LIFESTYLE

Akses Belum Merata, Lena Herliana Soroti Pentingnya Transportasi Inklusif

Lena Herliana mulai masuk ke sektor transportasi dengan membawa pendekatan yang tidak biasa, menggabungkan logika investasi dengan empati sosial.
Lena Herliana bersama kolega mengingatkan, bukan hanya soal jalan, rel, atau armada, transportasi publik harus menjadi ruang yang aman dan adil bagi semua. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
Lena Herliana bersama kolega mengingatkan, bukan hanya soal jalan, rel, atau armada, transportasi publik harus menjadi ruang yang aman dan adil bagi semua. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
apakabar.co.id, JAKARTA - Di tengah percepatan pembangunan infrastruktur nasional, muncul satu pendekatan yang mulai mencuri perhatian. Bukan hanya soal jalan, rel, atau armada, tetapi bagaimana transportasi publik bisa menjadi ruang yang aman dan adil bagi semua. Di balik gagasan ini, ada nama Lena Herliana.

Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) tersebut memulai kariernya bukan dari sektor transportasi, melainkan dari dunia investasi dan ekonomi pembangunan. Ia pernah berkiprah di Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin), dua organisasi yang menjadi simpul penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional.

Pengalaman itu membawanya ke panggung internasional. Lena terlibat dalam kerja sama perdagangan dengan Uni Eropa serta Kedutaan Besar Inggris di Indonesia, di mana ia berperan sebagai penasehat senior kebijakan dagang untuk kawasan Asia Pasifik. 

Dari sana, ia melihat satu persoalan yang kerap luput: mobilitas masyarakat yang belum merata.

Menurut Lena, pertumbuhan ekonomi tidak cukup hanya diukur dari angka. Akses menjadi kunci.

"Transportasi bukan sekadar infrastruktur, tapi juga ruang keadilan sosial. Setiap perempuan berhak merasa aman, nyaman, dan dihargai saat beraktivitas," ujar Lena dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (21/4). 

Pandangan itu menjadi titik balik. Lena mulai masuk ke sektor transportasi dengan membawa pendekatan yang tidak biasa, menggabungkan logika investasi dengan empati sosial.

Dalam perjalanannya, ia disebut memfasilitasi berbagai kerja sama investasi internasional, termasuk kolaborasi Indonesia–Jerman yang diklaim mencapai sekitar 60 miliar euro. Dana tersebut diarahkan untuk mendorong pengembangan transportasi massal berbasis keberlanjutan.

Salah satu hasil nyata adalah pengembangan sistem Bus Rapid Transit (BRT) terintegrasi di sejumlah wilayah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga Bali. Sistem tersebut kini melayani jutaan masyarakat setiap hari, menghadirkan akses yang lebih cepat, terjangkau, dan relatif lebih tertata.

Manfaatnya terasa langsung. Pedagang pasar lebih mudah membawa barang, mahasiswa memiliki akses yang lebih pasti ke kampus, dan pekerja bisa memangkas waktu perjalanan. Di banyak daerah, transportasi yang lebih teratur juga mulai menghidupkan kembali aktivitas ekonomi lokal.

Namun yang membuat pendekatan Lena menonjol adalah fokusnya pada kelompok rentan. Ia mendorong agar transportasi publik tidak hanya efisien, tetapi juga aman dan inklusif.

Fasilitas seperti kursi prioritas bagi lansia dan ibu hamil, ruang yang lebih aman bagi perempuan, hingga kemudahan akses bagi anak-anak menjadi bagian dari sistem yang ia dorong. Perubahan itu, meski terlihat sederhana, memberi dampak besar dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak perempuan kini merasa lebih aman menggunakan transportasi umum, lansia lebih percaya diri bepergian, dan anak-anak memiliki akses pendidikan yang lebih terjamin.

Upaya yang dilakukan Lena mendapat pengakuan dari Plan International Indonesia, organisasi yang fokus pada pemenuhan hak perempuan dan anak. Mereka menilai pendekatan Lena sebagai langkah konkret dalam mengurangi hambatan mobilitas bagi kelompok yang selama ini sering terpinggirkan.

Meski demikian, tantangan belum sepenuhnya selesai. Integrasi antarmoda di berbagai daerah masih belum merata. 

Konsistensi kebijakan antara pusat dan daerah juga kerap menjadi kendala. Di sisi lain, keberlanjutan pendanaan menjadi isu penting yang tidak bisa diabaikan.

Dalam konteks ini, gagasan besar tentang transportasi inklusif membutuhkan lebih dari sekadar proyek. Ia memerlukan komitmen jangka panjang dan pengawasan yang konsisten.

Lena sendiri masih aktif mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah, swasta, hingga mitra internasional. Ia percaya bahwa transportasi bukan hanya soal perpindahan fisik, tetapi juga akses terhadap peluang ekonomi dan pendidikan.

Di tengah pembangunan yang sering berfokus pada aspek teknis, pendekatan Lena menghadirkan perspektif berbeda. Bahwa di balik setiap infrastruktur, ada manusia dengan kebutuhan yang beragam.

Dan dari sana, transportasi publik perlahan berubah, bukan hanya menjadi alat mobilitas, tetapi juga jembatan menuju keadilan sosial.