SPORT

Iran Mundur dari Piala Dunia 2026, FIFA Siapkan Pengganti

Trofi dan bola untuk Piala Dunia 2026. Foto: istimewa
Trofi dan bola untuk Piala Dunia 2026. Foto: istimewa
apakabar.co.id, JAKARTA — Pemerintah Iran menyatakan negaranya tidak dapat berpartisipasi dalam ajang Piala Dunia FIFA 2026 menyusul konflik regional yang memanas setelah serangan udara yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. 

Situasi keamanan yang memburuk membuat partisipasi tim nasional Iran dalam turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut kini berada dalam ketidakpastian.

Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, yang menegaskan bahwa kondisi politik dan keamanan saat ini tidak memungkinkan negaranya untuk berpartisipasi dalam turnamen yang akan digelar pada pertengahan 2026 tersebut.

“Mengingat rezim korup ini telah membunuh pemimpin kita, dalam keadaan apa pun kami tidak dapat berpartisipasi dalam Piala Dunia,” kata Donyamali kepada televisi pemerintah dilansir reuters.


Turnamen Piala Dunia FIFA 2026 sendiri dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026 dengan format baru yang akan diikuti oleh 48 negara peserta. Kompetisi ini akan diselenggarakan bersama oleh tiga negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Menurut Donyamali, kondisi keamanan di negaranya saat ini tidak memungkinkan para pemain untuk melakukan perjalanan dan berkompetisi di turnamen internasional.

“Anak-anak kami tidak aman, dan pada dasarnya kondisi untuk berpartisipasi seperti itu tidak ada,” ujarnya.

Ia juga menuding Amerika Serikat dan sekutunya telah memicu konflik berkepanjangan terhadap Iran dalam beberapa bulan terakhir.

Secara olahraga, Iran sebenarnya telah memastikan tiket ke Piala Dunia setelah tampil dominan pada babak kualifikasi zona Asia.

Dalam hasil undian fase grup, Iran ditempatkan di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru.

Ketiga pertandingan fase grup Iran dijadwalkan berlangsung di wilayah Amerika Serikat. Dua pertandingan direncanakan digelar di Los Angeles dan satu pertandingan lainnya di Seattle.

Namun tanda-tanda kemungkinan absennya Iran sudah terlihat sejak pekan lalu, ketika perwakilan negara tersebut tidak hadir dalam technical meeting peserta Piala Dunia yang diselenggarakan oleh FIFA di Atlanta.

Sebelumnya Iran juga telah menunjuk fasilitas latihan di kompleks olahraga Kino Sports Complex yang berada di Tucson, negara bagian Arizona, sebagai basecamp tim selama turnamen berlangsung.

Jika Iran benar-benar memutuskan mundur, sekitar 18 bulan persiapan tim nasional tersebut dipastikan akan berakhir sia-sia.

Selain itu, keputusan tersebut juga berpotensi memicu dampak ekonomi bagi wilayah Arizona yang telah mempersiapkan fasilitas untuk menyambut tim dan penggemar sepak bola.

Di sisi lain, FIFA memiliki aturan tegas terkait pengunduran diri dari turnamen resmi.

Berdasarkan regulasi FIFA, tim yang mengundurkan diri paling lambat 30 hari sebelum pertandingan pertama dapat dikenakan denda minimal 250.000 franc Swiss atau sekitar Rp5,4 miliar.

Selain denda finansial, federasi sepak bola dunia itu juga membuka kemungkinan sanksi tambahan.

Sanksi tersebut dapat berupa larangan mengikuti kompetisi FIFA berikutnya atau penggantian posisi negara yang mundur dengan tim lain.

“Dewan FIFA atau komite terkait dapat memutuskan untuk mengganti asosiasi anggota yang bersangkutan dengan asosiasi anggota lain,” bunyi aturan resmi FIFA.

Pengganti Iran dari Asia yang potensial adalah Irak, yang memang masih berpeluang ke Piala Dunia 2026. Singa Mesopotamia masih berjuang lewat playoff, melawan pemenang Suriname vs Bolivia, untuk merebut tiket terakhir.

Dengan skenario itu, maka Uni Emirat Arab bisa menggantikan posisi Irak di playoff. UEA bisa mendapat kesempatan lolos ke Piala Dunia 2026 lagi, meski sempat dikalahkan Irak di babak kelima.


Meski begitu, Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengungkapkan bahwa ia telah melakukan pembicaraan dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terkait partisipasi Iran di Piala Dunia.

Menurut Infantino, Trump menegaskan bahwa tim nasional Iran tetap dipersilakan untuk bertanding di Amerika Serikat apabila situasi memungkinkan.

“Selama diskusi, Presiden Trump menegaskan kembali bahwa tim Iran tentu saja dipersilakan untuk berkompetisi di turnamen di Amerika Serikat,” kata Infantino.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pihak penyelenggara tetap membuka pintu bagi Iran untuk berpartisipasi, meskipun keputusan akhir sepenuhnya berada di tangan pemerintah Iran.

Jika Iran benar-benar memutuskan mundur, situasi tersebut berpotensi menjadi salah satu kontroversi terbesar menjelang penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026.