SPORT
Ketum PSSI Erick Thohir Ancam Pengurangan Poin Klub jika Terjadi Kerusuhan
apakabar.co.id, JAKARTA — Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, mendorong penerapan sanksi berat berupa pengurangan poin bagi klub jika kerusuhan sepak bola kembali menelan korban jiwa. Langkah ini ditegaskan sebagai upaya memberikan efek jera sekaligus mencegah tragedi seperti Kanjuruhan terulang.
Pernyataan Erick muncul di tengah maraknya insiden kekerasan yang berkaitan dengan sepak bola, termasuk kasus kematian remaja berinisial ARK di Kabupaten Bogor. Korban ditemukan meninggal dunia di Jalan Raya Jakarta–Bogor KM 50, Sukaraja, setelah menonton pertandingan Garudayaksa FC melawan Persib Bandung.
“Kalau masih terjadi, ya, hal seperti Kanjuruhan, ya, itu mohon maaf, sudahlah pengurangan poin sebanyak-banyaknya saja, biar ada jera,” kata Erick di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (26/10/2026).
Menurut Erick, penanganan insiden kekerasan harus dibedakan berdasarkan lokasi dan jenis kejadiannya. Kerusuhan di dalam stadion dapat ditindak melalui mekanisme disiplin kompetisi, sedangkan tindak kekerasan di luar stadion menjadi ranah aparat penegak hukum.
Terkait kematian ARK, Erick mengaku telah menghubungi kepolisian untuk meminta agar kasus tersebut diusut hingga tuntas. Ia menekankan pentingnya mengungkap penyebab dan latar belakang peristiwa tersebut sebelum menarik kesimpulan.
“Saya bilang, ‘Pak, tolong tindak lanjuti pasti seperti apa. Apakah ini kriminal murni, atau tentu persaingan, ya, karena ketidaksukaan atas suporter?’ Nanti kita lihat hasil keputusan pihak Polri,” ujarnya.
Erick menegaskan, siapa pun yang terbukti melakukan tindak pidana harus diproses sesuai hukum yang berlaku. Ia juga mengingatkan bahwa regulasi sepak bola internasional tidak boleh dipandang terpisah dari ketentuan hukum nasional.
“Kalau ditanya aturan FIFA, saya rasa jangan pernah pertanyakan aturan FIFA. FIFA juga mendengar aturan Republik Indonesia,” kata Erick.
Rentetan Kekerasan Jadi Sorotan
Dorongan pemberian sanksi berat tersebut muncul setelah sejumlah insiden kekerasan mewarnai sepak bola Indonesia dalam beberapa waktu terakhir.
Kerusuhan sempat terjadi dalam pertandingan Persita Tangerang melawan Persija Jakarta di Banten International Stadium. Insiden lain menimpa bus rombongan Elite Pro Academy (EPA) Persib U-18 di Rest Area KM 360 Batang.
Tak berselang lama, bus rombongan suporter The Jakmania Cikampek juga menjadi sasaran pelemparan benda keras di Tol Palikanci KM 200. Peristiwa tersebut menyebabkan kerusakan kendaraan dan melukai sejumlah penumpang.
Rangkaian kejadian itu kembali menyoroti persoalan keselamatan suporter, pemain, dan rombongan tim saat maupun setelah pertandingan.
Erick menilai sanksi kompetisi yang tegas perlu menjadi bagian dari upaya pencegahan, terutama apabila kerusuhan di stadion kembali menimbulkan korban jiwa. Namun, penanganan tindak pidana tetap harus dilakukan oleh aparat sesuai kewenangannya.
Penerapan pengurangan poin bagi klub selanjutnya memerlukan mekanisme dan keputusan otoritas disiplin yang sesuai dengan regulasi kompetisi. Dengan penegakan aturan yang konsisten, diharapkan sepak bola Indonesia dapat terbebas dari kekerasan dan memberikan rasa aman bagi seluruh pihak.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR
