Forum Jurnalis Betawi Gelar Bukber dan Diskusi Program 500 Cerita Kampung Sambut 5 Abad Jakarta
Penulis:
Tim Redaksi
Minggu, 15 Maret 2026 | 09:38 WIB
Forum Jurnalis Betawi Gelar Bukber dan Diskusi Program 500 Cerita Kampung Sambut 5 Abad Jakarta. Foto: apakabar.co.id
apakabar.co.id, JAKARTA - Forum Jurnalis Betawi (FJB) menggelar buka puasa bersama (bukber), santunan anak yatim, sekaligus diskusi program penulisan 500 Cerita Kampung Betawi untuk menyambut peringatan 5 abad Kota Jakarta pada 2027.
Kegiatan yang dihadiri jurnalis Betawi, tokoh masyarakat, dan pemerhati budaya itu berlangsung di kawasan Kemandoran, Jakarta Selatan, Jumat (13/3).
Program penulisan ini direncanakan menjadi persembahan masyarakat Betawi kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjelang peringatan lima abad berdirinya Kota Jakarta pada Juni 2027.
Ketua FJB, M. Syakur Usman, mengatakan program 500 Cerita Betawi dan Jakarta digagas sebagai bentuk kontribusi masyarakat Betawi dalam momentum sejarah tersebut.
Menurutnya, masyarakat Betawi tidak ingin hanya menjadi penonton dalam perayaan lima abad Jakarta.
“Program 500 Cerita Betawi dan Jakarta digagas sebagai ikhtiar anak-anak Betawi untuk berkontribusi dalam perayaan 5 abad Kota Jakarta. Anak Betawi tidak ingin hanya menjadi penonton,” ujar Syakur dalam sambutannya.
Ia mendorong masyarakat Betawi untuk menuliskan kisah tentang kampung halamannya masing-masing, termasuk pengalaman pribadi menyaksikan perubahan lingkungan di tengah pembangunan kota.
“Sudah saatnya anak-anak Betawi menulis soal kampung-kampungnya sendiri. Menulis pengalaman di kampung yang berubah, bertumbuh, dan berkembang seiring pembangunan kota Jakarta,” kata Syakur yang pernah menjadi jurnalis di Tempo.
Syakur menambahkan, buku 500 Cerita Betawi dan Jakarta diharapkan menjadi dokumentasi penting perjalanan masyarakat Betawi sekaligus referensi bagi pembangunan Jakarta di masa depan.
“Buku ini diharapkan menjadi pondasi pembangunan kota Jakarta ke depan, sekaligus menjadi vocal point keinginan masyarakat Betawi sebagai masyarakat inti Jakarta terhadap pembangunan kotanya di masa mendatang,” ujarnya.
FJB juga mengajak berbagai pemangku kepentingan di Jakarta untuk mendukung program tersebut, mulai dari tokoh Betawi, cendekiawan, jurnalis, hingga pemerintah daerah, khususnya Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik DKI Jakarta.
Budaya Betawi Harus Tetap Jadi Identitas Jakarta
Dalam kesempatan tersebut, jurnalis senior sekaligus budayawan N. Syamsuddin Ch. Haesy menekankan pentingnya menjaga identitas budaya Betawi di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota metropolitan.
“Saya selalu meyakini bahwa budaya Betawi adalah bagian penting dari jati diri Jakarta. Di tengah perkembangan Jakarta sebagai kota metropolitan yang terus berubah, kita tidak boleh kehilangan akar budaya kita sendiri,” ujar Haesy.
Ia menilai keberadaan perkampungan budaya Betawi sangat penting sebagai ruang hidup bagi tradisi, bahasa, kesenian, dan nilai sosial masyarakat Betawi.
“Jangan sampai anak Betawi menjadi tamu di kampungnya sendiri, bahkan nyasar di tanah kelahirannya,” katanya.
Selain diskusi budaya, kegiatan bukber juga diisi dengan pemberian santunan kepada anak yatim yang diserahkan secara simbolis oleh sejumlah tokoh Betawi, antara lain Muhammad Nuh, Supli Ali, dan Ibnu Chuldun.
Turut hadir pula Beky Mardani selaku Ketua PMI Jakarta, serta maestro lukis Betawi Sarnadi Adam.
Acara kemudian dilanjutkan dengan pembagian door prize berupa tiket wahana rekreasi yang disponsori oleh PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk.