OPINI

Fondasi Humanis dan Digital dalam Pendidikan Bermutu

Guru memberikan pelajaran saat kegiatan belajar mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Mathla'ul Anwar Hayatul Jadidah, Desa Margamulya, Lebak, Banten, Sabtu (26/7/2025). Foto: ANTARA
Guru memberikan pelajaran saat kegiatan belajar mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Mathla'ul Anwar Hayatul Jadidah, Desa Margamulya, Lebak, Banten, Sabtu (26/7/2025). Foto: ANTARA
Oleh: Unu Nurahman*

Pesatnya perkembangan teknologi digital telah membawa dampak signifikan terhadap pendidikan.

Pendidikan bermutu untuk semua yang diusung oleh Kementerian Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) dituntut untuk menghasilkan lulusan yang memiliki karakter kuat dalam menghadapi tantangan globalisasi, yaitu lulusan yang memiliki keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kemandirian, kolaborasi, kesehatan dan komunikasi.

Oleh karena itu, peningkatan mutu pendidikan menjadi agenda strategis yang harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

Memasuki era 81 tahun Indonesia merdeka, transformasi pendidikan terus dilakukan melalui berbagai kebijakan yang berorientasi pada peningkatan kualitas pembelajaran.

Salah satu yang kini menjadi fokus adalah Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) yang diintegrasikan dengan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA). Kombinasi antara Pembelajaran Mendalam dan KKA diyakini mampu menjadi pengungkit (leverage) dalam meningkatkan mutu pendidikan.

Selama bertahun-tahun, proses pembelajaran di banyak sekolah masih didominasi oleh aktivitas hapalan dan pemahaman dasar materi serta mengejar penyelesaian target kurikulum. Model pembelajaran permukaan (surface learning) seperti ini sering kali menghasilkan pemahaman yang dangkal sehingga peserta didik kesulitan menerapkan konsep yang dipelajari ketika menghadapi persoalan nyata.

Pembelajaran Mendalam dengan filosofi pembelajaran yang memuliakan murid dan pola pikir bertumbuh (growth mindset) hadir sebagai pendekatan yang menggabungkan aspek intelektual, emosional, spiritual, dan fisik dalam proses belajar serta berprinsip pada penciptaan pengalaman belajar yang berkesadaran (mindful learning), memberikan makna nyata bagi siswa (meaningful learning), dan mewujudkan suasana belajar yang menyenangkan (joyful learning).

Semuanya dikemas dalam kerangka pembelajaran yang terdiri dari praktik pedagogik, lingkungan pembelajaran, pemanfaatan digital dan kemitraan pembelajaran.

Dalam pelaksanaannya, pembelajaran mendalam bertumpu pada tiga pengalaman belajar, yaitu memahami (mengonstruksi pengetahuan agar dapat memahami secara mendalam konsep atau materi), mengaplikasikan (menerapkan pengetahuan dalam kehidupan secara kontekstual) dan merefleksi (mengevaluasi dan memaknai proses pembelajaran).

Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, melainkan berperan sebagai fasilitator yang menyediakan akses dan kesempatan belajar bagi murid sesuai dengan kebutuhan dan memberikan ruang untuk menciptakan strategi belajarnya sendiri.

Murid diberi kesempatan untuk bertanya, berdiskusi, melakukan investigasi, mengembangkan proyek, hingga mempresentasikan hasil belajarnya.

Guru harus menjadi pendamping yang memberikan dukungan dan bimbingan bagi murid dalam proses belajar serta mendorongnya untuk membangun pengetahuan secara aktif dengan memanfaatkan berbagai sumber belajar.

Keteladanan guru ditunjukkan melalui perilaku mulia, sikap terbuka, menghargai dan bersedia bekerja sama dengan murid dalam proses pembelajaran.

Lompatan Futuristik 

Kemajuan teknologi digital telah melahirkan berbagai inovasi yang mengubah cara manusia bekerja dan belajar. Koding serta Kecerdasan Artifisial (Artificial Intelligence/AI) merupakan dua bidang yang semakin penting untuk dikenalkan sejak jenjang pendidikan dasar dan menengah.

Koding bukan sekadar kemampuan membuat program komputer, melainkan sarana untuk melatih peserta didik berpikir logis, sistematis, dan terstruktur. Saat menyusun algoritma, peserta didik belajar memecahkan masalah melalui langkah-langkah yang runtut sehingga kemampuan berpikir komputasional berkembang secara alami.

