EKBIS

CORE: Industri Baterai Perluas Rantai Nilai Mineral Nasional

Pekerja mengoperasikan alat berat untuk membangun proyek ekosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi di Artha Industrial Hill, Karawang, Jawa Barat, Minggu (29/6/2025). Foto: ANTARA
Pekerja mengoperasikan alat berat untuk membangun proyek ekosistem industri baterai kendaraan listrik terintegrasi di Artha Industrial Hill, Karawang, Jawa Barat, Minggu (29/6/2025). Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA - Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menilai pengembangan industri baterai seperti di Kabupaten Morowali dan Morowali Utara, Sulawesi Tengah, turut memperluas rantai nilai mineral nasional.

"Kalau kita lihat Morowali, lebih dari 75 persen struktur ekonominya sekarang berasal dari sektor industri. Padahal, sebelumnya lebih dari separuhnya masih berasal dari sektor primer, seperti pertambangan dan pertanian," kata Faisal dalam keterangannya yang diterima di Jakarta, Selasa (15/9).

Menurut Faisal, lebih dari 75 persen struktur perekonomian Morowali saat ini ditopang sektor industri, berbeda dibandingkan kondisi sebelumnya ketika lebih dari separuh perekonomian daerah tersebut berasal dari sektor primer seperti pertambangan dan pertanian.

Perubahan serupa, kata dia, terjadi di Morowali Utara seiring meningkatnya kegiatan investasi dan berkembangnya industri pengolahan mineral di daerah tersebut.

Kondisi itu menunjukkan hilirisasi tidak hanya meningkatkan nilai komoditas setelah ditambang, tetapi juga dapat membentuk basis kegiatan ekonomi baru dan mengubah struktur perekonomian daerah penghasil.
Faisal mengatakan tingkat hilirisasi nikel Indonesia pada periode 2021-2022 masih relatif awal karena pengolahannya sebagian besar berhenti pada produk seperti nickel pig iron (NPI) dan feronikel.

Namun, rantai pengolahan nikel kini semakin berkembang menuju produk dengan nilai tambah lebih tinggi, termasuk material untuk industri baterai.

"Tapi makin ke sini sudah sampai baterai. Ini sesuatu yang saya pikir perlu sangat diapresiasi," ujarnya.

Perubahan struktur ekonomi tersebut juga berjalan beriringan dengan peningkatan aktivitas perekonomian di daerah penghasil nikel.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), PDRB per kapita Morowali dan Morowali Utara mengalami peningkatan dalam periode 2014-2024 seiring berkembangnya aktivitas industri pengolahan.

Pengembangan rantai hilirisasi nikel selanjutnya diarahkan menuju produksi bahan baku baterai, salah satunya melalui teknologi high pressure acid leach (HPAL) yang mengolah bijih limonit menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP).

Direktur Utama Indonesia Battery Corporation (IBC) Aditya Farhan Arif mengatakan berkembangnya industri baterai nasional juga berpotensi memperluas dampak ekonomi hilirisasi ke komoditas mineral lain di luar nikel.

Menurut Aditya, sekitar 23 persen material yang dibutuhkan dalam baterai berupa aluminium dan sekitar 18 persen berupa tembaga.
Dengan demikian, terbentuknya industri baterai di dalam negeri dapat menciptakan keterkaitan dengan rantai industri kedua komoditas tersebut.

"Kalau kita punya industri baterai yang sovereign, yang maju, yang berdaulat, sebetulnya kita juga punya kesempatan untuk mendapatkan dampak ekonomi yang lebih besar lagi dari komoditas-komoditas lainnya, tidak hanya nikel," kata Aditya.

IBC mengembangkan rantai industri baterai mulai dari material baterai hingga menjadi sel dan battery pack yang dapat dimanfaatkan antara lain untuk kendaraan listrik dan battery energy storage system (BESS).

BESS antara lain dibutuhkan sebagai sistem penyimpanan energi untuk mendukung berbagai kebutuhan kelistrikan, termasuk kebutuhan pusat data.

Perkembangan tersebut menunjukkan hilirisasi nikel tidak hanya berkaitan dengan peningkatan nilai tambah satu komoditas, tetapi juga dengan pembentukan industri turunan, perubahan struktur ekonomi daerah, serta terciptanya keterkaitan dengan rantai industri mineral lainnya di dalam negeri.