LIFESTYLE

Bina Bangsa School Rayakan 25 Tahun, Cetak Pemimpin Lewat Pendidikan Berkarakter

Sejumlah siswa dan pengajar Bina Bangsa School (BBS) berfoto bersama menjelang konser perayaan 25 tahun bertajuk Legacy of Stars di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Sabtu (7/3/2026). Foto: istimewa
Sejumlah siswa dan pengajar Bina Bangsa School (BBS) berfoto bersama menjelang konser perayaan 25 tahun bertajuk Legacy of Stars di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Sabtu (7/3/2026). Foto: istimewa
apakabar.co.id, JAKARTA — Bina Bangsa School (BBS) memasuki usia ke-25 tahun dengan menegaskan komitmennya untuk tidak sekadar mengejar prestasi akademik, tetapi juga membentuk karakter dan kepemimpinan siswa yang kuat.

Sejak berdiri pada 2001, BBS hadir sebagai salah satu sekolah yang menawarkan pendidikan berstandar internasional di Indonesia. Kehadirannya tidak bisa dilepaskan dari konteks sejarah nasional, khususnya setelah peristiwa 1998 yang mendorong banyak keluarga Indonesia menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri demi stabilitas dan kualitas pendidikan.

Namun ketika kondisi Indonesia mulai pulih dan banyak keluarga ingin kembali ke Tanah Air, muncul pertanyaan sederhana namun penting: jika pulang, anak-anak harus bersekolah di mana?

Pada saat itu, sekolah dengan standar internasional di Indonesia masih sangat terbatas. Melihat kebutuhan tersebut, Surya Putra Subandi bersama dua rekannya, Mr. Lie dan Mr. Paulus, mendirikan Bina Bangsa School.


Sekolah ini menghadirkan Singapore Curriculum dengan akreditasi Cambridge, sehingga keluarga yang kembali ke Indonesia tidak perlu mengorbankan kualitas pendidikan anak-anak mereka.

Pendiri BBS, Surya Putra Subandi, menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh hanya berfokus pada angka atau peringkat semata.

“Kalau kita hanya mengejar nilai, kita mungkin berhasil secara angka. Tapi kalau kita membentuk karakter dan kepemimpinan, kita sedang membentuk masa depan,” ujarnya. 

Prinsip “leader not follower” menjadi fondasi utama Bina Bangsa School. Para siswa didorong untuk memiliki pola pikir global sekaligus tetap memegang nilai integritas dan karakter.

Untuk menumbuhkan kepemimpinan sejak dini, BBS menyediakan berbagai program pengembangan diri seperti Model United Nations dan Harvard Model Congress. Program-program tersebut memberikan ruang bagi siswa untuk berlatih berpikir kritis, berdiplomasi, serta memahami dinamika global.

Selain itu, BBS juga mengembangkan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) sebagai bagian dari persiapan menghadapi tantangan masa depan.

Pendekatan ini dipadukan dengan berbagai kegiatan seperti coding, robotika, debat, hingga seni pertunjukan. Melalui integrasi tersebut, sekolah ingin memastikan bahwa kemampuan logika dan kreativitas siswa dapat berkembang secara seimbang.

Salah satu contoh keberhasilan pendekatan ini terlihat dari prestasi siswa BBS, Wu Donglin, yang meraih Cambridge AS Level 2025 National First Place sekaligus Dual High Achievement Awards. Di luar akademik, Wu juga aktif bermain alat musik dizi atau seruling tradisional Tiongkok.

Prestasi tersebut mencerminkan filosofi pendidikan BBS bahwa kemampuan akademik dan kreativitas seni dapat berjalan beriringan dalam membentuk kompetensi masa depan.


Direktur Akademik Bina Bangsa School, Yuliana Puspita Sari, menambahkan bahwa visi utama sekolah adalah membina siswa agar mampu menjadi pemimpin di masa depan.

Menurutnya, pembentukan kepemimpinan tidak hanya terjadi di dalam kelas, tetapi juga melalui berbagai aktivitas yang melatih keberanian mengambil peran dan mencari peluang.

“Dari cara anak mengambil peran kepemimpinan, mencari peluang, mereka juga berkecimpung di budaya Indonesia, Tiongkok, dan berakar di firman Tuhan,” kata Yuliana.

Ia menjelaskan bahwa kurikulum di BBS dirancang dengan mempertimbangkan tantangan yang akan dihadapi siswa di masa depan.

“Sepuluh tahun ke depan dunia akan berubah sangat cepat. Karena itu kami berimajinasi tentang keterampilan apa yang akan dibutuhkan siswa, lalu memasukkannya ke dalam kurikulum,” ujarnya.

Menurut Yuliana, siswa tidak hanya dituntut memiliki kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan komunikasi, wawasan luas, serta karakter yang kuat.

“Salah satu keterampilan paling penting adalah kemampuan berbicara dan berkomunikasi dalam berbagai situasi. Pengetahuan luas harus disertai karakter yang baik,” katanya.

Ia menegaskan bahwa keberhasilan tanpa karakter justru bisa membawa dampak buruk.

“Karena orang sukses tanpa karakter bisa merusak dunia,” tandasnya.

Sejumlah siswa Bina Bangsa School (BBS) menampilkan pertunjukan paduan suara dalam konser perayaan 25 tahun bertajuk Legacy of Stars di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Sabtu (7/3/2026). Foto: istimewa 

Perayaan ulang tahun ke-25 BBS juga ditandai dengan konser nasional bertajuk “Legacy of Stars” yang digelar di Ciputra Artpreneur, Jakarta, Sabtu (7/3). 

Konser tersebut melibatkan 478 siswa dari enam kampus BBS di Indonesia, yakni Jakarta (Kebon Jeruk dan Pantai Indah Kapuk), Bandung, Semarang, Malang, dan Balikpapan.

Untuk pertama kalinya, para siswa dari berbagai sekolah tersebut tampil bersama dalam satu panggung kolaboratif. Pertunjukan menghadirkan Western Orchestra, Chinese Orchestra, paduan suara, serta koreografi tari yang memukau.

Konser ini tidak sekadar menjadi perayaan seni, tetapi juga menjadi simbol dari ekosistem pendidikan yang telah dibangun Bina Bangsa School selama seperempat abad.

Melalui kegiatan tersebut, siswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga belajar bekerja sama, berlatih disiplin, dan tampil percaya diri di hadapan publik.