NEWS

Kesepakatan Lanjutan Iran-AS Dimulai, Sanksi dan Selat Hormuz jadi Kunci Negosiasi 60 Hari

Hubungan Iran dan Amerika Serikat memasuki babak baru setelah kedua negara menyelesaikan persiapan untuk tahap lanjutan perundingan tingkat tinggi yang difasilitasi Pakistan dan Qatar.
Nota kesepahaman 14 poin antara AS dan Iran berisi upaya untuk menghentikan perang dan membuka Selat Hormuz. Foto: https: iranintl.com
Nota kesepahaman 14 poin antara AS dan Iran berisi upaya untuk menghentikan perang dan membuka Selat Hormuz. Foto: https: iranintl.com
apakabar.co.id, JAKARTA – Hubungan Iran dan Amerika Serikat memasuki babak baru setelah kedua negara menyelesaikan persiapan untuk tahap lanjutan perundingan tingkat tinggi yang difasilitasi Pakistan dan Qatar. Setelah bertahun-tahun diwarnai ketegangan politik, sanksi ekonomi, hingga konflik militer, kedua pihak kini berupaya mencari jalan keluar yang lebih permanen melalui serangkaian negosiasi yang akan berlangsung dalam 60 hari ke depan.

Media Iran, Press TV, pada Selasa (23/6) melaporkan bahwa Iran, Amerika Serikat, Pakistan, dan Qatar telah menyelesaikan persiapan untuk putaran berikutnya dari perundingan yang dianggap sebagai salah satu upaya diplomatik paling penting dalam beberapa tahun terakhir.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menjelaskan perundingan mendatang akan berlangsung di bawah pengawasan sebuah komite tingkat tinggi yang melibatkan sejumlah pejabat senior dari masing-masing negara.

Menurut Gharibabadi, komite tersebut akan terdiri atas Ketua Majelis Syura Islam Iran, Menteri Luar Negeri Iran, Wakil Presiden Amerika Serikat, serta Perdana Menteri Pakistan dan Qatar. Kehadiran para pejabat tingkat tinggi itu menunjukkan keseriusan seluruh pihak dalam mencari solusi atas berbagai persoalan yang selama ini menjadi sumber ketegangan.

Untuk mempercepat proses pembahasan, para pihak juga sepakat membentuk empat kelompok kerja khusus. Masing-masing kelompok akan fokus pada isu yang berbeda, namun saling berkaitan dalam upaya normalisasi hubungan kedua negara.

Kelompok pertama akan membahas penghentian sanksi ekonomi yang selama bertahun-tahun membatasi aktivitas perdagangan dan keuangan Iran. Kelompok kedua akan menangani isu program nuklir Iran yang menjadi salah satu sumber utama perselisihan dengan Washington.

Sementara itu, kelompok ketiga akan berfokus pada rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran, termasuk kemungkinan kerja sama internasional pasca-pencabutan sanksi. Adapun kelompok keempat bertugas memantau serta memastikan seluruh kesepakatan yang dicapai dapat dijalankan secara efektif.

Nota kesepahaman jadi titik balik
Perundingan lanjutan ini merupakan tindak lanjut dari nota kesepahaman yang ditandatangani Iran dan Amerika Serikat secara jarak jauh pada 18 Juni lalu.

Dokumen tersebut mengatur penghentian konflik militer yang berlangsung sejak 28 Februari. Selain itu, kedua negara juga menyepakati sejumlah langkah penting untuk menurunkan eskalasi ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Salah satu poin utama dalam nota kesepahaman itu adalah pencabutan bertahap blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Sebagai bagian dari kesepakatan yang sama, Iran juga akan memulihkan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur laut strategis yang menjadi urat nadi perdagangan energi dunia.

Perundingan yang menghasilkan nota kesepahaman tersebut berlangsung di resor Burgenstock, Swiss, pada 21 Juni dengan Pakistan dan Qatar bertindak sebagai mediator.

Dokumen yang terdiri dari 14 poin itu juga menyerukan penghentian permanen operasi militer di berbagai wilayah konflik, termasuk Lebanon. Selain itu, kesepakatan menjamin jalur aman bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz.

Komitmen Oman di Selat Hormuz
Di tengah proses diplomasi yang sedang berlangsung, Oman turut memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas kawasan.

Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi menegaskan kembali komitmen negaranya terhadap hukum internasional dan jaminan jalur aman bebas hambatan di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan setelah pertemuan dengan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Muscat.

Menurut Albusaidi, pembahasan berfokus pada implementasi nota kesepahaman Iran-AS, khususnya ketentuan yang berkaitan dengan Selat Hormuz.

Selat Hormuz memiliki arti strategis bagi perekonomian global karena menjadi jalur utama pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju pasar internasional. Gangguan terhadap pelayaran di wilayah ini dapat memicu kenaikan harga energi dan ketidakstabilan pasar dunia.

Karena itu, komitmen Iran, Oman, Amerika Serikat, serta negara-negara mediator untuk menjaga keamanan jalur pelayaran dinilai sebagai langkah penting dalam menciptakan kepastian bagi perdagangan internasional.

Trump soroti pencairan aset Iran
Di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan gambaran mengenai kemungkinan manfaat ekonomi yang diperoleh AS apabila sanksi terhadap Iran mulai dilonggarkan.

Trump menjelaskan bahwa apabila aset-aset Iran yang saat ini dibekukan dicairkan sebagai bagian dari proses negosiasi, dana tersebut akan digunakan untuk membeli produk pertanian dari Amerika Serikat.

Menurutnya, Iran membutuhkan pasokan pangan dalam jumlah besar, termasuk jagung dan kedelai yang diproduksi oleh petani Amerika.

Pernyataan itu muncul setelah Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan AS mengeluarkan izin umum yang memungkinkan penjualan minyak mentah dan produk petrokimia Iran hingga 21 Agustus. Kebijakan tersebut telah membuka peluang impor produk terkait ke Amerika Serikat selama diperlukan untuk proses penjualan dan pengiriman.

Meski demikian, Trump belum menjelaskan secara rinci mekanisme pengawasan terhadap penggunaan pendapatan Iran dari hasil ekspor minyak. Saat ditanya mengenai kemungkinan dana tersebut digunakan untuk membangun kembali kekuatan militernya, Trump hanya mengungkapkan bahwa pemerintah akan melihat perkembangan situasi ke depan.

Ujian diplomasi dalam 60 hari
Meskipun sejumlah kemajuan telah dicapai, jalan menuju kesepakatan final masih penuh tantangan. Salah satu isu paling sensitif adalah masa depan persediaan uranium yang telah diperkaya oleh Iran dalam program nuklirnya.

Selain itu, pencabutan sanksi, pemulihan ekonomi Iran, keamanan kawasan, serta mekanisme pengawasan pelaksanaan kesepakatan juga menjadi agenda utama yang harus diselesaikan dalam masa negosiasi selama 60 hari.

Namun, keberhasilan para pihak mencapai nota kesepahaman dan membentuk struktur perundingan yang lebih formal memberikan harapan baru bagi stabilitas Timur Tengah.

Jika seluruh komitmen dapat dijalankan sesuai rencana, kesepakatan ini berpotensi menjadi titik balik penting dalam hubungan Iran dan Amerika Serikat, sekaligus mengurangi risiko gangguan terhadap perdagangan dan pasokan energi global.