EKBIS

Listrik Padam Satu Jam, Kerugian Industri Bisa Capai Miliaran Rupiah

Di tengah ketidakpastian perekonomian global, banyak pelaku industri mulai menghadapi tantangan yang lebih struktural, mulai dari kebutuhan stabilitas pasokan bahan baku hingga penyesuaian terhadap model operasional yang semakin kompleks. Termasuk dalam pergeseran paradigma ini ialah perubahan terhadap kebutuhan pasokan listrik.
Photo 1 - Perubahan kebutuhan operasional mendorong pelaku industri mulai memprioritaskan sistem energi yang andal. Foto: Xurya
Photo 1 - Perubahan kebutuhan operasional mendorong pelaku industri mulai memprioritaskan sistem energi yang andal. Foto: Xurya
apakabar.co.id, JAKARTA - Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, pelaku industri di Indonesia kini menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Selain harus menjaga stabilitas pasokan bahan baku dan efisiensi operasional, perusahaan juga dituntut memastikan ketersediaan energi yang andal untuk menjaga keberlangsungan produksi.

Kondisi itu membuat kebutuhan listrik tidak lagi dipandang sekadar sebagai komponen biaya operasional. Bagi banyak industri, listrik kini menjadi bagian penting dari strategi menjaga ketahanan bisnis di tengah berbagai risiko yang dapat mengganggu aktivitas produksi.

Pergeseran cara pandang tersebut semakin relevan mengingat masih adanya potensi gangguan pasokan listrik dan tekanan terhadap infrastruktur kelistrikan di sejumlah wilayah Indonesia. 

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai gangguan listrik berskala besar sempat terjadi dan berdampak pada aktivitas ekonomi. Di sisi lain, masih terdapat kawasan industri dan lokasi operasional tertentu yang belum sepenuhnya terjangkau jaringan listrik utama secara optimal.

Bagi sektor industri, gangguan listrik bukan sekadar persoalan teknis. Pemadaman atau ketidakstabilan pasokan listrik dapat memicu kerugian finansial yang sangat besar. Berbagai studi menunjukkan bahwa downtime atau berhentinya operasional fasilitas industri dapat menyebabkan kerugian mulai dari puluhan juta hingga miliaran rupiah hanya dalam waktu satu jam, tergantung pada skala usaha dan karakteristik industrinya.

Dampak tersebut dirasakan lebih besar pada industri yang mengandalkan proses produksi berkelanjutan, seperti manufaktur, elektronik, kaca, keramik, hingga sektor kesehatan. Ketika pasokan listrik terganggu, proses produksi bisa terhenti, bahan baku berpotensi rusak, jadwal pengiriman terganggu, dan perusahaan harus menanggung biaya pemulihan operasional yang tidak sedikit.

Situasi demikian mendorong banyak perusahaan mulai mencari solusi energi yang lebih stabil dan fleksibel. Salah satu tren yang berkembang adalah pemanfaatan energi surya melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai bagian dari sistem energi perusahaan.

Perubahan kebutuhan tersebut juga diamati oleh pelaku industri energi terbarukan. Mereka melihat bahwa perusahaan kini tidak lagi hanya mempertimbangkan penghematan biaya listrik, tetapi juga faktor keandalan, fleksibilitas, dan keberlanjutan jangka panjang.

Managing Director Xurya, Eka Himawan, menjelaskan bahwa minat perusahaan terhadap PLTS mengalami perubahan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu bisa terlihat di PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya yang pada April 2026 diresmikan sebagai PLTS Atap terbesar di Indonesia.

Penggunaan PLTS di area perusahaan tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan energi industri kini bergerak ke arah sistem yang lebih kompleks, di mana PLTS tidak lagi berdiri sebagai solusi tunggal, melainkan menjadi bagian dari integrasi sistem energi perusahaan. 

“Akhir-akhir ini, minat klien kami terhadap PLTS tidak hanya terfokus pada nilai komersial energi yang dihasilkan. PLTS kini juga dipandang sebagai salah satu solusi yang dapat membantu industri membangun sistem energi yang lebih fleksibel, resilien, dan selaras dengan strategi keberlanjutan bisnis mereka,” ujar Eka dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (29/5).

Menurutnya, kebutuhan tersebut terlihat dari pengalaman perusahaan dalam mengembangkan lebih dari 300 proyek PLTS hingga akhir 2025 di berbagai sektor industri.

Eka menjelaskan bahwa sejumlah perusahaan yang beroperasi di wilayah terpencil mulai memanfaatkan PLTS sebagai sumber listrik yang dapat dihasilkan langsung di lokasi konsumsi energi. Strategi ini dinilai mampu mengurangi risiko gangguan logistik maupun keterbatasan pasokan bahan bakar yang sering menjadi hambatan operasional.

Bagi sebagian perusahaan, logistik dan bahan bakar untuk pembangkit listrik di lokasi operasi merupakan salah satu risiko bottleneck yang serius. "Dengan memanfaatkan PLTS, perusahaan dapat meminimalisir risiko tersebut dan membantu menjaga keberlangsungan operasional,” katanya.

Selain faktor keandalan, penggunaan energi surya juga semakin didorong oleh tuntutan pasar global. Perusahaan berorientasi ekspor mulai memanfaatkan energi terbarukan sebagai bagian dari upaya memenuhi standar keberlanjutan dan memperoleh sertifikasi hijau yang semakin diperhatikan oleh konsumen internasional.

Di sektor properti dan ritel, penggunaan PLTS juga mulai dilirik untuk menjawab permintaan tenant terhadap bangunan yang lebih ramah lingkungan. Sementara itu, sejumlah perusahaan melihat energi surya sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi berbasis bahan bakar fosil dan menghadapi fluktuasi harga energi di masa depan.

Tren tersebut tercermin dari pertumbuhan kapasitas energi surya nasional yang terus meningkat. Hingga Desember 2025, kapasitas terpasang energi surya di Indonesia tercatat mencapai 1.494 megawatt (MW), menunjukkan semakin luasnya pemanfaatan teknologi ini di sektor industri dan komersial.

Perkembangan teknologi juga membuat integrasi PLTS semakin andal untuk mendukung kebutuhan industri dengan pasokan listrik yang sensitif dan kritis. Salah satu contohnya terlihat pada penggunaan PLTS atap di kawasan industri yang memiliki kebutuhan energi besar dan beroperasi tanpa henti.

Ke depan, pelaku industri memperkirakan penggunaan sistem energi terintegrasi akan semakin berkembang. PLTS tidak lagi diposisikan sebagai solusi tunggal, melainkan menjadi bagian dari kombinasi berbagai sumber energi yang didukung teknologi penyimpanan daya berbasis baterai.

Model tersebut diyakini mampu meningkatkan ketahanan energi perusahaan sekaligus mengurangi risiko kerugian akibat gangguan listrik yang dapat menghambat proses produksi.

Di tengah meningkatnya kebutuhan energi nasional, tantangan utama industri bukan lagi sekadar mencari listrik dengan biaya murah. Yang semakin penting adalah memastikan pasokan energi tetap tersedia, stabil, dan mampu menopang aktivitas bisnis dalam jangka panjang.

Sebab, ketika listrik padam dan produksi terhenti, kerugian yang muncul dapat jauh lebih besar dibandingkan biaya investasi untuk membangun sistem energi yang lebih andal.