EKBIS

Menperin Upayakan Gangguan Suplai Plastik Tak Bebani IKM

Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: Antara
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita. Foto: Antara
apakabar.co.id, JAKARTA - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan pemerintah berupaya menjaga stabilitas pasokan plastik agar tidak membebani industri kecil menengah (IKM) di tengah ancaman kelangkaan bahan baku global.

Agus menerangkan persoalan utama dalam ketersediaan bahan baku saat ini tidak hanya terkait pasokan, tetapi juga harga (pricing). Oleh karena itu, pemerintah akan mengambil langkah untuk menekan beban biaya dari pelaku IKM. Ia menegaskan pemerintah akan menjaga ketersediaan plastik, sembari melakukan pendekatan kepada produsen agar dapat menyesuaikan margin keuntungan, terutama untuk memasok kebutuhan industri kecil.

“Untuk berkaitan dengan plastik, saya akan melakukan pendekatan dengan para produsen, khususnya untuk kita melayani industri kecil-industri kecil, agar mereka bisa mengurangi margin. Sehingga berkaitan dengan pricing yang akan dikenakan pada industri kecil, itu tidak akan membebani dari jalan atau pengembangan industri kecil yang ada di Indonesia,” kata Agus di Jakarta, Rabu (15/4).

Selain menjaga harga, pemerintah juga terus mencari alternatif sumber pasokan guna memastikan keberlanjutan produksi industri nasional.

“Jadi suplai, berkaitan dengan kuantitas, pemerintah akan terus-menerus mencari subtitusinya seperti apa, tapi kami akan melakukan koordinasi kepada supplier dari plastik itu, khususnya untuk industri kecil dan industri-industri lain, kalau mungkin masih ada space-nya untuk mengurangi margin,” ujarnya.
Terkait bahan baku plastik, nafta yang sebagian besar masih bergantung pada impor dari Timur Tengah, ia menyampaikan pemerintah tengah menjajaki peluang kerja sama dengan negara lain sebagai sumber alternatif pasokan.

Ia menambahkan bahwa calon mitra potensial dapat dilihat dari negara-negara produsen nafta global yang memiliki kapasitas untuk memasok kebutuhan Indonesia.

Agus menekankan bahwa kelangkaan bahan baku seperti nafta bukan hanya dialami Indonesia, melainkan juga menjadi isu global yang memicu persaingan antarnegara dalam mendapatkan pasokan.

“Kita harus bisa memahami juga bahwa bukan hanya Indonesia yang menghadapi scarcity dari plastik, nafta, tapi seluruh dunia. Nah itu maka ada kompetisi tersendiri bagi negara-negara, bagi pelaku usaha untuk mendapatkan suplai dari plastik tersebut,” tutur Agus.
Ia pun mendorong pelaku industri untuk lebih adaptif dalam menyusun strategi pengadaan bahan baku, termasuk memanfaatkan peluang pasokan yang tersedia di pasar internasional.

“Jadi perusahaan-perusahaan harus bisa merumuskan rencana kerja berkaitan dengan plastik. Kalau ada ketersediaan plastik yang dijual di luar negeri, ambil aja,” katanya.

Di sisi lain, Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmaja mengungkapkan bahwa sebagian pelaku industri telah memperoleh pasokan dari Malaysia.

“Dari anggota kita yang saya dengar, mereka sudah mendapatkan sebagian kecil dari Petronas, dari Malaysia,” ujarnya.