LIFESTYLE

Banyak Tanya dan Menunda, Keraguan Orang Tua jadi Tantangan Imunisasi Anak

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Rodman Tarigan menjelaskan tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam menjelaskan pentingnya imunisasi anak kepada orang tua.
Imunisasi proses pembuatan antibodi dalam tubuh setelah pemberian vaksin untuk memperkuat sistem imun. Foto: Hello Sehat
Imunisasi proses pembuatan antibodi dalam tubuh setelah pemberian vaksin untuk memperkuat sistem imun. Foto: Hello Sehat
apakabar.co.id, JAKARTA– Seorang ibu tampak berkali-kali bertanya kepada petugas saat berada di layanan imunisasi. Wajahnya terlihat cemas. Setelah mendengar penjelasan singkat, ia belum juga maju. Ia memilih menunda, sambil terus memegang anaknya yang duduk di pangkuan.

Situasi seperti itu masih sering terjadi di berbagai posyandu dan klinik. Keraguan orang tua soal vaksin menjadi salah satu tantangan dalam upaya meningkatkan cakupan imunisasi anak.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menilai, kondisi tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh informasi yang beredar di masyarakat, tetapi juga cara komunikasi tenaga kesehatan saat memberikan edukasi.

Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. Rodman Tarigan menjelaskan tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam menjelaskan pentingnya imunisasi anak kepada orang tua.

Menurut dia, tenaga kesehatan sebenarnya sudah memiliki pengetahuan yang kuat mengenai manfaat vaksin, termasuk penjelasan terkait Kejadian Ikutan Pascaimunisasi (KIPI). Namun, cara penyampaian yang kurang tepat bisa membuat orang tua tetap ragu.

"Tenaga kesehatan punya pengetahuan yang baik soal imunisasi. Tapi cara komunikasinya harus tenang, jelas, dan bisa meyakinkan," kata Rodman dalam diskusi daring di Jakarta, Selasa (5/5).

Ia menekankan bahwa pendekatan yang empatik dapat membantu mengurangi keraguan orang tua. Banyak orang tua, kata dia, pada dasarnya ingin anaknya sehat, tetapi masih diliputi kekhawatiran.

Pengalaman di lapangan menunjukkan hal itu. Rodman pernah bertemu seorang ibu dengan sembilan anak. Empat di antaranya sempat terserang campak.

Awalnya, percakapan berjalan kaku. Sang ibu tampak ragu ketika ditanya soal imunisasi. Jawabannya singkat, seolah menutup ruang diskusi.

Namun, setelah pembicaraan dilanjutkan dengan lebih santai, perlahan alasan sebenarnya mulai muncul. Anak-anaknya belum mendapatkan imunisasi lengkap bukan karena penolakan, melainkan karena keterbatasan waktu dan kesibukan sehari-hari.

Di balik itu, tersimpan keinginan sederhana: anak-anaknya tetap sehat.

"Setelah diajak bicara, ternyata bukan menolak. Ibunya ingin anak-anaknya sehat, hanya saja belum sempat," ujar Rodman.

Dari pengalaman tersebut, ia menilai bahwa komunikasi menjadi kunci dalam meningkatkan kepercayaan orang tua terhadap vaksinasi.

Rodman mendorong tenaga kesehatan menggunakan pendekatan Motivational Interviewing (MI), yaitu teknik komunikasi yang mengedepankan empati, mendengarkan, dan tidak menghakimi.

Dengan cara ini, tenaga kesehatan dapat memahami kekhawatiran orang tua sekaligus memberikan edukasi secara bertahap.

"Jangan langsung menstigma. Dengarkan dulu kekhawatirannya. Kalau digali, orang tua sebenarnya ingin anaknya sehat," terangnya.

Selain itu, tenaga kesehatan juga diharapkan aktif menanyakan kondisi anak secara menyeluruh, termasuk riwayat kesehatan dan kunjungan ke fasilitas kesehatan sebelumnya. Hal ini penting untuk menentukan langkah imunisasi yang tepat.

Rodman menegaskan bahwa keberhasilan meningkatkan cakupan vaksinasi tidak hanya bergantung pada layanan, tetapi juga kemampuan komunikasi tenaga kesehatan.

Di tengah masih adanya keraguan orang tua soal vaksin, edukasi yang jelas dan mudah dipahami menjadi semakin penting. Imunisasi sendiri terbukti melindungi anak dari berbagai penyakit berbahaya seperti campak, polio, dan difteri.

Dengan komunikasi yang lebih baik, diharapkan semakin banyak orang tua yang yakin untuk memberikan imunisasi, sehingga anak-anak mendapatkan perlindungan sejak dini.