EKBIS

Senin Ceria! Rupiah Tekuk Dolar AS hingga ke Level Rp17.859

Kabar baik berembus dari pasar keuangan domestik mengawali pekan ini. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka bergerak menguat tajam pada perdagangan Senin (29/6) pagi.
Arsip Foto - Menghitung uang rupiah. Foto: ANTARA
Arsip Foto - Menghitung uang rupiah. Foto: ANTARA
apakabar.co.id, JAKARTA — Kabar baik berembus dari pasar keuangan domestik mengawali pekan ini. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka bergerak menguat tajam pada perdagangan Senin (29/6) pagi. Sentimen positif pasar membuat mata uang Garuda berhasil menjauh dari zona merah.

Berdasarkan data perdagangan pasar spot Senin pagi, mata uang rupiah melesat naik 63 poin atau menguat sekitar 0,35 persen ke posisi Rp17.859 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pemulihan yang signifikan jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada akhir pekan lalu yang masih tertahan di level Rp17.922 per dolar AS.

Meskipun rupiah sukses mencetak penguatan di awal sesi, para pelaku pasar diimbau untuk tidak cepat berpuas diri. Pengamat pasar uang dari PT Doo Financial Futures, Ariston Tjendra, dalam analisisnya di Kontan, mengingatkan bahwa volatilitas pasar global masih sangat tinggi.

Menurut Ariston, penguatan pagi ini dipicu oleh aksi ambil untung (profit taking) para investor terhadap dolar AS setelah mata uang paman sam tersebut sempat jenuh beli (overbought) dalam beberapa hari terakhir. Di sisi lain, langkah intervensi Bank Indonesia (BI) di pasar valuta asing turut andil menjaga stabilitas mata uang lokal dari tekanan eksternal.

Namun, ada beberapa catatan penting yang wajib diwaspadai, di antaranya sentimen suku bunga. Menurut Ariston, pasar masih mencermati rilis data inflasi Amerika Serikat yang berada di level tinggi. Kondisi tersebut membuat bank sentral AS (The Fed) diprediksi masih akan mempertahankan sikap menahan suku bunga acuan tinggi lebih lama.

Faktor regional juga turut berpengaruh. Mayoritas mata uang di kawasan Asia masih bergerak variatif, menandakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap perlambatan ekonomi global belum sepenuhnya mereda.

Bagi masyarakat dan pelaku usaha, penguatan rupiah ke level Rp17.859 per dolar AS ini memberikan sedikit ruang napas, khususnya bagi industri yang bergantung pada bahan baku impor. Tekanan terhadap biaya produksi diharapkan dapat sedikit mereda jika tren positif ini terus berlanjut.

Sejumlah analis menyarankan agar investor tetap mencermati pergerakan rilis data ekonomi global sepanjang pekan ini. 

Jika sentimen eksternal membaik dan inflasi AS mulai melandai, peluang rupiah untuk kembali merangkak naik dan menjauhi level psikologis Rp18.000 terbuka lebar. Sebaliknya, jika data global kembali memburuk, rupiah berpotensi kembali tertekan di sisa hari perdagangan.