20 Tahun Studi Korea UI, Perkuat Jembatan Akademik hingga Dunia Industri
Penulis:
Tim Redaksi
Rabu, 2 September 2026 | 10:45 WIB
20 Tahun Studi Korea UI, Perkuat Jembatan Akademik hingga Dunia Industri. Foto: istimewa
apakabar.co.id, JAKARTA - Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI genap 20 tahun dan terus memperkuat kolaborasi akademik, budaya, alumni, serta dunia industri Indonesia-Korea.
Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) genap berusia 20 tahun.
Perjalanan dua dekade tersebut menjadi momentum untuk memperkuat kontribusi akademik sekaligus memperluas kolaborasi Indonesia dan Korea Selatan.
Memperingati 20 tahun berdiri, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI menggelar rangkaian kegiatan akademik dan budaya di Auditorium Gedung 1 FIB UI, Depok, Jumat (28/8/2026j.
Mengusung tema “함께한 20년, 함께할 미래” atau “20 Years Together, Future Together”, perayaan tersebut menjadi ruang refleksi atas perjalanan studi Korea di Indonesia sekaligus membahas peluang kerja sama pada masa mendatang.
Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI sendiri resmi berdiri pada 16 Agustus 2006 dan menjadi salah satu pelopor pendidikan bahasa, sastra, serta kebudayaan Korea di Indonesia.
Dekan FIB UI, Dr. Untung Yuwono, mengatakan keberadaan program studi tersebut sejak awal tidak semata-mata dibangun untuk mengikuti meningkatnya popularitas budaya Korea atau Korean Wave.
“Studi Korea merupakan investasi akademik jangka panjang yang dibutuhkan untuk membangun kemampuan memahami Korea secara lebih kritis dan kontekstual,” kata Untung dalam pernyataan resminya dikutip Rabu (2/9).
Dengan perkembangan hubungan Indonesia dan Korea Selatan yang semakin luas, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memahami bahasa, budaya, sejarah, serta dinamika masyarakat Korea juga ikut meningkat.
Perkembangan tersebut terlihat dari semakin luasnya jejaring kerja sama antara dunia pendidikan, industri, dan berbagai sektor yang memiliki hubungan dengan Korea Selatan.
Presiden Korean Chamber of Commerce and Industry (KOCHAM) Indonesia, Lee Kang Hyun, menilai kolaborasi antara institusi pendidikan dan dunia industri menjadi semakin penting.
“Ratusan perusahaan Korea yang beroperasi di Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kemampuan profesional, tetapi juga memahami bahasa dan kebudayaan Korea,” ungkapnya.
Lulusan studi Korea, menurut Lee, memiliki potensi menjadi aset penting karena mampu menjadi penghubung antara kebutuhan bisnis dengan perbedaan bahasa dan budaya kedua negara.
Hal senada disampaikan Direktur Korea Foundation Jakarta Office, Lee Sang Hoon.
Ia melihat mahasiswa dan alumni studi Korea memiliki posisi strategis sebagai “living bridges” atau jembatan hidup yang menghubungkan masyarakat Indonesia dan Korea Selatan.
“Peran ini semakin relevan ketika hubungan kedua negara tidak lagi hanya bertumpu pada pertukaran budaya, tetapi telah berkembang ke bidang pendidikan, ekonomi, bisnis, teknologi, hingga kerja sama strategis lainnya,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI, Euis Sulastri, mengatakan perkembangan program studi selama 20 tahun menunjukkan perjalanan yang cukup signifikan.
Ketika pertama kali berdiri, program studi tersebut masih menghadapi keterbatasan tenaga pengajar lokal.
“Kini, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI telah memiliki sembilan dosen tetap, dengan delapan di antaranya bergelar doktor, serta didukung empat dosen kontrak,” terangnya.
Perayaan dua dekade tersebut juga diisi seminar nasional yang membahas perkembangan studi Korea dari berbagai perspektif.
Sesi pertama mengangkat tema linguistik, pembelajaran bahasa, dan penerjemahan dengan menghadirkan Achmad Rio Dessiar PhD dari Universitas Gadjah Mada, Fitri Meutia PhD dari Universitas Nasional, serta Risa Triarisanti dari Universitas Pendidikan Indonesia.
Achmad Rio Dessiar membahas perkembangan kecerdasan buatan atau AI dalam bidang penerjemahan yang kini mulai mengubah cara kerja penerjemah dan pembelajar bahasa.
Sementara Fitri Meutia mengulas pemanfaatan teknologi AI seperti ChatGPT dan Gemini dalam pembelajaran bahasa Korea tingkat menengah.
Risa Triarisanti turut memaparkan perjalanan selama 11 tahun pendidikan bahasa Korea di UPI. Sesi tersebut dimoderatori Dr Fadhila Hasby.
Pembahasan kemudian berlanjut pada sesi Korean Studies yang melihat hubungan Korea dan Indonesia dari perspektif sosial, politik, dan akademik.
Getar Hati PhD dari FISIP UI membawakan materi mengenai Korea-Indonesia Connection (KIC), sedangkan Dian Novikrisna dari BINUS membahas posisi Korea Selatan sebagai kekuatan menengah atau middle power.
Euis Sulastri PhD kemudian mengangkat pentingnya jaringan kemitraan akademik strategis dalam memperkuat perkembangan studi Korea di Indonesia. Sesi kedua tersebut dimoderatori Dr Rostineu.
Tidak hanya membahas perkembangan akademik, perayaan 20 tahun juga memberikan ruang bagi para alumni untuk berbagi pengalaman mengenai perjalanan karier setelah menyelesaikan pendidikan di Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI.
Melalui talkshow bertajuk “Jejak Lulusan Studi Korea: Dari Kampus ke Dunia Profesional”, sejumlah alumni menceritakan bagaimana ilmu yang diperoleh selama kuliah dapat diterapkan di berbagai bidang pekerjaan.
Talkshow yang dimoderatori Eva Latifah PhD tersebut menghadirkan Silvi Fitri Ayu, lulusan angkatan 2006 yang kini menjadi Tenaga Ahli Komisi II DPR RI sekaligus Analis Kebijakan Badan Supervisi LPS.
Hadir pula Tania Triputri, lulusan 2009 yang mendirikan dan menjadi direktur TNT Translation, serta Vania Istamitra, lulusan 2019 yang kini menjabat sebagai Head of Business Support VIUUM Eyewear.
Kisah para alumni memperlihatkan bahwa kompetensi bahasa dan kebudayaan Korea dapat membuka jalur karier yang beragam, baik di bidang pemerintahan, penerjemahan, bisnis maupun industri kreatif.
Memasuki usia 20 tahun, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UI tidak hanya melihat perjalanan masa lalu, tetapi juga menyiapkan arah baru bagi perkembangan studi Korea di Indonesia.
Penguatan jejaring 20 generasi alumni, pengembangan inovasi akademik, serta perluasan kolaborasi dengan berbagai pihak menjadi bagian dari strategi tersebut.
Langkah itu diharapkan dapat semakin memperkuat posisi FIB UI sebagai salah satu pusat studi Korea terkemuka di Indonesia.
Pada saat yang sama, keberadaan studi Korea di lingkungan perguruan tinggi diharapkan mampu memberikan kontribusi lebih luas dalam memperkuat hubungan Indonesia dan Korea Selatan yang semakin strategis.