OTOTEKNO

Pasar EV Naik 68 Persen, ICMS Bahas Teknologi Mobil Listrik yang Paling Pas untuk Indonesia

Pasar EV Naik 68 Persen, ICMS Bahas Teknologi Mobil Listrik yang Paling Pas untuk Indonesia. Foto: apakabar.co.id/AS
Pasar EV Naik 68 Persen, ICMS Bahas Teknologi Mobil Listrik yang Paling Pas untuk Indonesia. Foto: apakabar.co.id/AS
apakabar.co.id, TANGERANG - Penjualan kendaraan elektrifikasi di Indonesia terus melaju dan mencatat pertumbuhan sekitar 68 persen pada semester pertama 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut membuat pangsa pasar kendaraan elektrifikasi naik dari 23 persen menjadi 38 persen, sekaligus menunjukkan semakin beragamnya pilihan teknologi yang mulai diterima konsumen Indonesia, mulai dari mobil listrik murni atau BEV, hybrid atau HEV, hingga plug-in hybrid atau PHEV.

Di tengah perkembangan tersebut, Indonesia Center for Mobility Studies (ICMS) menggelar Dialog Otomotif Nasional bertajuk “The Right Fit for Indonesia: Teknologi Elektrifikasi Seperti Apa yang Dibutuhkan Indonesia?” di ICE BSD City, Tangerang, sebagai bagian dari rangkaian GIIAS 2026.

Forum ini tidak sekadar membahas teknologi mana yang paling unggul, tetapi mengarah pada pertanyaan yang lebih mendasar, yakni teknologi elektrifikasi seperti apa yang benar-benar sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat Indonesia.

Ketua Umum ICMS, Munawar Chalil mengatakan, industri otomotif saat ini tidak lagi perlu terjebak dalam perdebatan mengenai teknologi mana yang paling baik secara parsial.

Menurutnya, tantangan yang lebih penting adalah menemukan solusi elektrifikasi yang paling relevan dengan kondisi Indonesia, termasuk kebutuhan mobilitas masyarakat.

“Yang paling krusial adalah menemukan solusi teknologi atau kombinasi teknologi yang paling relevan dengan karakteristik dan kebutuhan masyarakat Indonesia,” ujar Chalil dalam sambutannya di GIIAS 2026, Rabu (5/8).

Pertumbuhan penjualan kendaraan elektrifikasi pada semester pertama 2026 menjadi salah satu gambaran bahwa konsumen Indonesia mulai memiliki penerimaan yang semakin luas terhadap teknologi elektrifikasi.

Menariknya, pertumbuhan tersebut tidak hanya terjadi pada satu jenis teknologi.

Pengamat Kebijakan Ekonomi Perbanas, Joshua Pardede, menilai konsumen Indonesia pada dasarnya sudah mulai menentukan sendiri teknologi yang sesuai dengan kebutuhan mereka.

“Peningkatan penjualan BEV, HEV, dan PHEV secara bersamaan menunjukkan bahwa pilihan konsumen tidak semata-mata ditentukan oleh jenis teknologi yang dianggap paling canggih,” jelasnya.

Sebaliknya, konsumen cenderung mempertimbangkan pola penggunaan kendaraan, kebutuhan perjalanan, hingga karakter mobil yang sesuai dengan aktivitas sehari-hari.

Artinya, mobil listrik murni belum tentu menjadi pilihan paling tepat untuk semua konsumen, begitu pula teknologi hybrid atau plug-in hybrid.

Bagi pengguna yang mayoritas beraktivitas di perkotaan dengan jarak tempuh harian relatif terukur, BEV bisa menjadi pilihan menarik karena tidak menggunakan mesin pembakaran internal.

Sementara itu, HEV menawarkan pendekatan berbeda dengan menggabungkan mesin bensin dan motor listrik tanpa mengharuskan pengguna bergantung pada fasilitas pengisian daya eksternal.

Adapun PHEV berada di tengah-tengah karena memberikan kemampuan berkendara menggunakan tenaga listrik sekaligus fleksibilitas mesin bensin ketika dibutuhkan untuk perjalanan lebih jauh.

Perbedaan karakter tersebut membuat perkembangan kendaraan elektrifikasi di Indonesia kemungkinan tidak akan berjalan dengan satu pola teknologi saja.

Kondisi geografis Indonesia yang luas, karakter perjalanan yang beragam, kesiapan infrastruktur pengisian daya, hingga kemampuan ekonomi konsumen menjadi sejumlah faktor yang perlu diperhitungkan dalam menentukan arah elektrifikasi nasional.

Pandangan tersebut turut diperkuat melalui diskusi panel yang menghadirkan perwakilan prinsipal otomotif asal Jepang, Philardi Sobari, serta prinsipal asal Tiongkok, Ricky Christian, Constantinus Herlijoso, dan Arie Hermawan.

Diskusi tersebut membahas bagaimana industri dapat menghadirkan teknologi elektrifikasi yang tidak hanya menarik dari sisi produk, tetapi juga relevan dengan kebutuhan konsumen dan kondisi pasar Indonesia.

Dengan pertumbuhan pasar elektrifikasi yang semakin cepat, ICMS menilai pembahasan mengenai teknologi kendaraan masa depan perlu berjalan beriringan dengan perkembangan industri dan kebutuhan masyarakat.

Forum tersebut diharapkan dapat memperkaya perspektif mengenai arah elektrifikasi Indonesia sekaligus mendorong lahirnya kebijakan dan strategi industri otomotif yang lebih adaptif, kompetitif, dan berkelanjutan.