1446
1446

Tim Aksi Politik Prabowo-Gibran Siapkan Implementasi Program Makan Siang Gratis dengan Libatkan Dosen Undip

Pembina Tim Aksi Politik (TAP) Prabowo- Gibran Provinsi Jawa Tengah, Bibit Waluyo, menegaskan pihaknya akan ikut mengawal program-program dari Presiden Terpilih, Prabowo Subianto ke depan. Foto: apakabar.co.id/ Fernando Fitusia

apakabar.co.id, SOLO – Pembina Tim Aksi Politik (TAP) Prabowo- Gibran Provinsi Jawa Tengah, Bibit Waluyo, menegaskan pihaknya akan ikut mengawal program-program dari presiden terpilih, Prabowo Subianto.

Mantan Gubernur Jawa Tengah itu menyebut, dirinya telah mengumpulkan sejumlah dosen dan tim ahli dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang untuk membahas implementasi dari program makan siang dan susu gratis tersebut.

“Saya bersama-sama dengan beberapa dosen dari Universitas Diponegoro menyusun konsep tata cara melaksanakannya. Tapi sampai hari ini belum selesai, nanti kalau itu saya anggap sudah selesai menjadi contoh operasionalnya itu bisa terlaksana dengan baik, akan saya laporkan ke tim di Jakarta,” ungkap Bibit di sela-sela menghadiri reuni dan silaturahmi TAP Provinsi Jawa Tengah, di The Sunan Hotel, Solo, Jawa Tengah, Minggu (12/5) malam.

Hingga pertemuan keempat, menurut Bibit, tim belum menemukan solusi yang tepat menyikapi program unggulan tersebut. Sejumlah tantangan yang dihadapi membuat penerapan program makan siang gratis terkesan sulit diwujudkan.

“Tantangannya ya sumber material, terus mendistribusikan ke tempat sasaran itu. Kalau nanti diimplementasikan ke seluruh Indonesia. Indonesia itu kan terdiri dari ribuan pulau tapi sentra-sentra yang membuat itu mayoritas kan adanya di Jawa,” jelasnya

Sehingga, jika bahan-bahan makanan tersebut dikirim dari Pulau Jawa, dikhawatirkan bisa kadaluwarsa saat tiba di lokasi tujuan. Untuk itu perlu dibuat titik-titik distribusi agar penyalurannya bisa tepat waktu, tepat sasaran dan tepat lokasi.

“Tapi ini angel (sulit) untuk diimplementasikan,” tegasnya.

Bibit juga membeberkan implementasi dari program Prabowo Gibran sembari berharap pihaknya ingin selalu dilibatkan. Hal itu diperlukan sebagai bentuk pengawasan dan monitoring terhadap program yang akan dijalankan.

Hal senada diutarakan Ketua TAP Provinsi Jateng Letjen TNI (Pur) Nugroho Widyotomo. Menurutnya, kehadiran TAP diperlukan untuk memberikan kritik dan masukan kepada pemerintahan Prabowo Gibran. Dengan demikian, koreksi terhadap kekeliruan di lapangan, bisa segera dilakukan.

“Misal nanti ada dari pemerintah pusat, Prabowo ada yang kurang, kita juga siap memberikan kritik atau masukkan. Tak hanya kritik saja, nanti kita memberikan masukan saran kalau ada yang kita mendengar di lapangan dari suara masyarakat,” ungkap Nugroho.

Nugroho juga membeberkan, jika nantinya TAP dilibatkan dalam implementasi program Prabowo Gibran, maka sebutan TAP dianggap tidak tepat. Akan lebih pas jika penyebutannya sebagai tim sumber daya manusia.

Sementara itu, mantan Ketua DPD Partai Golkar Jawa Tengah, Wisnu Suhardono, selaku tuan rumah mengutarakan bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat bagi Indonesia untuk memiliki pemimpin dari kalangan TNI. Hal itu merupakan jawaban atas segudang persoalan yang dihadapi Indonesia saat ini.

“Mengapa demikian, karena tantangan kita bukan persoalan banjir, tanah longsor, persoalan harga beras naik, persoalan harga cabai naik, kemudian persoalan jembatan putus. Itu gampang menteri PU tolong cek, menteri sosial bantu, kurang dana anggaran ibu menteri keuangan cari cadangan menyelamatkan rakyat kita,” papar Wisnu.

Menurut Wisnu yang dibutuhkan Indonesia sebagai negara yang berdaulat saat ini adalah kemampuan untuk membuat strategi yang baik, security and defence, serta peran di kawasan regional dan global. Hal itu, kata Wisnu bukan persoalan yang mudah.

Berkaca dari persoalan itu, Wisnu meyakini Prabowo memiliki kemampuan yang mumpuni untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Pengalaman dasar Prabowo di tentara dan jabatan penting yang diemban sebagai menteri pertahanan merupakan peluang besar untuk bisa menyelesaikan persoalan tersebut.

“Memiliki pendidikan luar negeri, bagus dalam bahasa Inggris. Sehingga analisa dan kesimpulannya bisa sempurna,” tandasnya.

278 kali dilihat, 1 kunjungan hari ini
Editor: Jekson Simanjuntak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *