana alam, melainkan bencana ekologis.
Temuan Walhi, di sebelah selatan dan timur lokasi kejadian, sangat terlihat perubahan bentang alam yang diakibatkan aktivitas ekstraktif pertambangan batu bara.
Dari pemantauan lapangan Walhi Kalsel, ada aktivitas menarik di balik bencana ekologis yang terjadi di Tapin ini. Walhi menemukan masih beroperasinya tambang di sekitar wilayah kejadian bencana tersebut.
Walhi juga mendapatkan informasi setidaknya ada sekitar tujuh petak kolam ikan warga yang terdampak kejadian ini. Di lokasi kejadian, tanah yang bergeser naik ke permukaan diperkirakan dengan ketinggian 1-5 meter, sehingga menyebabkan lahan pertanian rakyat menjadi rusak parah.

Dari pemantauan lapangan Walhi Kalsel, ada aktivitas menarik di balik bencana ekologis yang terjadi di Tapin ini. Walhi menemukan masih beroperasinya tambang di sekitar wilayah kejadian bencana tersebut.
Walhi juga mendapatkan informasi setidaknya ada sekitar tujuh petak kolam ikan warga yang terdampak kejadian ini. Di lokasi kejadian, tanah yang bergeser naik ke permukaan diperkirakan dengan ketinggian 1-5 meter, sehingga menyebabkan lahan pertanian rakyat menjadi rusak parah.
Data (2021) yang diolah Walhi Kalsel dari berbagai sumber di Desa Sawang terdapat dua konsesi perusahaan tambang batu bara yaitu PT. Binuang Mitra Bersama (BMB) dan KUD Makmur.
Adapun perizinan PT BMB berupa SK IUP nomor 188.45/169/KUM/2014 dan KUD Makmur berupa SK nomor 188.45/009/KUM/2014 yang keduanya diterbitkan oleh Bupati Tapin pada tahun 2014.
Konsesi yang terdapat di Desa Sawang tersebut sebelumnya dimiliki oleh CV Bersama Tapin Persada dengan nomor SK IUP 188.45/234/KUM/2009, CV Karya Utama Banua dengan SK IUP nomor 188.45/155/KUM/2010, dan KUD Makmur dengan SK IUP nomor 188.45/225/KUM/2009.
Berdasarkan analisa spasial Wilayah IUP PT BMB dengan Citra Satelit Esri GeoEye Tahun 2020 diketahui terdapat dugaan bukaan tambang di luar izin kosesi dengan luas 106,80 ha. Bukaan tambang tersebut berada di Desa Sawang 8,20 ha, Tambarangan 81,33 ha dan Rumintin 17,27 ha.
Sedangkan luas lahan terdampak berdasarkan analisa spasial sementara berupa persawahan seluas 6,11 Ha dan kolam ikan seluas 6,65 Ha. Lokasi tersebut berada di sekitar koordinat yang diambil Walhi Kalsel yaitu pada 115.170583° BT, -3.007444° LS dan 115.170778° BT, -3.00775° LS.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY