OPINI
Energi Air dan Tanggung Jawab Keberlanjutan
Oleh: Rimun Wibowo*
Transisi energi menuju sumber yang lebih bersih, kini menjadi agenda global yang tidak bisa ditunda. Pertanyaannya bukan lagi sekadar bagaimana menghasilkan listrik dengan emisi karbon rendah, melainkan bagaimana memastikan bahwa energi tersebut tidak menciptakan persoalan baru bagi lingkungan dan masyarakat.
Dalam konteks inilah, pembangkit listrik tenaga air (PLTA) hadir sebagai solusi, sekaligus menyimpan dilema yang perlu dikelola secara bijak.
Di tengah upaya dunia mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, energi air sering dipandang sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang paling menjanjikan. Teknologi ini telah digunakan selama lebih dari satu abad dan hingga kini masih menjadi penyumbang terbesar energi terbarukan dalam sistem kelistrikan global.
Salah satu keunggulan utama PLTA adalah kemampuannya menghasilkan listrik dengan emisi karbon yang relatif rendah. Secara global, intensitas emisi pembangkit listrik tenaga air diperkirakan sekitar 24 gram CO₂e per kWh, jauh lebih rendah dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar gas yang dapat mencapai lebih dari 300 gram CO₂e per kWh.
Selain itu, PLTA juga mampu menyediakan listrik yang stabil dan fleksibel. Dalam sistem energi modern yang semakin banyak mengandalkan energi surya dan angin yang bersifat fluktuatif karena bergantung pada kondisi cuaca, PLTA berperan penting sebagai penyeimbang yang membantu menjaga stabilitas jaringan listrik.
Di Indonesia, potensi energi air sebenarnya sangat besar, diperkirakan mencapai lebih dari 75 gigawatt (GW). Hanya saja, pemanfaatannya masih tergolong rendah, baru sekitar 10 persen. Hingga 2025, kapasitas terpasang PLTA nasional berada di kisaran 6–7 GW, menjadikannya salah satu tulang punggung energi terbarukan, selain panas bumi.
Pemerintah menargetkan peningkatan kapasitas melalui pembangunan bendungan dan PLTA baru, terutama di Kalimantan dan Papua. Meski demikian, sejumlah proyek juga menghadapi tantangan, mulai dari persoalan lingkungan, keterlambatan pembangunan, hingga penolakan masyarakat lokal. Hal ini menunjukkan bahwa pengembangan energi air bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal tata kelola yang sensitif terhadap kondisi sosial dan lingkungan.
Dilema Ekologis
Di balik kontribusinya terhadap pengurangan emisi karbon, pembangunan PLTA juga membawa sejumlah konsekuensi lingkungan dan sosial yang tidak bisa diabaikan.
Bendungan skala besar dapat mengubah ekosistem sungai secara signifikan. Jalur migrasi ikan dapat terputus, aliran sedimen yang penting bagi ekosistem di wilayah hilir terganggu, dan dinamika alami sungai menjadi berubah.
Dalam beberapa kasus, pembentukan waduk juga menenggelamkan hutan maupun lahan produktif yang sebelumnya menjadi bagian dari sistem ekologis dan ekonomi masyarakat setempat.
Dari sisi sosial, pembangunan PLTA sering kali memerlukan relokasi masyarakat yang tinggal di wilayah yang akan tergenang. Bagi sebagian komunitas, perpindahan ini tidak hanya berarti kehilangan rumah, tetapi juga kehilangan sumber penghidupan serta hubungan kultural dengan tanah yang telah mereka tempati selama beberapa generasi.
Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa proyek PLTA yang tidak dikelola dengan baik dapat memicu konflik sosial yang berkepanjangan.
Standar Keberlanjutan
Situasi ini menunjukkan bahwa istilah “energi bersih” tidak selalu berarti bebas dari dampak lingkungan dan sosial. Oleh karena itu, pembangunan energi terbarukan tetap membutuhkan standar keberlanjutan yang kuat.
Salah satu kerangka global yang digunakan, saat ini adalah hydropower sustainability standard (HSS). Standar ini dirancang untuk memastikan bahwa pembangunan dan pengelolaan proyek PLTA memenuhi prinsip keberlanjutan lingkungan, sosial, dan tata kelola yang baik.
Melalui standar ini, proyek PLTA tidak hanya dinilai dari kapasitas produksi listriknya, tetapi juga dari bagaimana proyek tersebut mengelola dampak terhadap masyarakat dan lingkungan.
Penilaian mencakup berbagai aspek penting, seperti tata kelola proyek, kondisi tenaga kerja, pengelolaan kualitas air dan sedimen, perlindungan keanekaragaman hayati, hingga pemukiman kembali masyarakat terdampak serta perlindungan masyarakat adat.
Evaluasi dilakukan oleh asesor independen melalui pendekatan berbasis bukti yang mencakup analisis dokumen proyek, observasi lapangan, dan wawancara dengan berbagai pihak yang terkait dengan proyek.
Indonesia memiliki potensi energi air yang sangat besar, namun potensi tersebut juga membawa tanggung jawab untuk memastikan bahwa pengembangannya dilakukan secara hati-hati dan berkelanjutan.
Pada Maret 2026, penulis berkesempatan mengikuti Hydropower Sustainability Standard Assessor Training di Sydney, Australia. Pelatihan ini mempertemukan para profesional dari berbagai negara untuk mempelajari metodologi penilaian keberlanjutan proyek PLTA secara komprehensif.
Setelah menyelesaikan pelatihan dan lulus ujian sertifikasi, penulis menjadi salah satu asesor HSS dari Indonesia yang memiliki kompetensi untuk melakukan evaluasi keberlanjutan proyek PLTA, berdasarkan standar internasional tersebut.
Kehadiran tenaga ahli dari Indonesia dalam jaringan asesor global ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas nasional dalam memastikan bahwa pengembangan energi air tidak hanya mengejar target produksi listrik, tetapi juga memperhatikan perlindungan lingkungan dan keadilan sosial.
Pada akhirnya, transisi energi tidak boleh hanya dimaknai sebagai perubahan teknologi dari energi fosil menuju energi terbarukan. Transisi energi juga harus memastikan bahwa proses pembangunan berlangsung secara adil, transparan, dan menghormati hak-hak masyarakat.
Energi bersih tidak hanya diukur dari rendahnya emisi karbon, tetapi juga dari bagaimana energi tersebut diproduksi dan dikelola.
Jika dijalankan dengan prinsip keberlanjutan yang kuat, energi air dapat memainkan peran strategis dalam masa depan energi yang lebih hijau, berkeadilan, dan berkelanjutan.
*) Dosen Ilmu Lingkungan, Fakultas Teknik dan Sains Universitas Ibn Khaldun Bogor
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY



