SPORT

PP PBVSI Sesalkan Voli Pantai Dicoret dari SEA Games 2027

Voli Pantai dipastikan absen dari SEA Games 2027. Foto: istimewa
Voli Pantai dipastikan absen dari SEA Games 2027. Foto: istimewa
apakabar.co.id, JAKARTA — Prestasi gemilang voli pantai Indonesia di pentas internasional belum menjamin keberlanjutan kesempatan bertanding di kawasan Asia Tenggara. Setelah merebut emas SEA Games Thailand 2025 dan mengakhiri penantian medali Asian Games melalui raihan perak di Aichi-Nagoya 2026, voli pantai justru tidak masuk dalam daftar cabang olahraga yang dipertandingkan pada SEA Games Malaysia 2027.

Keputusan tersebut menjadi pukulan bagi upaya menjaga konsistensi prestasi voli pantai nasional. Pasalnya, Indonesia berstatus juara bertahan nomor putra SEA Games setelah pasangan Merah Putih sukses menundukkan tuan rumah Thailand melalui pertandingan Golden Match pada edisi 2025.

Kepala Seksi Bola Voli Pantai Pengurus Pusat Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PP PBVSI), Slamet Mulyanto, menyayangkan keputusan tidak dipertandingkannya cabang olahraga tersebut.


Menurut Slamet, prestasi yang telah ditorehkan voli pantai Indonesia seharusnya menjadi alasan untuk tetap memberikan ruang kompetisi, sekaligus kesempatan bagi atlet meningkatkan kemampuan dan mempertahankan pencapaian mereka.

“Bola voli pantai Indonesia berprestasi agar diberi ruang untuk dipertahankan dan ditingkatkan,” ujar Slamet, Selasa (3/11/2026).

Komite Eksekutif Southeast Asian Games Federation (SEAGF) melalui rapat pada 30 Oktober 2026 telah mengesahkan 473 nomor pertandingan dari 43 cabang olahraga untuk SEA Games ke-34. Namun, voli pantai tidak tercantum dalam daftar final tersebut.

SEA Games Malaysia dijadwalkan berlangsung pada 18–29 September 2027 dengan empat klaster penyelenggaraan, yakni Kuala Lumpur, Sarawak, Pulau Pinang, dan Johor.

Absennya voli pantai membuat Indonesia kehilangan kesempatan mempertahankan gelar juara yang diraih di Thailand. Situasi ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi pembinaan atlet karena SEA Games selama ini menjadi salah satu ajang penting untuk mengukur perkembangan dan konsistensi prestasi di tingkat regional.

Padahal, voli pantai bukan cabang olahraga pelengkap dalam peta olahraga internasional. Disiplin ini resmi menjadi bagian dari program Olimpiade sejak Atlanta 1996 dan pada 2026 genap berusia 30 tahun sebagai cabang olahraga Olimpiade.

Karakter permainannya menuntut kombinasi kemampuan teknik, kekuatan fisik, kecepatan membaca arah bola, koordinasi, komunikasi, serta pengambilan keputusan. Dengan hanya dua pemain dalam satu pasangan, setiap atlet dituntut memiliki kemampuan menyeluruh untuk menghadapi berbagai situasi pertandingan, termasuk pengaruh cuaca.

Status Olimpiade juga menempatkan voli pantai dalam ekosistem kompetisi internasional yang terhubung dengan kejuaraan kontinental, dunia, hingga kualifikasi Olimpiade. Karena itu, keberlanjutan kompetisi regional menjadi bagian penting dalam menjaga jam terbang dan mengukur perkembangan atlet.

Kualitas voli pantai Indonesia kembali terlihat dalam Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Pasangan Bintang Akbar dan Sofyan Rachman Efendi sukses melangkah hingga partai final dan mempersembahkan medali perak setelah menghadapi wakil Qatar, Cherif Younousse dan Ahmed Tijan.

Dalam pertandingan final, Bintang/Sofyan sempat merebut set pertama dengan skor 21-19. Namun, mereka akhirnya harus mengakui keunggulan pasangan Qatar dan puas membawa pulang medali perak.

Pencapaian tersebut sekaligus mengakhiri penantian Indonesia untuk kembali meraih medali voli pantai di Asian Games sejak 2018.

Sementara itu, keberhasilan di SEA Games Thailand 2025 mempertegas tradisi kuat Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Medali emas nomor putra yang diraih saat itu menjadi emas kesembilan Indonesia dalam sejarah keikutsertaan voli pantai putra di SEA Games.


Dua pencapaian tersebut menunjukkan bahwa voli pantai Indonesia masih memiliki daya saing, baik di tingkat regional maupun kontinental. Emas SEA Games 2025 dan perak Asian Games 2026 menjadi bukti bahwa pembinaan yang berjalan mampu menghasilkan prestasi.

Namun, absennya cabang ini pada SEA Games 2027 menghadirkan tantangan baru. Atlet kehilangan kesempatan menguji konsistensi, sedangkan pelatih dan federasi harus menyesuaikan agenda pembinaan agar perkembangan prestasi tidak terhambat.

Kini, pertanyaan mengenai proses penentuan cabang olahraga SEA Games 2027 menjadi perhatian. Voli pantai yang berstatus Olimpiade dan memiliki rekam jejak prestasi di kawasan Asia Tenggara justru tidak mendapat tempat dalam pesta olahraga terbesar di kawasan tersebut.