OPINI
Memahami Ulang Transisi Energi sebagai Strategi Ketahanan Bisnis
Oleh: Bobby Benly*
Terlepas dari apakah konflik antara Amerika Serikat dan Iran akan mereda ataupun berlarut-larut, satu hal yang kian jelas: era ketika pelaku industri dapat bergantung pada pasokan energi yang murah dan stabil telah berakhir.
Dinamika geopolitik saat ini menjadi pengingat akan rapuhnya bisnis ketika urat nadi energi masih bergantung pada faktor-faktor di luar kendali.
Guncangan global ini menegaskan bahwa disrupsi merupakan keniscayaan baru yang harus dihadapi. Pelaku industri mesti menempatkan energi sebagai bagian strategi bisnis apabila ingin tetap tangguh menghadapi gelombang ekonomi dan geopolitik global.
Urgensi ini menjadi semakin penting di Indonesia yang menghadapi tantangan spesifik, sembari membuka peluang untuk mengurangi kebergantungan pada subsidi dan menegaskan komitmen keberlanjutan jangka panjang.
Di tengah menipisnya kapasitas energi dalam negeri, tentunya keberlanjutan bisnis pun semakin rentan. Berdasarkan laporan Institute for Essential Services Reform/IESR (2025), sejak 2024, kawasan Jawa-Madura-Bali mencatat cadangan daya (reserve margin) di bawah 30 persen, lebih rendah dari ambang minimum yang sebesar 35 persen.
Kerentanan ini semakin dirasakan di luar wilayah tersebut. Dengan ambang minimum cadangan daya sebesar 40 persen, Sumatera hanya mencatat 19 persen, Kalimantan 21 persen, dan Sulawesi 26 persen, menunjukkan angka di bawah ambang batas yang disyaratkan. Bagi pelaku industri, hal ini menunjukkan risiko keterbatasan pasokan energi yang dapat menghambat industrialisasi dan pertumbuhan sektor industri Indonesia.
Tak hanya itu, kekhawatiran terkait isu kelangkaan energi ini juga disuarakan oleh Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI). Dalam hal ini, HKI menyoroti pasokan listrik dan gas yang belum mampu mengimbangi kebutuhan sektor industri. Beberapa kawasan industri bahkan masih mengalami kendala logistik yang mempengaruhi biaya produksi dan menghambat efisiensi distribusi.
Di tengah kerentanan yang kian nyata, sayangnya, sebagian pelaku industri masih memandang energi dengan pertimbangan biaya ataupun sekadar kewajiban environmental, social and governance (ESG) semata.
Kondisi ini menegaskan bahwa transisi energi belum sepenuhnya dipahami sebagaimana mestinya yaitu sebagai sebuah langkah strategis untuk meneguhkan ketahanan bisnis di tengah disrupsi dan ketidakpastian.
Sudah saatnya cara pandang ini diperbaharui. Para pelaku industri perlu menggeser posisi transisi energi terbarukan agar masuk ke peta jalan strategis jangka panjang mereka, alih-alih hanya berada di perhitungan biaya jangka pendek atau pemenuhan kewajiban ESG.
Lebih dari itu, pergeseran cara pandang ini merupakan seruan bagi para pelaku industri untuk secara kolektif membangun masa depan Indonesia sembari memastikan bahwa pemanfaatan sumber daya alam Indonesia berjalan seiring dengan kontribusi nyata bagi keberlanjutan.
Sehingga, percepatan transisi energi semestinya dipandang sebagai investasi strategis untuk menjaga keberlanjutan bisnis dalam jangka panjang. Energi terbarukan, termasuk energi surya, angin, air, panas bumi, dan biomassa, menghadirkan kepastian pasokan yang memungkinkan dunia usaha tetap tangguh dan bertumbuh di tengah ketidakpastian yang meningkat.
Energi surya merupakan salah satu peluang besar yang siap dimanfaatkan. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), potensi nasional energi surya diperkirakan lebih dari 3.000 gigawatt (GW). Kendatipun, hingga 2025, kapasitas energi surya yang terpasang baru mencapai sekitar 1 GW.
Para pelaku industri kerap menjelaskan kesenjangan ini dengan alasan yang sama, yakni tingginya biaya investasi awal sebagai salah satu tantangan utama dalam mengadopsi energi surya.
Namun, realita kini mulai berubah ketika hambatan finansial yang selama ini dianggap momok transisi mulai dapat diatasi. Perusahaan swasta dengan kemampuan finansial yang kuat mulai memainkan peran sentralnya dalam membuka akses menuju ketahanan energi. Misalnya, melalui model bisnis zero CapEx (tanpa biaya awal) dan zero OpEx (tanpa biaya operasional), perusahaan tak lagi dihadapkan pada pilihan keberlanjutan atau pertumbuhan bisnis karena kini dapat jalan beriringan.
Meski demikian, dukungan pendanaan bukanlah satu-satunya kunci menuju jalan transisi. Kemampuan teknis yang teruji menjadi dukungan sama pentingnya agar ambisi tak hanya menjadi rencana di atas kertas.
Saat ini, pelaku usaha yang lebih progresif telah mulai merasakan manfaat dari kepastian energi ini. Namun, akselerasi ini tetap menuntut perubahan cara pandang, tak hanya dari perspektif keuntungan jangka pendek ke jangka panjang, tetapi juga dari upaya individual ke upaya kolaboratif. Untuk itu, pelaku industri perlu bekerja sama dengan mitra energi surya yang terpercaya dan berpengalaman untuk mewujudkan solusi energi surya yang relevan sekaligus berkelanjutan.
Pada akhirnya, masa depan ketahanan energi tidak akan ditentukan oleh satu pihak saja. Tujuan ini hanya dapat dicapai melalui langkah kolektif dari para pelaku usaha dan pemangku kepentingan yang bersama-sama mau menggeser cara pandang mereka terhadap transisi energi demi memastikan pasokan energi yang lebih tangguh, terlepas dari apa yang akan terjadi di masa depan.
*) Praktisi di sektor energi dengan pengalaman lebih dari satu dekade dalam pengembangan proyek, investasi, dan kemitraan strategis, khususnya di bidang energi terbarukan
Editor:
BETHRIQ KINDY ARRAZY
BETHRIQ KINDY ARRAZY