Sementara itu, kecerdasan artifisial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, mulai dari mesin pencari, penerjemah bahasa, sistem rekomendasi, hingga aplikasi pembelajaran.

Dalam konteks pendidikan, AI dapat dimanfaatkan untuk membantu peserta didik mencari referensi, menganalisis data, membuat simulasi, memperoleh umpan balik secara cepat, bahkan mengembangkan ide-ide kreatif.

Namun demikian, penggunaan AI tidak boleh mengurangi kemampuan berpikir peserta didik. AI harus diposisikan sebagai alat bantu (learning partner), bukan sebagai pengganti proses berpikir manusia.

Oleh sebab itu, literasi digital dan etika penggunaan teknologi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari implementasi KKA di sekolah.

Pembelajaran Mendalam dan KKA memiliki keterkaitan yang sangat erat. Keduanya sama-sama mendorong peserta didik untuk aktif membangun pengetahuan, menyelesaikan masalah, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.

Teknologi menjadi media yang memperkaya pengalaman belajar sehingga peserta didik mampu memahami konsep secara lebih mendalam.

Strategi

Keberhasilan implementasi pembelajaran mendalam dan KKA akan tercermin dalam 3 aspek, yaitu keunggulan belajar murid yang meliputi dimensi budaya dan capaian belajar, keunggulan mengajar guru dan kepemimpinan kepala sekolah.

Keunggulan mengajar guru terkait dengan dimensi mengajar secara efektif, asesmen otentik dan berkeadilan, serta pengembangan diri.

Sedangkan kepemimpinan kepala sekolah memiliki dimensi kepemimpinan pembelajaran mendalam, pengelolaan sumber daya, kemitraan dan ekosistem serta pemanfaatan teknologi digital.

Implementasi Pembelajaran Mendalam dan KKA akan memberikan dampak nyata apabila didukung oleh strategi yang terencana seperti meningkatkan kompetensi guru, membangun budaya belajar yang kolaboratif di sekolah, dan menyediakan infrastruktur digital, termasuk akses internet, perangkat komputer, serta platform pembelajaran yang mendukung integrasi teknologi.

Selain itu, asesmen pembelajaran berbasis teknologi perlu dikembangkan sehingga tidak hanya mengukur hasil akhir, tetapi juga menjadi alat untuk memantau perkembangan proses belajar peserta didik secara adil dan transparan.

Di sisi lain, pengawas sekolah memegang peranan penting. PermenPAN-RB Nomor 7 tahun 2026 tentang Jabatan Fungsional di Bidang Pendidik dan Pengawasan Mutu Pendidikan menjelaskan bahwa pengawas sekolah melakukan kegiatan pengawasan manajerial dan pengawasan akademik melalui pemantauan, penilaian, dan pembinaan serta penguatan pendidikan karakter pada Satuan Pendidikan formal.

Melalui analisis Rapor Pendidikan, hasil asesmen TKA, observasi pembelajaran, serta refleksi guru, pengawas sekolah dapat mengidentifikasi area yang perlu diperbaiki. Selanjutnya dilakukan pemantauan, supervisi akademik, coaching, dan evaluasi berkelanjutan agar implementasi pembelajaran mendalam dan KKA berjalan secara efektif. Pendekatan ini menjadikan pengawas bukan sekadar evaluator, tetapi mitra strategis dalam membangun budaya belajar yang berkualitas.

Refleksi

Implementasi Pembelajaran Mendalam dan KKA tentunya tidak terlepas dari berbagai tantangan. Kesenjangan kompetensi digital guru, keterbatasan perangkat teknologi, akses internet yang belum merata, serta resistensi terhadap perubahan masih menjadi persoalan di berbagai sekolah.

Selain itu, penggunaan AI yang tidak bijaksana dapat memunculkan masalah baru, seperti plagiarisme, ketergantungan terhadap teknologi, serta berkurangnya kemampuan berpikir mandiri peserta didik.

Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, orang tua, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat menjadi faktor penting dalam mengatasi berbagai tantangan tersebut. Peningkatan mutu pendidikan merupakan proses yang memerlukan komitmen bersama serta keberanian untuk melakukan perubahan.

Esensi dari peningkatan mutu pendidikan: bukan sekadar meningkatkan angka-angka capaian, tetapi membangun ekosistem pembelajaran yang menghasilkan manusia pembelajar sepanjang hayat (lifelong learners), siap menghadapi perubahan, dan mampu menciptakan masa depan yang lebih baik melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan karakter yang unggul.

*) Pengawas SMA KCD Wilayah IX Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Dosen FIB Universitas Sebelas April Sumedang