LINGKUNGAN HIDUP

Dari Hutan Ranjuri ke Kain Batik: Kisah Desa Beka Menjaga Alam Sambil Menggerakkan Ekonomi

Bagi warga Desa Beka, Hutan Ranjuri merupakan sumber kehidupan yang menjaga keseimbangan alam, budaya, dan ekonomi yang menyimpan cerita tentang pembangunan berkelanjutan yang dimulai dari langkah-langkah sederhana masyarakat.
Hutan Ranjuri merupaka benteng ekologis yang melindungi desa dari banjir bandang dan kekeringan. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
Hutan Ranjuri merupaka benteng ekologis yang melindungi desa dari banjir bandang dan kekeringan. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id
apakabar.co.id, JAKARTA - Di tengah hamparan hijau Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, terdapat sebuah hutan kecil yang mungkin tak banyak dikenal orang. Luasnya hanya sekitar sembilan hektare, jauh dari kesan megah sebuah kawasan konservasi besar. 

Namun bagi warga Desa Beka, Kecamatan Marawola, Hutan Ranjuri adalah sumber kehidupan yang menjaga keseimbangan alam, budaya, dan ekonomi masyarakat setempat. Di hutan inilah tersimpan cerita tentang bagaimana pembangunan berkelanjutan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan masyarakat. 

Hutan yang dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat adat itu kini tidak hanya menjadi sumber air dan benteng ekologis desa, tetapi juga menginspirasi lahirnya Batik Valiri. Batik khas Sigi itu hadir untuk mengangkat kekayaan alam dan budaya lokal ke dalam setiap lembar kainnya.

Bagi masyarakat Desa Beka, Hutan Ranjuri bukan sekadar kumpulan pepohonan. Kawasan itu memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan hidup warga.

Saat musim hujan datang dan banjir bandang mengancam sejumlah wilayah di Kabupaten Sigi, Hutan Ranjuri menunjukkan peran aslinya. Sebagai penyangga alami, hutan terbukti ampuh membantu mengurangi dampak bencana. 

Sebaliknya, ketika musim kemarau melanda, sumber air bersih warga tetap terjaga berkat kawasan hutan tersebut.

Secara administratif, Hutan Ranjuri berstatus sebagai hutan produktif. Namun secara sosial dan budaya, masyarakat adat memandangnya sebagai ruang sakral yang harus dijaga bersama.

Prinsip inilah yang membuat kawasan tersebut tetap lestari hingga sekarang. Setiap aktivitas yang dilakukan di dalam hutan harus melalui izin adat dan dibahas bersama para tokoh masyarakat. Tidak ada eksploitasi berlebihan yang mengorbankan kelestarian alam.

Batik Valiri khas Sigi hadir untuk mengangkat kekayaan alam dan budaya lokal ke dalam setiap lembar kainnya. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id

Inspirasi batik dari alam 
Keindahan dan kekayaan Hutan Ranjuri kemudian melahirkan inspirasi baru dalam bentuk karya seni dan produk ekonomi kreatif.

Adalah Afrianto, atau yang akrab disapa Anto, pendiri Batik Valiri, yang melihat potensi besar dari alam dan budaya Sigi. Setelah bertahun-tahun bekerja sebagai karyawan di industri batik Kota Palu, ia memutuskan mendirikan usaha sendiri pada 2019.

Menurut Anto, selama ini batik sering kali identik dengan motif-motif khas Jawa. Padahal, Sigi memiliki kekayaan budaya, sejarah, dan alam yang tidak kalah menarik untuk diangkat menjadi identitas batik daerah.

Dari situlah lahir berbagai motif khas Batik Valiri. Salah satu yang paling menonjol adalah motif Pohon Rau yang terinspirasi dari Hutan Ranjuri. 

Selain itu terdapat pula motif daun kelor, senjata tradisional guma, jejak megalitik, hingga taiganja yang memiliki makna penting dalam tradisi masyarakat Kaili.

"Setiap motif tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga menjadi media untuk menceritakan identitas dan sejarah lokal kepada masyarakat luas," ujar Afrianto dalam keterangannya di Sigi, Jumat (3/6).

Tidak hanya motifnya yang berasal dari alam, Batik Valiri juga mulai mengembangkan pewarna alami yang bersumber dari tanaman di sekitar Hutan Ranjuri.

Daun rau menghasilkan warna krem yang lembut. Daun mangga memberikan nuansa kuning kehijauan. Sementara daun jati dan ketapang mampu menghadirkan warna cokelat kemerahan hingga hitam alami.

Bagi Anto, penggunaan pewarna alami bukan sekadar inovasi produksi. Lebih dari itu, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.

"Namun proses menghasilkan warna alami tidaklah mudah," paparnya. Dibandingkan pewarna sintetis yang hanya membutuhkan satu kali pencelupan, pewarna alami memerlukan proses panjang dan penuh kesabaran.

Dari sekitar 10 kilogram daun kering, hasilnya hanya cukup untuk mewarnai lima lembar kain. Daun-daun tersebut harus direbus hingga 4 (empat) jam sebelum digunakan. 

Setelah itu, kain dicelupkan berulang kali, bahkan bisa mencapai 20 kali pencelupan agar warna benar-benar meresap sempurna.

"Kerumitan proses tersebut justru menjadi nilai tambah yang membuat setiap lembar Batik Valiri memiliki karakter dan keunikan tersendiri," kata Anto.

Proses persiapan perebusan daun pewarna alami yang diambil dari dalam Hutan Ranjuri untuk pewarnaan batik. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id

Menjaga hutan tanpa menebang
Yang menarik, bahan baku pewarna alami tidak diperoleh dengan merusak hutan. Masyarakat adat Desa Beka memiliki aturan yang ketat dalam memanfaatkan sumber daya alam. 

Mereka hanya mengambil daun-daun yang sudah gugur dari pohonnya. Tidak ada penebangan atau pengambilan bagian tanaman yang berpotensi merusak ekosistem.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan sumber daya alam dapat dilakukan secara bijak ketika masyarakat lokal diberi ruang untuk mengelola dan menjaga wilayahnya sendiri.

"Model pengelolaan ini membuktikan bahwa konservasi dan aktivitas ekonomi bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan," tegasnya.

Batik khas Sigi ini menggunakan motif yang terinspirasi dari flora, fauna, nilai budaya, dan sejarah lokal. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id

Dukungan inkubasi untuk ekonomi restoratif
Perjalanan Batik Valiri menuju usaha yang lebih berkelanjutan mendapat dukungan dari Program Inkubasi Gampiri Interaksi.

Melalui pendampingan selama delapan bulan, Batik Valiri memperoleh penguatan dalam berbagai aspek. Penguatan tersebut meliputi tata kelola kelembagaan, penyusunan standar operasional produksi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, hingga akses pasar dan permodalan.

Perwakilan Gampiri Interaksi, Nedya Sinintha Maulaning, mengungkapkan Batik Valiri sebenarnya sudah memiliki fondasi sosial dan budaya yang kuat. 

"Namun aspek lingkungan perlu diperkuat agar usaha tersebut benar-benar berjalan selaras dengan prinsip keberlanjutan," terangnya.

Salah satu bentuk dukungannya adalah pelatihan pewarna alami yang melibatkan karyawan Batik Valiri dan masyarakat desa. Mereka mempelajari teknik ekstraksi warna, proses penguncian warna menggunakan bahan alami seperti kapur sirih dan tunjung dari besi, hingga pentingnya regenerasi tanaman pewarna.

Sebagai bagian dari komitmen tersebut, dilakukan pula penanaman kembali pohon mangga, ketapang, dan jati di kawasan Hutan Ranjuri. Program adopsi pohon yang dijalankan sejak 2023 bahkan telah mencakup sekitar 50 pohon.

Kisah Batik Valiri menjadi salah satu contoh nyata praktik ekonomi restoratif di Kabupaten Sigi. Foto: Istimewa untuk apakabar.co.id

Wajah kabupaten lestari
Kisah Batik Valiri kini menjadi salah satu contoh nyata praktik ekonomi restoratif di Kabupaten Sigi. Di wilayah yang sekitar 70 persen areanya merupakan kawasan hutan itu, pemulihan alam tidak dipandang sebagai hambatan pembangunan, melainkan fondasi bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Sejalan dengan visi Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL), Batik Valiri menunjukkan bahwa pembangunan dapat berangkat dari kekuatan lokal, menjaga lingkungan, sekaligus menciptakan kesejahteraan.

Dari hutan kecil bernama Ranjuri, lahir sebuah pelajaran besar. Ketika alam dijaga, budaya tetap hidup, dan masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan, kesejahteraan tidak harus dibangun dengan mengorbankan lingkungan. 

Justru sebaliknya, kelestarian alam dapat menjadi sumber ekonomi yang berkelanjutan bagi generasi hari ini dan masa depan.