NEWS
Badan Geologi Tegaskan Video Erupsi Gunung Anak Krakatau dari Atas Kapal Hoaks, Warga Diminta Tetap Tenang
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa video yang beredar di media sosial dan diklaim sebagai rekaman erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau (GAK) dari atas kapal merupakan informasi palsu atau hoaks.
apakabar.co.id, JAKARTA - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa video yang beredar di media sosial dan diklaim sebagai rekaman erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau (GAK) dari atas kapal merupakan informasi palsu atau hoaks.
Masyarakat diminta untuk tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi serta hanya mengacu pada sumber resmi pemerintah.
Video berdurasi kurang dari 1 (satu) menit itu memperlihatkan dua orang yang merekam letusan gunung berapi disertai kilatan cahaya dari atas sebuah kapal. Rekaman tersebut kemudian menyebar luas di berbagai platform media sosial dan menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat, khususnya warga yang tinggal di wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan pihaknya telah melakukan verifikasi teknis terhadap video tersebut. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa rekaman yang beredar bukan merupakan dokumentasi aktivitas erupsi terkini Gunung Anak Krakatau.
“Setelah dilakukan verifikasi teknis, video tersebut bukan rekaman aktivitas erupsi terbaru Gunung Anak Krakatau,” kata Lana dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (5/7).
Ia mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi terkait aktivitas gunung api. Menurutnya, seluruh informasi resmi mengenai kondisi Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), serta aplikasi MAGMA Indonesia.
Lana menjelaskan bahwa berdasarkan data pemantauan terkini, Gunung Anak Krakatau memang mengalami aktivitas erupsi dalam beberapa hari terakhir. Namun, intensitasnya relatif kecil dan jauh berbeda dengan gambaran yang ditampilkan dalam video viral tersebut.
Tercatat, erupsi terjadi pada Kamis (2/7) pukul 14.05 WIB dan Jumat (3/7) pukul 11.50 WIB. Pada kedua kejadian itu, tinggi kolom abu yang teramati hanya sekitar 200 meter di atas puncak gunung.
Selain meluruskan informasi mengenai video viral, Badan Geologi juga mengklarifikasi isu lain yang berkembang di masyarakat terkait perubahan radius zona aman Gunung Anak Krakatau.
Belakangan beredar kabar bahwa jarak aman dari kawasan gunung diperluas menjadi 5 (lima) kilometer. Namun, Badan Geologi menegaskan bahwa informasi tersebut tidak sesuai dengan rekomendasi resmi yang berlaku saat ini.
Menurut Lana, status aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau Siaga. Pada level tersebut, masyarakat, wisatawan, pendaki, maupun nelayan dilarang beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat erupsi.
Larangan itu diberlakukan untuk mengantisipasi berbagai potensi bahaya vulkanik, seperti lontaran batu pijar, aliran lava, awan panas, hingga hujan abu yang dapat membahayakan keselamatan jiwa.
“Masyarakat diminta tetap mematuhi rekomendasi resmi yang telah ditetapkan pemerintah,” ujarnya.
Badan Geologi juga meminta masyarakat di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai isu yang mengaitkan aktivitas Gunung Anak Krakatau dengan potensi tsunami.
Menurut Lana, hingga saat ini masyarakat tidak perlu panik karena pemerintah terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan aktivitas vulkanik gunung tersebut.
Ia menegaskan bahwa warga dapat menjalankan aktivitas sehari-hari seperti biasa dengan tetap mengikuti arahan dari pemerintah daerah dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.
“Masyarakat maupun pemerintah daerah diharapkan selalu mengacu pada data resmi yang disampaikan melalui situs PVMBG dan aplikasi MAGMA Indonesia,” katanya.
Waspada erupsi Gunung Anak Krakatau
Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pandeglang terus meningkatkan kewaspadaan masyarakat menyusul peningkatan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang kini berstatus Level III atau Siaga.
Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Strategi BPBD Pandeglang, Acep Firmansyah, mengungkapkan pihaknya telah menyampaikan peringatan kepada masyarakat pesisir, aparatur kecamatan, hingga pemerintah desa agar tetap waspada terhadap perkembangan aktivitas vulkanik tersebut.
“Kami sudah menyampaikan peringatan waspada erupsi Gunung Anak Krakatau kepada masyarakat dan aparatur pemerintah hingga tingkat desa,” ujarnya.
Meski demikian, berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, kondisi wilayah pesisir Pandeglang masih relatif aman. Aktivitas ekonomi masyarakat juga berjalan normal tanpa gangguan berarti.
Warga tetap melakukan kegiatan jual beli di pasar, sementara pelayanan kesehatan di puskesmas dan rumah sakit tetap berlangsung seperti biasa. Situasi ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak terpengaruh secara berlebihan oleh meningkatnya aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Namun demikian, BPBD tetap mengingatkan warga untuk tidak lengah. Nelayan, wisatawan, dan masyarakat umum diminta tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau demi menghindari risiko terkena material vulkanik, terutama batu pijar yang dapat terlontar saat terjadi erupsi.
Di tengah meningkatnya kewaspadaan tersebut, sejumlah warga mengaku tetap tenang karena telah terbiasa menghadapi aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau yang berada tidak jauh dari wilayah mereka.
Suherman, seorang pedagang di Labuan, Pandeglang, menjelaskan dirinya bersama pedagang lainnya tetap menjalankan aktivitas sehari-hari secara normal. Meski demikian, kewaspadaan tetap dijaga mengingat pengalaman pahit tsunami yang terjadi pada akhir 2018 masih membekas di ingatan masyarakat.
“Kami tetap tenang, tetapi tetap waspada. Jangan sampai peristiwa tsunami 2018 terulang kembali,” katanya.
Pemerintah mengingatkan bahwa informasi yang akurat menjadi kunci dalam menghadapi bencana. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya terhadap video, foto, maupun narasi yang belum jelas sumbernya.
Dengan mengandalkan informasi resmi dan mengikuti arahan petugas, risiko kepanikan akibat hoaks dapat diminimalkan, sementara keselamatan masyarakat tetap terjaga.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK