EKBIS

35.000 Koperasi Merah Putih Dikejar, Jangan Cuma Jadi Bangunan

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan ditemui usai mengunjungi Koperasi Desa Merah Putih di Menuran, Baki, Selasa, (13/10/2026). Foto: apakabar.co.id/Nando
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan ditemui usai mengunjungi Koperasi Desa Merah Putih di Menuran, Baki, Selasa, (13/10/2026). Foto: apakabar.co.id/Nando
apakabar.co.id, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan keberhasilan Koperasi Merah Putih bukan sekadar soal jumlah bangunan. Koperasi harus beroperasi, menyediakan kebutuhan warga, dan memberi manfaat nyata bagi ekonomi desa.

Zulkifli Hasan menyatakan sebanyak 35.000 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih ditarget terbentuk hingga akhir 2026.  Pemerintah akan terus mempercepat persiapan Koperasi Merah Putih. Lebih dari 29.000 manajer telah ditempatkan untuk mendukung pengelolaan koperasi di berbagai daerah.

“Yang sudah siap sekitar 27.000, insyaallah sampai akhir tahun bisa menjadi 35.000. Manajernya juga sudah dikirim dan ditempatkan lebih dari 29.000,” kata Zulkifli ditemui usai mengunjungi Koperasi Desa Merah Putih di Menuran, Baki, Selasa, (13/10/2026).

Zulkifli mengingatkan pembangunan fisik bukan satu-satunya tolok ukur keberhasilan koperasi. Keberadaan koperasi harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa.

“Bangunan saja tidak cukup. Koperasi ini harus dirasakan oleh masyarakat desa. Kebutuhan mereka harus terpenuhi dengan tepat sasaran,” ujarnya.

Menurut Zulkifli, Koperasi Merah Putih dirancang bukan sekadar sebagai warung atau toko, melainkan sebagai infrastruktur pemerintah untuk melayani kebutuhan masyarakat di tingkat desa.

Melalui koperasi, pemerintah ingin mendekatkan akses masyarakat terhadap barang bersubsidi dan berbagai program bantuan.
 Zulkifli menyebut pupuk bersubsidi, LPG 3 kilogram, bantuan pangan, bantuan pendidikan, hingga Program Keluarga Harapan (PKH) sebagai bagian dari layanan pemerintah yang ingin diperkuat melalui koperasi sesuai mekanisme masing-masing program.

Ia juga meminta pemerintah daerah ikut mengawasi pelaksanaan program tersebut, termasuk memeriksa ketersediaan barang bersubsidi di koperasi.

“Saya sudah membuat surat edaran agar gubernur dan bupati mengecek keberadaan koperasi ini, termasuk apakah barang-barang bersubsidi sudah sampai atau belum,” katanya.

Selain mendukung pelayanan masyarakat, koperasi diharapkan menjadi penggerak perekonomian desa. Salah satu caranya melalui peran sebagai pembeli hasil produksi petani atau offtaker, sehingga hasil pertanian memiliki akses pasar.

Zulkifli mencontohkan koperasi dapat membeli hasil produksi petani sesuai mekanisme dan harga yang ditetapkan pemerintah, sebelum hasil tersebut diserap oleh Bulog. Dengan begitu, petani diharapkan memperoleh nilai tambah dari hasil produksinya.

Koperasi juga dirancang menjadi tempat pemasaran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sekaligus menyediakan akses layanan keuangan dan pembayaran bagi masyarakat.

“Produk UMKM bisa dipamerkan di sini dan nantinya terhubung dengan jaringan di seluruh Indonesia. Masyarakat juga bisa mengakses layanan perbankan melalui koperasi,” ujarnya.

Meski demikian, Zulkifli mengakui pengembangan koperasi membutuhkan proses dan tidak seluruh fasilitas dapat langsung berjalan sempurna.

“Ini membutuhkan waktu, usaha, kerja keras, dan kebersamaan. Mengubah masyarakat agar lebih berjiwa wirausaha juga tidak mudah, perlu proses,” katanya.
Ia berharap Koperasi Merah Putih dapat menjadi pusat kegiatan ekonomi desa dan membuka peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan usaha tanpa harus selalu merantau ke kota.

Di sisi lain, Rini, warga Menuran RT 3/RW 1, mengakui harga sejumlah kebutuhan pokok di Koperasi Merah Putih lebih murah dibandingkan di sejumlah minimarket.

Ia menyebut Minyakita dijual Rp15.000, sedangkan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sekitar Rp58.000.

“Ini sangat membantu, terutama bagi masyarakat desa yang penghasilannya tidak menentu,” ujar Rini.

Meski begitu, ia menilai pilihan produk kebutuhan sehari-hari masih terbatas. Sejumlah barang, seperti sabun dan sampo, belum memiliki banyak pilihan merek. Sementara kopi dan teh belum tersedia saat ia berbelanja.

Rini berharap pengelola menambah variasi produk dan memperpanjang jam operasional koperasi hingga pukul 21.00 WIB agar masyarakat lebih mudah memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Pengalaman warga tersebut menjadi salah satu tantangan pengembangan Koperasi Merah Putih. Target pembentukan puluhan ribu unit perlu diikuti kesiapan operasional, kelengkapan barang, dan pelayanan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.