EKBIS
Kemarau Bikin BBM Langka, Warga Long Apari Rela Antre Sejak Subuh
apakabar.co.id, JAKARTA - Surutnya Sungai Mahakam akibat kemarau mulai berdampak serius terhadap pasokan kebutuhan pokok di Kecamatan Long Apari, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Distribusi logistik yang tersendat membuat stok bahan bakar minyak (BBM) menipis dan warga harus rela mengantre sejak subuh demi mendapatkan bahan bakar.
Kondisi tersebut dirasakan warga sejak Juli 2026. Selain pasokan yang terbatas, harga BBM eceran juga melonjak tajam akibat sulitnya distribusi menuju wilayah perbatasan tersebut.
Kornelius Dalung, warga Long Penaneh II, RT 01, Kecamatan Long Apari, mengatakan warga kini harus mengikuti sistem kupon yang diterapkan Agen Penyalur Minyak dan Solar (APMS).
Setiap warga hanya diperbolehkan membeli maksimal 5 liter Pertalite per hari. Untuk mendapatkan jatah tersebut, warga bahkan harus datang sejak subuh untuk mengantre kupon.
“Warga harus antre kupon yang disiapkan APMS sejak subuh, lalu antre lagi untuk menukarkan kupon dengan BBM,” kata Dalung, Rabu (12/8/2026).
Menurut Dalung, APMS setiap hari menyediakan sekitar 200 kupon bagi warga. Namun, mekanisme tersebut belum sepenuhnya berjalan lancar.
Sejumlah warga mengaku tetap tidak mendapatkan BBM meski telah mengantongi kupon. Kondisi itu terjadi karena waktu pembelian BBM baru dibuka sekitar pukul 07.00 WITA.
“Jadi setelah mendapat kupon sebagian warga pulang ke rumah karena penjualan BBM baru dibuka jam 7 pagi. Ada warga yang sudah memegang kupon ketika kembali jatah BBM dibilang sudah habis. Ini kan jadi masalah,” ujarnya.
Kelangkaan pasokan juga berdampak langsung terhadap harga BBM di tingkat pengecer. Harga Pertalite di Long Apari kini disebut mencapai Rp30 ribu per liter.
Sementara itu, harga solar bahkan telah menembus sekitar Rp50 ribu per liter.
“Saat ini harga di eceran sudah menembus Rp30 ribu per liter untuk Pertalite. Sementara solar harganya mencapai Rp50 ribuan per liter,” ungkap Dalung.
Bukan hanya BBM, warga juga mengalami kesulitan mendapatkan gas. Ketika tersedia, harganya jauh lebih mahal dibandingkan kondisi normal.
“Gas 12 kilogram sekarang sudah Rp700-800 ribu. Bahkan mungkin ada yang menjual lebih mahal,” katanya.
Dalung berharap persoalan distribusi tidak hanya ditangani dengan solusi jangka pendek. Menurutnya, pembangunan akses jalan darat menjadi kebutuhan penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur sungai.
“Kami hanya minta jalan darat dibangun, tapi faktanya sampai sekarang belum terealisasi. Kalau jalan darat sudah terhubung saya yakin kondisi seperti ini bisa diatasi,” pungkasnya.
Surutnya Sungai Mahakam menunjukkan betapa besar ketergantungan masyarakat Long Apari terhadap jalur sungai sebagai akses utama distribusi logistik. Jika kondisi kemarau dan rendahnya permukaan air terus berlangsung, keterlambatan pasokan dikhawatirkan semakin menekan ketersediaan serta harga kebutuhan dasar masyarakat.
Editor:
RAIKHUL AMAR
RAIKHUL AMAR

