LIFESTYLE
Jangan Sepelekan Heatstroke, Pakar Medis Ungkap Dampaknya Bagi Organ Vital Tubuh
apakabar.co.id, JAKARTA - Paparan panas ekstream yang memicu heat stress kini resmi diidentifikasi sebagai salah satu ancaman biologis paling mematikan di era krisis iklim ini. Hal tersebut sangat berkaitan dengan kematian akibat cuaca (weather related deaths).
Ketua Komisi Ilmu Kedokteran Akademisi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof. dr. Herawati Sudoyo, M.S., Ph.D. mengingatkan perlunya perhatian yang serius dari sektor kesehatan dan berbagai pemangku kepentingan terkait.
"Kita tidak dapat menghentikan cuaca yang semakin panas, tetapi kita dapat mengurangi dampaknya. Literasi kesehatan adalah perlindungan pertama yang dapat menyelamatkan nyawa bagi setiap keluarga,” katanya dalam diskusi publik bertajuk Panduan Menjaga Kesehatan Keluarga di Musim Ekstrem El Nino di Jakarta, Kamis (9/7/2026).
Herawati memaparkan secara medis, ketika suhu lingkungan melonjak tinggi, tubuh manusia dipaksa bekerja jauh lebih keras di luar batas normal untuk mempertahankan suhu inti idealnya. Upaya keras tubuh ini dilakukan melalui mekanisme regulasi berupa pelebaran pembuluh darah peripheral serta memproduksi keringat dalam jumlah banyak.
Gejala awal dari malafungsi regulasi atau heat stress ini biasanya ditandai dengan kelelahan akut, kram hebat pada otot, pusing, hingga dehidrasi berat yang sering kali diabaikan oleh masyarakat awam.
Namun apabila paparan panas terus berlangsung tanpa adanya penanganan klinis atau ruang pendinginan yang memadai, suhu inti tubuh dapat dengan cepat melesat melewati ambang batas kritis 40. Kondisi darurat medis inilah yang disebut heatstroke.
Sengatan panas pada fase ini akan memicu respons peradangan sistematik yang parah dan berpotensi besar menyebabkan kerusakan permanen atau pembusukan fungsi pada organ-organ vital seperti otak, jantung, serta ginjal dalam waktu singkat.
Dampak merusak ini tidak hanya menyerang fisik saja, tetapi juga memicu gangguan kesadaran hingga kerusakan saraf otak permanen. Lemahnya sistem mitigasi medis dan edukasi dari otoris kesehatan dinilai menjadi penyebab utama mengapa kasus ini terus memakan korban jiwa.
"Langkah antisipasi medis di tengah karakteristik cuaca tropis yang lembap," tutupnya.
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY
