EKBIS
Danantara Satukan 4 Manajer Investasi BUMN, Kelola Dana Rp170 Triliun dan Siap Bentuk Raksasa Baru Pasar Modal
Danantara Indonesia melalui PT Danantara Asset Management (DAM) melakukan Perjanjian Pembelian Saham atas saham PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI), PT BRI Manajemen Investasi (BRI MI), PT BNI Asset Management (BNI AM), dan PT PNM Investment Management (PNM IM).
apakabar.co.id, JAKARTA – Danantara Indonesia mengambil langkah besar dalam memperkuat industri manajemen investasi nasional. Melalui PT Danantara Asset Management (DAM), perusahaan resmi menandatangani Share Purchase Agreement (SPA) atau Perjanjian Pembelian Saham atas PT Mandiri Manajemen Investasi (MMI), PT BRI Manajemen Investasi (BRI MI), PT BNI Asset Management (BNI AM), dan PT PNM Investment Management (PNM IM).
Dengan penandatanganan tersebut, pengendalian empat perusahaan manajer investasi milik BUMN resmi beralih ke DAM. Secara kolektif, keempat perusahaan tersebut mengelola dana atau Asset Under Management (AUM) lebih dari Rp170 triliun hingga Juni 2026.
Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia, Dony Oskaria, menjelaskan proses itu bukan sekadar transaksi pembelian saham, melainkan bagian dari strategi besar untuk membangun institusi manajemen investasi nasional yang lebih kuat dan berdaya saing.
"Ini merupakan langkah besar untuk memperkuat industri manajemen investasi nasional. Keempat perusahaan ini memiliki pengalaman, jaringan, dan kapabilitas yang kuat, serta secara kolektif mengelola dana lebih dari Rp170 triliun," kata Dony dalam keterangan resmi di Jakarta, Kamis (23/7).
Menurutnya, seluruh kekuatan yang dimiliki empat perusahaan tersebut akan diarahkan melalui strategi bisnis dan tata kelola yang lebih terintegrasi agar mampu menghasilkan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian Indonesia.
Lebih jauh, Dony mengungkapkan bahwa dalam waktu satu bulan ke depan, 4 (empat) perusahaan manajer investasi tersebut akan dilebur menjadi satu entitas baru. Penggabungan itu merupakan bagian dari program penyederhanaan atau streamlining yang sedang dijalankan Danantara Indonesia.
Melalui konsolidasi tersebut, perusahaan baru diharapkan menjadi manajer investasi terbesar di Indonesia dengan skala usaha, kemampuan pengelolaan dana, dan daya saing yang jauh lebih kuat dibandingkan sebelumnya.
Ia menjelaskan, model bisnis yang terintegrasi akan memungkinkan perusahaan hasil merger menghadirkan produk investasi yang lebih beragam, memperluas akses investasi bagi masyarakat, serta memberikan solusi investasi yang lebih kompetitif bagi investor ritel maupun institusi.
"Perusahaan hasil konsolidasi akan menggabungkan kekuatan, pengalaman, dan keunggulan masing-masing perusahaan manajer investasi guna membangun institusi dengan skala, kapabilitas, serta daya saing yang lebih kuat," ungkap Dony.
Direktur Utama PT Mandiri Manajemen Investasi, Hardiyanto Pilia, menilai konsolidasi tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun perusahaan manajemen investasi nasional yang mampu bersaing di tingkat regional maupun global.
Menurutnya, penggabungan empat perusahaan akan memperkuat tata kelola, meningkatkan efisiensi operasional, sekaligus memperbesar kapasitas dalam mengelola dana investasi masyarakat.
"Kami optimistis industri manajemen investasi Indonesia akan semakin kompetitif dan mampu memperkuat kepercayaan investor, baik di tingkat domestik maupun global," katanya.
Di segmen investor ritel, perusahaan hasil merger berencana mengembangkan berbagai produk investasi tematik yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar. Selain itu, distribusi produk juga akan diperluas melalui jaringan bank-bank Himpunan Bank Milik Negara (Himbara).
Strategi tersebut dinilai memiliki potensi besar mengingat jumlah Single Investor Identification (SID) di Indonesia telah melampaui 20 juta investor. Angka tersebut menunjukkan minat masyarakat terhadap investasi terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Sementara di segmen institusi, perusahaan akan memperluas basis investor sekaligus menghadirkan solusi investasi yang lebih komprehensif bagi berbagai lembaga keuangan, perusahaan, hingga institusi pemerintah.
Hardiyanto meyakini sinergi empat perusahaan akan menciptakan perusahaan manajemen investasi yang mampu menjadi mitra utama bagi jutaan investor Indonesia.
"Kami melihat momentum yang sangat besar di depan. Dengan basis investor ritel yang terus bertumbuh dan kepercayaan institusi yang semakin kuat, sinergi keempat entitas ini akan menjadikan perusahaan hasil konsolidasi sebagai mitra investasi pilihan bagi jutaan masyarakat Indonesia," ujarnya.
Senada, Direktur Utama PT BRI Manajemen Investasi, Arief Budiman, menilai penggabungan tersebut sebagai momentum penting untuk memperluas penetrasi pasar investasi ritel.
Hingga Juni 2026, BRI MI mencatat dana kelolaan sebesar Rp52,61 triliun dengan basis nasabah ritel yang kuat. Menurut Arief, kekuatan jaringan distribusi tersebut akan menjadi modal penting bagi perusahaan hasil merger dalam memperluas akses masyarakat terhadap produk investasi yang terpercaya.
"Penggabungan ini akan memperluas akses masyarakat terhadap produk investasi yang terpercaya sekaligus mempercepat pendalaman pasar keuangan modal," paparnya.
Sementara itu, Direktur Utama PT BNI Asset Management, Ari Adil, menyampaikan BNI AM membawa dana kelolaan sebesar Rp29,59 triliun dengan komposisi bisnis yang seimbang antara investor ritel dan institusi.
Ia optimistis penggabungan tersebut akan meningkatkan kapasitas industri pengelolaan investasi nasional. Hal itu ditandai dengan sinergi keahlian investasi, inovasi produk, tata kelola yang semakin baik, serta skala usaha yang lebih besar.
Di sisi lain, Direktur Utama PT PNM Investment Management, Ade Santoso Djajanegara, membeberkan pengalaman PNM IM dalam mengembangkan investasi inklusif. Melalui dana kelolaan sebesar Rp10,31 triliun diharapkan menjadi pelengkap bagi perusahaan baru.
Menurutnya, kolaborasi tersebut bukan hanya memperkuat bisnis, tetapi juga membuka akses investasi yang lebih luas bagi masyarakat sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan lebih merata.
Dampak bagi perekonomian
Konsolidasi empat manajer investasi BUMN diperkirakan membawa sejumlah dampak positif bagi perekonomian Indonesia. Pertama, skala dana kelolaan yang lebih besar memungkinkan perusahaan baru memiliki kapasitas lebih kuat dalam menghimpun dan mengelola investasi untuk mendukung pembiayaan proyek-proyek strategis nasional.
Kedua, efisiensi operasional hasil merger berpotensi menekan biaya pengelolaan investasi sehingga perusahaan dapat menawarkan produk yang lebih kompetitif kepada investor.
Ketiga, semakin luasnya distribusi produk investasi melalui jaringan Himbara diperkirakan akan mendorong peningkatan partisipasi masyarakat di pasar modal. Bertambahnya investor domestik juga akan memperkuat ketahanan pasar keuangan Indonesia terhadap gejolak ekonomi global.
Selain itu, hadirnya satu perusahaan manajemen investasi BUMN dengan aset jumbo berpotensi meningkatkan kepercayaan investor asing karena Indonesia memiliki institusi investasi yang lebih besar, profesional, dan mampu bersaing dengan perusahaan pengelola aset di kawasan Asia.
Danantara menegaskan seluruh proses integrasi akan dilakukan secara bertahap dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, kepatuhan terhadap regulasi, serta menjaga kualitas layanan kepada seluruh nasabah dan mitra usaha.
Melalui langkah ini, Danantara berharap dapat membangun perusahaan manajemen investasi nasional yang semakin kompetitif, terpercaya, dan menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan pasar modal sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK