NEWS
Gunung Semeru Erupsi Setinggi 1 Kilometer, Warga dan Penambang Diminta Tingkatkan Kewaspadaan
Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Senin (6/7) pagi menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 1 kilometer di atas puncak.
apakabar.co.id, JAKARTA – Gunung Semeru yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali mengalami erupsi pada Senin (6/7) pagi. Letusan gunung tertinggi di Pulau Jawa itu menghasilkan kolom abu vulkanik setinggi sekitar 1 kilometer di atas puncak, sehingga masyarakat di sekitar kawasan rawan bencana diminta meningkatkan kewaspadaan.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Yadi Yuliandi, dalam laporan tertulis menyebutkan erupsi terjadi pada pukul 05.13 WIB. Kolom letusan teramati mencapai sekitar 1 kilometer di atas puncak atau berada pada ketinggian 4.676 meter di atas permukaan laut.
“Terjadi erupsi Gunung Semeru pada pukul 05.13 WIB dengan tinggi kolom letusan teramati sekitar 1 kilometer di atas puncak,” kata Yadi di Lumajang, Senin (6/7).
Berdasarkan hasil pengamatan, kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas cukup tebal dan bergerak ke arah utara. Aktivitas erupsi tersebut juga terekam oleh alat seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter dan durasi gempa selama 167 detik.
Meski erupsi terjadi pada pagi hari, aktivitas vulkanik Gunung Semeru hingga kini masih berada pada Status Level III atau Siaga. Status tersebut menunjukkan bahwa aktivitas gunung masih cukup tinggi sehingga masyarakat diminta mematuhi seluruh rekomendasi yang telah ditetapkan oleh otoritas terkait.
Dalam rekomendasinya, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) meminta masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga jarak 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Selain itu, warga diimbau agar tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang aliran Besuk Kobokan. Kawasan tersebut dinilai berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat menjangkau hingga 17 kilometer dari puncak Gunung Semeru.
Tidak hanya itu, masyarakat juga dilarang memasuki area dalam radius lima kilometer dari kawah atau puncak Semeru. Kawasan tersebut dinilai sangat rawan terhadap bahaya lontaran material pijar yang dapat terjadi sewaktu-waktu selama aktivitas vulkanik masih berlangsung.
Pihak pengamatan gunung api juga mengingatkan warga agar mewaspadai potensi awan panas guguran, aliran lava, serta lahar yang dapat mengalir melalui sejumlah sungai yang berhulu di puncak Semeru. Beberapa jalur yang perlu mendapat perhatian antara lain Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, Besuk Sat, serta anak-anak sungai yang terhubung dengan Besuk Kobokan.
Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Lumajang memberikan perhatian khusus kepada para penambang pasir yang beraktivitas di sekitar kawasan aliran lahar Gunung Semeru. Pemerintah daerah meminta para penambang untuk lebih berhati-hati terhadap ancaman letupan sekunder dari material vulkanik yang masih menyimpan panas.
Bupati Lumajang Indah Amperawati menjelaskan bahaya di kawasan Semeru tidak hanya berasal dari erupsi maupun awan panas. Menurutnya, timbunan material vulkanik yang terbawa dari lereng gunung juga dapat menjadi ancaman serius karena masih memiliki suhu tinggi dalam jangka waktu tertentu.
Selain itu, material vulkanik yang terlihat sudah mengendap atau tidak bergerak belum tentu aman untuk didekati. Dalam kondisi tertentu, material tersebut dapat memicu letupan sekunder yang berpotensi membahayakan masyarakat, terutama para penambang yang bekerja di sekitar lokasi.
“Jangan pernah menganggap timbunan material di kawasan Semeru sepenuhnya aman. Material itu bisa saja masih panas dan dalam kondisi tertentu menimbulkan bahaya bagi masyarakat, khususnya penambang,” ujar Indah.
Menurutnya, pemahaman terhadap karakteristik material vulkanik menjadi hal yang sangat penting bagi warga yang tinggal maupun bekerja di sekitar aliran sungai yang berhulu dari Gunung Semeru.
Selain ancaman dari material panas, risiko bencana juga dapat meningkat ketika hujan turun di kawasan puncak dan lereng gunung. Curah hujan dapat menggerakkan material vulkanik yang tersimpan di sepanjang aliran sungai dan memicu banjir lahar yang membahayakan masyarakat.
Karena itu, pemerintah daerah mengimbau warga untuk terus memantau perkembangan informasi resmi terkait aktivitas Gunung Semeru. Masyarakat juga diminta tidak hanya fokus pada informasi erupsi atau awan panas, tetapi memahami risiko lain yang berasal dari material vulkanik sisa erupsi yang masih berada di sepanjang jalur lahar dan kawasan penambangan.
Dengan status Gunung Semeru yang masih berada pada Level III atau Siaga, kepatuhan terhadap rekomendasi keselamatan menjadi langkah penting untuk meminimalkan risiko korban jiwa maupun kerugian akibat aktivitas vulkanik yang sewaktu-waktu dapat meningkat.
Editor:
JEKSON SIMANJUNTAK
JEKSON SIMANJUNTAK